Kopral seorang pengrajin yang sedang mengerjakan pembuatan replika topeng Tri Purwo Budoyo.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Upaya pelestarian kesenian tradisional terus dilakukan Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Kini, sanggar tersebut mulai mengembangkan produksi topeng dengan mengadaptasi berbagai karakter yang dimiliki sebagai langkah menjaga eksistensi sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.
Pada Minggu (19/4), aktivitas pembuatan topeng tampak berlangsung di sanggar. Seorang perajin yang akrab disapa Kopral terlihat telaten mengerjakan duplikat topeng berbahan kayu waru. Dengan peralatan sederhana, ia membentuk detail karakter topeng yang nantinya akan digunakan untuk kebutuhan pementasan maupun produksi lainnya.
Bahan baku kayu waru yang digunakan diperoleh dari lingkungan sekitar, sehingga proses produksi tidak hanya mempertahankan kearifan lokal, tetapi juga efisien secara biaya.
Pengelola Sanggar Tri Purwo Budoyo Jatiduwur, Isma Hakim, menyampaikan bahwa pengembangan pembuatan topeng ini merupakan bagian dari program pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur yang telah lama menjadi identitas budaya desa setempat.
“Kita tidak hanya fokus pada pementasan, tetapi juga mengembangkan pembuatan topeng serta melatih generasi muda untuk menari,” ujar Isma.
Menurutnya, produksi topeng juga diarahkan untuk mendukung sektor pariwisata. Topeng-topeng hasil karya sanggar akan dipasarkan sebagai merchandise bagi wisatawan yang datang berkunjung.
Tak berhenti di situ, sanggar juga berencana memproduksi berbagai perlengkapan lain dalam pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur, seperti selendang dan koncer. Program edukasi bagi anak-anak pun tengah disiapkan agar mereka dapat belajar membuat topeng sekaligus menari.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya mengenal, tapi juga mampu mempraktikkan langsung kesenian ini,” tambahnya.
Sementara itu, akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Setyo Yanuartuti, menilai Wayang Topeng Jatiduwur memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai industri kreatif berbasis budaya.
“Berawal dari visual topeng dengan beragam karakter, lalu berkembang menjadi sebuah pertunjukan lengkap. Ini modal besar untuk dikembangkan lebih luas,” jelasnya.
Setyo menekankan pentingnya mendorong kesenian ini agar tidak hanya terbatas pada fungsi ritual, melainkan juga mampu tampil sebagai seni pertunjukan modern yang adaptif di berbagai kegiatan.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan program pengembangan merchandise berbasis karakter Wayang Topeng Jatiduwur, mulai dari topeng, busana, hingga unsur musiknya.
“Ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kriya sekaligus membangun ekonomi kreatif masyarakat,” terangnya.
Kolaborasi antara akademisi dan sanggar diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan Wayang Topeng Jatiduwur, sekaligus menjadikannya sebagai sumber ekonomi baru bagi warga setempat.(Dsy)
