Aksi demo mahasiswa di depan Polres Mojokerto.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Mojokerto menggelar aksi demonstrasi di depan Polres Mojokerto, Jumat (27/2/2026). Aksi dimulai sekitar pukul 15.00 WIB hingga menjelang waktu Maghrib.
Meski diguyur hujan dan berlangsung di bulan suci Ramadan, massa tetap bertahan menyampaikan aspirasi terkait maraknya aktivitas galian C ilegal di wilayah Kabupaten Mojokerto.
Ketua PC PMII Mojokerto, Muhammad Nur Fadillah, menyoroti aktivitas tambang yang disebut berada sangat dekat dengan tiang listrik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) penghubung Jawa–Bali, khususnya di wilayah Ngoro dan Gondang (Kalikatir).
“Galian tambang sangat berdekatan dengan tiang listrik atau SUTET yang menghubungkan Jawa–Bali. Kita bisa membayangkan kalau tiang itu roboh, setidaknya ada empat kabupaten/kota yang akan mati total listriknya. Dampaknya ke sektor ekonomi, pendidikan, sosial budaya, bahkan keamanan Kabupaten Mojokerto,” tegasnya dalam orasi.
Menurutnya, persoalan tambang ilegal tidak bisa lagi dipandang sebagai pelanggaran administratif semata, melainkan berpotensi menimbulkan dampak strategis lintas daerah jika tidak segera ditertibkan.
Dalam aksi tersebut, PMII mendesak aparat kepolisian agar bersikap tegas dalam melakukan penegakan hukum terhadap aktivitas tambang ilegal. Mereka juga menyayangkan belum adanya penandatanganan nota kesepakatan oleh Kapolres sebagai bentuk komitmen bersama dalam penanganan persoalan tersebut.
Meski demikian, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan audiensi pada 1 Maret 2026 guna membahas langkah konkret penanganan tambang ilegal di Mojokerto.
Sementara itu, Kapolres Mojokerto, Andi Yudha Pranata, menyatakan bahwa isu galian C memang menjadi perhatian serius jajaran kepolisian dan saat ini tengah dibahas dalam skema penanganan terpadu.
“Pertama saya berterima kasih karena isu galian C ini memang menjadi konsen kami di Mojokerto untuk dilakukan tata kelola baru. Tadi saya sudah mendengar banyak masukan dari adik-adik PMII yang menyuarakan penertiban,” ujarnya.
Ia menegaskan pendekatan yang dilakukan tidak semata-mata mengedepankan penindakan hukum, tetapi juga langkah komprehensif bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Pendekatannya tidak hanya instrumen penegakan hukum. Kita sudah berkolaborasi menyusun konsep bersama Forkopimda dengan fokus pada tiga aspek, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan. Jadi bukan hanya penindakan, tetapi juga perbaikan atas dampak yang sudah terjadi,” jelasnya.
Aksi demonstrasi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Massa kemudian membubarkan diri secara damai menjelang waktu berbuka puasa.(Dsy)
