Pemerhati sejarah, Arif Yulianto atau Cak Arif menunjukkan sejumlah data yang menguatkan bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Jombang pada 6 Juni 1902 yang masuk Karesidenan Surabaya pada saat itu.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto atau akrab disapa Cak Arif, kembali menegaskan bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dipastikan lahir pada 6 Juni 1902 di Plosos, wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Karesidenan Surabaya.
Penegasan tersebut disampaikan Cak Arif dengan membeberkan sejumlah data arsip dan dokumen tertulis yang menurutnya saling menguatkan satu sama lain. Ia menekankan, penyebutan Surabaya dalam sejumlah dokumen sejarah tidak serta-merta menunjuk pada Kota Surabaya seperti saat ini, melainkan wilayah administratif Karesidenan Surabaya pada masa kolonial.
“Bung Karno fix lahir 6 Juni 1902 di Ploso. Ini bukan asumsi, tapi berbasis data,” ujar Cak Arif, Minggu (14/2).
Cak Arif menjelaskan, Kabupaten Jombang sendiri baru berdiri pada tahun 1910, bersamaan dengan dilantiknya bupati pertama Jombang, R.A.A. Soeroadiningrat V atau yang dikenal sebagai Kanjeng Sepuh Jombang. Dengan demikian, pada tahun 1902 wilayah Ploso masih berada di bawah administrasi Karesidenan Surabaya.
Salah satu data kunci yang diungkap Cak Arif adalah dokumen beseluit atau Surat Keputusan tugas ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo. Dalam dokumen tertanggal 28 Desember 1901 tersebut, Raden Soekeni tercatat mulai bertugas sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya.
“Raden Soekeni mulai berdinas di Ploso pada 28 Desember 1901 dan menetap di sana hingga tahun 1907,” jelasnya.
Enam bulan setelah penugasan itu, Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902. Hal tersebut diperkuat dengan data tulisan tangan Raden Soekeni yang mencantumkan tanggal kelahiran putranya, Raden Soekarno, pada tanggal tersebut.
“Tahun 1907, ayah Bung Karno pindah dari Ploso ke Sidoarjo. SK perpindahannya juga ada,” imbuh Cak Arif.
Selain itu, Cak Arif juga menunjukkan arsip Institut Teknologi Bandung (ITB) atau Technische Hoogeschool (THS) yang mencatat Raden Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1902. Menurutnya, keterangan Surabaya dalam arsip tersebut harus dibaca dalam konteks wilayah administratif pada masa Hindia Belanda.
Untuk memperkuat argumennya, Cak Arif mengutip laporan pekerjaan sipil era Hindia Belanda tahun 1894. Dalam laporan itu, sejumlah desa yang kini masuk wilayah Kabupaten Jombang seperti Wuluh, Pojokrejo, Gumulan, Kedungboto (Podoroto), hingga Semanden disebut sebagai bagian dari Surabaja.
“Nah, ini menunjukkan bahwa desa-desa yang sekarang masuk Jombang dulu disebut Surabaya karena masuk Karesidenan Surabaya,” terangnya.
Dengan dasar tersebut, Cak Arif menilai sangat masuk akal jika kelahiran Bung Karno pada 1902 ditulis di Surabaya, meskipun lokasi fisiknya berada di Ploso.
“Surabaya yang dimaksud adalah Ploso, bagian dari Karesidenan Surabaya,” tegasnya.
Ia menambahkan, penjelasan itu juga sejalan dengan narasi dalam buku biografi Bung Karno berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat karya Cindy Adams. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa ayah Bung Karno dipindahkan ke Surabaya dan di sanalah putranya dilahirkan.
“Yang dimaksud Surabaja dalam buku itu adalah Ploso, yang sekarang masuk Kabupaten Jombang,” pungkas Cak Arif.(Dsy)
