Acara puncak peringatan hari pers nasional (HPN) 2026 PWI Jatim yang berlangsung di Dyandra Convention Center, Surabaya.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Surabaya – Suaraharianpagi.id
Puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berlangsung meriah di Dyandra Convention Center, Surabaya, Kamis (16/4/2026). Antusiasme peserta membludak hingga mencapai 200 persen dari kapasitas undangan, mencerminkan tingginya perhatian terhadap dunia pers di Jawa Timur.
Dari sekitar 200 undangan yang disiapkan, tercatat sebanyak 396 orang hadir, terdiri dari pengurus PWI kabupaten/kota se-Jawa Timur, unsur Forkopimda, hingga berbagai elemen masyarakat.
Ketua HPN 2026 PWI Jatim, Syaiful Anam, menyebut lonjakan kehadiran tersebut menjadi indikator kuat bahwa peran pers masih mendapat tempat penting di tengah masyarakat.
“Dari 200 undangan yang kami siapkan, tercatat 396 orang hadir. Ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap peringatan HPN tahun ini,” ujarnya.
Dalam acara tersebut, PWI Jawa Timur memberikan penghargaan kepada 24 tokoh nasional dan daerah atas kontribusi dan dedikasinya di berbagai bidang. Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dan Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim.
Sejumlah tokoh yang menerima penghargaan antara lain Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Tokoh Nasional Inspiratif Bidang Politik, M.H. Said Abdullah di bidang politik anggaran dan kebijakan publik, serta Eri Cahyadi sebagai tokoh kepemimpinan inovatif daerah. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada tokoh-tokoh di bidang peradilan, lingkungan hidup, layanan publik, hingga olahraga dan demokrasi.
Tak hanya itu, Piala Prapanca untuk kategori jurnalisme tulis dan foto juga diserahkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak kepada Faishol Taselan dan Trisnadi sebagai pemenang.
Sebelum puncak pemberian penghargaan, acara diawali dengan peluncuran dan bedah buku berjudul “Langkah Sunyi Menuju Puncak” karya jurnalis LKBN Antara, Abdul Hakim. Buku tersebut mengisahkan perjalanan Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, mulai dari wartawan daerah hingga menjabat sebagai Direktur Utama Perum LKBN ANTARA dan Ketua PWI Pusat.
Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim menegaskan bahwa peringatan HPN bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi bagi insan pers untuk terus meningkatkan kualitas jurnalistik.
“Esensi HPN adalah bagaimana kita setiap hari memperbaiki kualitas jurnalisme, menghadirkan informasi yang mencerahkan, dan menjadi arah bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PWI Pusat Akhmad Munir menyoroti perubahan besar dalam dunia jurnalistik akibat disrupsi digital dan derasnya arus media sosial. Ia menekankan tiga poin utama yang harus dijaga oleh insan pers agar tetap relevan.
Pertama, menjaga kualitas dan akurasi berita sebagai fondasi utama kepercayaan publik. Kedua, meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Dan ketiga, tetap berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.
“Tanpa akurasi, pers akan kehilangan kepercayaan publik. Di tengah disrupsi digital, peningkatan kompetensi SDM menjadi keharusan,” ujarnya.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dalam sambutannya juga menegaskan bahwa peran pers tetap krusial di tengah dominasi media sosial.
“Kepercayaan publik terhadap karya jurnalistik tetap tinggi karena adanya proses verifikasi dan akurasi. Tanpa pers, sulit membayangkan informasi yang kredibel sampai ke masyarakat,” katanya.
Rangkaian kegiatan HPN 2026 PWI Jatim sendiri telah berlangsung sejak Januari 2026, meliputi berbagai agenda seperti bakti sosial, retret HPN di Serang, seminar, lomba karya jurnalistik, bedah buku, hingga penganugerahan PWI Jatim Award.
Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PWI Jatim dan BUMD PT Jatim Grha Utama terkait program subsidi perumahan bagi wartawan sebesar Rp35 juta tanpa uang muka. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan insan pers di Jawa Timur.
Puncak HPN 2026 ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga ruang refleksi atas tantangan yang dihadapi dunia jurnalistik. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi digital, insan pers dituntut untuk tetap menjaga profesionalisme, integritas, serta kualitas pemberitaan sebagai pilar demokrasi.(Dsy)
