Malang – Suarahariapagi.id
Proyek pembangunan Jalan Nasional Gondanglegi–Balekambang di Kabupaten Malang kembali menjadi sorotan publik. Proyek yang digadang-gadang menjadi akses strategis penghubung kawasan selatan Malang itu dinilai belum memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan secara maksimal.
Sorotan tersebut muncul setelah tim investigasi LSM bersama awak media menemukan sedikitnya 23 titik lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) tenaga surya atau solar cell dalam kondisi padam di sepanjang jalur proyek. Padahal, proyek tersebut masih dalam tahap pengerjaan dan belum dilakukan serah terima pekerjaan.
Padamnya puluhan lampu jalan itu memunculkan pertanyaan terkait kualitas material maupun spesifikasi fasilitas penerangan yang dipasang di proyek bernilai besar tersebut.
Selain lampu jalan yang tidak berfungsi, kondisi di lapangan juga diperparah dengan minimnya marka jalan dan rambu-rambu keselamatan lalu lintas di sejumlah titik proyek.
Proyek yang dikerjakan oleh PT Djaya Konstruksi (Djakon) bersama Moderna Co. tersebut kini mendapat perhatian serius dari berbagai pihak karena dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama saat malam hari.
Ketua DPC LSM Gerbang Indonesia, Dedik Siswanto, menyebut kondisi proyek saat ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap kualitas pekerjaan.
“Ini proyek nasional dengan anggaran besar, tetapi fakta di lapangan banyak lampu PJU tenaga surya sudah padam padahal pekerjaan belum diserahterimakan. Ini menimbulkan pertanyaan besar soal kualitas barang dan pengawasan proyek,” kata Dedik.
Menurutnya, risiko kecelakaan semakin tinggi karena saat ini jalur tersebut juga ramai dilalui kendaraan pengangkut tebu. Banyak truk Fuso maupun truk gandeng bermuatan tebu parkir di bahu jalan hingga memakan sebagian badan jalan, terutama pada malam hingga dini hari.
“Lampu banyak padam, marka jalan tidak ada, rambu-rambu minim, sementara truk-truk tebu parkir di pinggir jalan hampir setiap malam. Ini jelas sangat rawan kecelakaan. Jangan sampai pemerintah dan pelaksana proyek baru bergerak setelah ada korban jiwa,” tegasnya.
Dari hasil pantauan di lapangan, deretan truk pengangkut tebu tampak berjajar di sejumlah titik sepanjang jalur Gondanglegi–Balekambang. Kondisi jalan yang gelap membuat keberadaan kendaraan besar tersebut sulit terlihat oleh pengendara dari kejauhan.
LSM Gerbang Indonesia mendesak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, pengawas proyek, serta instansi terkait lainnya segera melakukan audit kualitas pekerjaan dan evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas keselamatan jalan yang telah dipasang.
Pihaknya juga meminta aparat terkait mengambil langkah tegas terhadap kendaraan berat yang parkir sembarangan di badan jalan karena dinilai memperbesar potensi kecelakaan lalu lintas.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Jangan sampai proyek bernilai miliaran rupiah justru menjadi ancaman bagi pengguna jalan akibat dugaan pekerjaan asal jadi dan lemahnya pengawasan,” pungkas Dedik.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Djaya Konstruksi (Djakon) maupun Moderna Co. belum memberikan tanggapan resmi terkait padamnya puluhan lampu PJU tenaga surya serta minimnya fasilitas keselamatan di proyek Jalan Nasional Gondanglegi–Balekambang tersebut.(Ich)
