Warga di lokasi Rencana pembangunan SPAM di sumber wadon.(suaraharianpagi.id/ich)
Malang – suaraharianpagi.id
Rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) oleh Perumda Tirta Kanjuruhan di Sumber Wadon, Desa Putuk Rejo, Kecamatan Gondanglegi, menuai penolakan dari warga setempat.
Warga menilai proyek tersebut berpotensi mengurangi debit air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan utama masyarakat. Penolakan itu terungkap saat sejumlah awak media mendatangi lokasi pada Sabtu (4/10).
Beberapa warga menyampaikan keberatan mereka karena merasa tidak pernah diajak berdiskusi secara menyeluruh.
“Kami tetap menolak rencana ini. Air dari Sumber Wadon bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tapi juga untuk pertanian dari hulu hingga hilir. Kalau debitnya berkurang, masyarakat pasti dirugikan,” ujar salah satu warga.
Mereka juga mengungkapkan adanya pengalaman pahit di masa lalu. Sekitar tahun 1980-an, PDAM pernah membangun tandon air di lokasi tersebut, namun pelayanan tidak bertahan lama dan akhirnya ditinggalkan.
Warga bahkan sempat bergantung pada air sungai sebelum kemudian mendapatkan bantuan proyek WSLIC (Water and Sanitation for Low Income Community) yang dikelola dalam bentuk Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPAM).
“WSLIC ini sudah puluhan tahun berjalan. Tarifnya terjangkau, bahkan bisa membantu kebutuhan sosial, seperti membebaskan biaya untuk tempat ibadah dan memberikan bantuan beras bagi warga kurang mampu. Kalau sumber air diambil PDAM, kami khawatir semua itu hilang,” jelas warga lainnya.
Ketua HIPAM WSLIC Desa Putuk Rejo, H. Abd Rosyid, juga menegaskan hal serupa. Ia meminta Perumda Tirta Kanjuruhan melakukan sosialisasi secara terbuka dan jujur kepada seluruh warga.
“Kalau memang ingin ambil air dari sini, PDAM harus menyampaikan langsung kepada masyarakat. Apa keunggulannya, apa manfaatnya. Jangan tiba-tiba sudah ada surat perintah kerja tanpa komunikasi yang jelas,” tegasnya.
Menurutnya, HIPAM WSLIC yang berdiri sejak 2007 kini telah melayani sekitar 3.000 sambungan rumah di sejumlah desa. Meski statusnya binaan PDAM, hingga kini HIPAM berjalan mandiri tanpa pendampingan intensif dari perusahaan daerah tersebut.
“Kalau dulu PDAM konsisten memenuhi kebutuhan warga, saya yakin WSLIC tidak akan ada di Putuk Rejo. Faktanya, warga pernah ditinggalkan dan kesulitan air bersih. Itu yang membuat kami khawatir hal serupa terulang kembali,” pungkasnya. *ich
