Ustaz Zaki Mirza saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung GOR dan Seni Mojopahit, Kota Mojokerto.(suaraharianpagi.id/ds)
Kota Mojokerto – suaraharianpagi.id
Makna kemerdekaan tidak hanya sebatas terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus diwujudkan dengan membebaskan pikiran dan hati dari berbagai penyakit yang dapat merusak hubungan antarsesama.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Zaki Mirza saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung GOR dan Seni Mojopahit, Kota Mojokerto, Rabu (26/8).
Dalam tausiyahnya, Zaki Mirza mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan secara lebih luas. Menurutnya, kemerdekaan sejati tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata, tetapi harus tercermin dalam cara seseorang berpikir dan bersikap.
“Merdeka itu bukan hanya menyemakkan merdeka lewat kata-kata, tidak. Merdeka itu adalah memerdekakan pikiran kita dari suuzon, buruk sangka, over thinking, sering mikir jelek sama orang lain,” ungkap Zaki Mirza.
Ia mengatakan, seseorang belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan apabila pikirannya masih dipenuhi prasangka buruk terhadap orang lain. Karena itu, momentum peringatan kemerdekaan dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
Menurut Zaki, kemerdekaan juga harus dimaknai sebagai upaya membebaskan hati dari berbagai penyakit batin yang dapat memicu konflik dan merusak persaudaraan.
“Merdeka itu maknanya adalah memerdekakan hati kita dari penyakit hati, dendam, kesumat, iri, dengki, susah lihat orang lain senang, senang lihat orang lain susah,” tegasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang mengajak umat untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengajak masyarakat menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai sarana memperkuat kerukunan dan kebersamaan. Menurutnya, kekompakan masyarakat merupakan modal penting dalam mendukung keberlangsungan pembangunan di Kota Mojokerto.
“Alhamdulillah warga Kota Mojokerto kompak duduk rukun. Ini adalah sebuah modal bagi seluruh program dan pembangunan bisa berjalan dengan baik dan lancar ke depannya,” kata Ning Ita, sapaan akrabnya.
Ia berharap masyarakat senantiasa meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW agar kehidupan sosial di Kota Mojokerto semakin damai dan terhindar dari gesekan maupun perselisihan.
“Kalau umat muslimnya Kota Mojokerto senantiasa meneladani sifat-sifat Rasulullah, maka tidak akan ada lagi yang namanya gesekan, tidak akan ada lagi yang namanya gontok-gontokan. Pasti semuanya akan adem ayem, pasti semuanya akan damai,” tuturnya.
Ning Ita menegaskan, kerukunan menjadi salah satu kekuatan Kota Mojokerto yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang agama, suku, dan etnis. Kondisi tersebut, menurutnya, turut menjadi alasan Kota Mojokerto dinobatkan sebagai kota harmoni oleh Kementerian Agama.
“Berbagai suku etnis hidup berdampingan di sini. Itulah kenapa sejak empat tahun yang lalu Kota Mojokerto dinobatkan oleh Kementerian Agama sebagai kota harmoni, karena masyarakatnya semuanya guyub rukun dan penuh toleransi,” jelasnya.
Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Ning Ita juga mengajak masyarakat mensyukuri kemerdekaan yang telah dinikmati bangsa Indonesia. Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap masyarakat di daerah lain yang tengah menghadapi musibah.
Ia mengajak seluruh jamaah mendoakan masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi agar diberikan kesabaran, ketabahan, serta keselamatan.
Ning Ita juga memohon doa masyarakat agar Kota Mojokerto senantiasa mendapatkan rahmat dan perlindungan Allah SWT sehingga tetap menjadi daerah yang aman, damai, dan sejahtera.
“Saya berharap doa panjenengan semua di peringatan Maulidun Rasul ini agar Kota Mojokerto juga senantiasa diberikan Allah rahmat sehingga menjadi kota yang damai, aman, dan sejahtera seluruh warganya,” imbuhnya.
Ia kemudian mengajak masyarakat memperbanyak membaca selawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tausiyah yang disampaikan Ustaz Zaki Mirza diharapkan dapat menjadi tambahan ilmu sekaligus siraman rohani bagi masyarakat.
Pengajian akbar tersebut ditutup dengan doa bersama. Momentum ini sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat Kota Mojokerto untuk mengisi kemerdekaan dengan memperkuat persaudaraan, menjaga kerukunan, serta membebaskan diri dari prasangka, dendam, iri, dan berbagai perilaku negatif. *ds
#maulidnabi #kotamojokerto #diskominfo #ustazzaki
