Foto Gus Dur kecil dan Gus Dur Dewasa.(Dokumen tokoh sejarah)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Nama Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, hingga kini tetap harum di Indonesia maupun mancanegara.
Tokoh yang pernah tiga periode memimpin PBNU ini dikenal sebagai pemikir besar, humoris, sekaligus pembela kemanusiaan lintas batas.
Namun, sedikit yang tahu bahwa perjalanan hidup Gus Dur sebagai tokoh bangsa berawal dari masa kecil yang penuh kenakalan, kecerdasan, dan keberanian yang tidak biasa.
Lahir di Denanyar, Jombang, pada hari ke-4 bulan ke-8 tahun 1940 menurut kalender Hijriah, Gus Dur merupakan putra pasangan ulama besar KH Wahid Hasyim dan Nyai Solichah Bisri.
Nama lahirnya adalah Abdurrahman Addakhil yang berarti Sang Penakluk, namun kemudian diganti menjadi “Wahid”. Dunia lalu mengenalnya dengan panggilan akrab: Gus Dur.
Masa Kecil yang Tak Pernah Diam
Sejak balita, Gus Dur dikenal hiperaktif, penuh energi, dan sering membuat onar. Bahkan, karena tingkah lakunya yang kelewat batas, sang ayah yang dikenal penyabar pernah mengikatnya di tiang bendera sebagai bentuk hukuman.
Keluarga mereka beberapa kali berpindah rumah mengikuti tugas KH Wahid Hasyim sebagai tokoh Masyumi dan Menteri Agama, mulai dari Jombang–Jakarta dan kembali lagi.
Dua Kali Patah Tulang Sebelum Remaja
Kelincahan Gus Dur kecil sempat berujung pada insiden serius. Pada usia 12 tahun, ia dua kali mengalami patah tulang lengan.
– Pertama, terjatuh dari pohon setelah dahan yang dipijaknya patah.
– Kedua, ia memanjat pohon sambil makan, tertidur, lalu jatuh.
Cedera kali ini lebih parah karena tulangnya menonjol keluar. Dokter bahkan sempat khawatir tangannya tidak bisa diselamatkan.
Namun, setelah mendapatkan perawatan intensif, lengannya berhasil dipulihkan. Meski begitu, kejadian tersebut tidak membuatnya jera. Ia tetap aktif dan ceroboh, seolah hidup tanpa rasa takut.
Pendidikan: Sering Bolos, Tidak Naik Kelas, Namun Rakus Membaca
Saat bersekolah di SMEP, Gus Dur pernah tidak naik kelas. Alasannya sederhana: ia sering bolos dan merasa tidak menemukan teman yang bisa mengikuti pola pikirnya.
Anehnya, bolosnya bukan ke tempat hiburan, melainkan ke perpustakaan umum. Ia menghabiskan waktu membaca atau bermain bola.
Karena kelakuannya, sang ibu akhirnya memindahkannya ke Ponpes Krapyak di Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Maksum. Namun aturan ketat pesantren membuat Gus Dur tidak betah. Ia meminta izin tinggal di luar pesantren dan akhirnya kos di Kauman, di rumah tokoh Muhammadiyah Haji Djunaid sahabat ayahnya. Justru di lingkungan tersebut, Gus Dur semakin tekun belajar.
Maniak Buku Sejak Kecil
Di usia 10 tahun, Gus Dur sudah membaca buku-buku filsafat, sastra, sejarah, hingga cerita silat. Ibunya sering menegurnya karena khawatir matanya rusak, dan benar sejak kecil ia sudah memakai kacamata yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Perpustakaan ayahnya ludes ia baca, perpustakaan umum menjadi tempat favoritnya.
Benih Pembangkang: Kritis dan Berani Sejak Dini
Kecerdasan, keberanian, dan pikiran liar Gus Dur kecil membentuk karakter kritis yang mewarnai kehidupannya sebagai tokoh bangsa. Di era Orde Baru, ia dikenal sebagai pengkritik keras ketidakadilan dan kerap membuat penguasa gelisah.
Ancaman keselamatan berkali-kali menghampiri, namun seperti masa kecilnya, Gus Dur tidak pernah mundur. Ia tetap berdiri tegak, berani, dan konsisten memperjuangkan kemanusiaan.
Dengan segala kenakalan, kejeniusannya, hingga keberaniannya, masa kecil Gus Dur menjadi fondasi lahirnya seorang pemimpin besar yang dikenang dan dicintai hingga kini.*red
