Kapolres Mojokerto AKBP Dr. Raden Erik Bangun Prakasa, S.H., S.I.K., M.M., bersama Wakil Bupati Mojokerto dr. Muhammad Rizal Octavian saat pengecekan kesiapan sarana prasarana penanggulangan bencana usai Apel Gelar Pasukan di Lapangan Mapolres Mojokerto. (suaraharianpagi.id/ds)
Mojokerto – suaraharianpagi.id
Mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi menjelang musim penghujan 2026–2027, Polres Mojokerto bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan stakeholder terkait menggelar Apel Gelar Pasukan di Lapangan Mapolres Mojokerto.
Apel dipimpin langsung Kapolres Mojokerto AKBP Dr. Raden Erik Bangun Prakasa, S.H., S.I.K., M.M., dan dihadiri Wakil Bupati Mojokerto dr. Muhammad Rizal Octavian, Wakil Ketua DPRD H. Arif Winarko, pejabat utama Polres Mojokerto, serta para Kapolsek jajaran.
Sejumlah unsur terkait turut hadir, di antaranya perwakilan Dandim 0815/Mojokerto, Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Satpol PP, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, DPRKP2, Administratur Perhutani KPH Pasuruan, serta relawan PMI Kabupaten Mojokerto.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan pengecekan kesiapan personel dan sarana prasarana penanggulangan bencana. Pemeriksaan meliputi kendaraan dinas, perahu karet, perlengkapan evakuasi, serta peralatan pendukung lainnya untuk memastikan seluruh fasilitas dapat digunakan saat kondisi darurat.
Dalam amanatnya, Kapolres Mojokerto menyoroti data kejadian bencana di Jawa Timur sepanjang 2026. Tercatat sebanyak 672 kejadian bencana yang mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, 55 orang mengalami luka-luka, serta kerugian materiil mencapai Rp7,552 miliar.
“Data ini harus menjadi alarm bagi kita semua. 672 kejadian, 28 meninggal dunia, kerugian Rp7,5 miliar. Kita tidak boleh menganggap enteng bencana. Satu nyawa pun sangat berharga bagi kita,” tegas AKBP Erik.
Ia juga mengingatkan prediksi BMKG terkait musim hujan 2026–2027 yang diperkirakan datang lebih lambat, tetapi berpotensi disertai cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena wilayah hukum Polres Mojokerto telah memasuki masa pancaroba sejak akhir Oktober 2026, dengan kondisi cuaca berupa hujan ringan hingga hujan disertai petir.
“BMKG sudah memprediksi musim hujan datang lebih lambat tapi potensi cuaca ekstrem meningkat. Kita sudah masuk pancaroba. Ini momentumnya kita siapkan semuanya, jangan sampai kita underestimate,” ujarnya.
Kapolres menegaskan, penanganan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh unsur. Polri bersama TNI, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya harus mampu hadir memberikan perlindungan serta pelayanan kepada masyarakat ketika bencana terjadi.
“Negara harus hadir untuk memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat. Kita sebagai representasi negara harus mampu menanggulangi dan meminimalisir dampak yang diakibatkan bencana. Kita semua tidak ingin ada yang menjadi korban,” ungkapnya.
Karena itu, ia meminta seluruh instansi memperkuat sinergi dan koordinasi dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Menurutnya, penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja, melainkan membutuhkan kerja sama yang terencana dan kesiapan seluruh unsur.
“Kita harus bekerja sama untuk hadir di tengah-tengah masyarakat, bersinergi, dan berkolaborasi demi menjalankan tugas kemanusiaan ini. Tanggung jawab ini hanya bisa terwujud apabila kita mempersiapkan segala sesuatu secara maksimal,” imbuhnya.
Untuk memastikan kesiapan di lapangan, Kapolres memerintahkan seluruh jajaran melakukan pemetaan wilayah rawan bencana bersama stakeholder. Ia juga meminta penguatan koordinasi dan jalur komunikasi serta pembentukan posko kesiapsiagaan agar setiap laporan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat.
Selain kesiapan peralatan, kondisi personel juga menjadi perhatian. Seluruh petugas diminta berada dalam kondisi prima dan dilengkapi alat pelindung diri (APD) saat menjalankan tugas evakuasi maupun penanganan bencana.
“Pastikan seluruh personel dalam kondisi prima serta dilengkapi APD, karena keselamatan petugas sama pentingnya dengan keselamatan masyarakat yang dilindungi. Jangan sampai kita menolong tapi kita justru menjadi korban,” pesannya.
Secara khusus, Kapolres meminta jajarannya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang, petir, banjir, dan tanah longsor. Wilayah dataran tinggi seperti Pacet, Trawas, dan Gondang menjadi perhatian karena memiliki potensi kerawanan longsor.
Menutup amanatnya, AKBP Erik mengingatkan seluruh personel agar menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan profesionalisme. Kesiapsiagaan seluruh unsur diharapkan mampu meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian materiil saat bencana terjadi.
“Jalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan profesionalisme. Kita hadir untuk melindungi masyarakat Mojokerto. Semoga Tuhan melindungi setiap langkah pengabdian kita,” pungkasnya.
Melalui apel gelar pasukan ini, Polres Mojokerto bersama Forkopimda dan stakeholder terkait memperkuat kesiapan personel, peralatan, serta mekanisme koordinasi dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim penghujan 2026–2027.




