Gubernur Lemhannas RI Dr. Tb. H mace Hasan syadzily, M.si (kanan) bersama Bupati LIRA Kabupaten Gresik, Wiwit A. Ridlo (kiri).(suaraharianpagi.id/ful)
Bogor – suaraharianpagi.id
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) menghadirkan semangat baru dengan konsep yang lebih santai dan unik. Kegiatan yang digelar di kawasan Puncak, Bogor, ini menjadi momentum penguatan mental serta soliditas internal organisasi, dan resmi ditutup pada Sabtu (17/1).
Rakernas II LIRA dilaksanakan di The Tavia Riverside, Bogor, dengan menghadirkan suasana yang lebih segar. Selain agenda rapat di dalam ruangan, panitia juga menyelenggarakan kegiatan outbound sebagai upaya membangun psikologi, karakter, dan kebersamaan antar-kader LIRA dari berbagai daerah di Indonesia.
Presiden LIRA, Andi Syafrani, dalam sambutannya pada pembukaan Rakernas II, Jumat (16/1), menegaskan komitmen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LIRA untuk terus memperkuat advokasi bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut terutama ditujukan kepada kader-kader LIRA yang tengah menghadapi proses hukum dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat.
“Apabila ada kader LIRA yang menghadapi persoalan hukum saat menjalankan tugas advokasi, DPP akan langsung mengutus tim advokasi untuk memberikan pendampingan,” ujar Andi Syafrani.
Lebih lanjut, Andi Syafrani menyampaikan bahwa dalam perjalanan kepemimpinannya, LIRA telah membangun jaringan organisasi di 33 provinsi. Ia juga menargetkan capaian yang konkret menjelang Musyawarah Nasional (Munas) yang akan digelar satu tahun mendatang.
“Kita memiliki target menjelang Munas agar program-program LIRA benar-benar terwujud secara konkret, dari Sabang sampai Merauke,” tegasnya.
Sementara itu, seremoni penutupan Rakernas II LIRA secara resmi ditutup oleh Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. TB Ace Hasan Syadzily, M.Si. Dalam sambutannya, Ace Hasan Syadzily mengapresiasi terselenggaranya Rakernas II LIRA dan menilai organisasi ini tampil solid serta memiliki komitmen kuat dalam menjaga keberlanjutan organisasi.

Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan momentum dan tata kelola organisasi yang baik. Menurutnya, tantangan ke depan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh kekuatan ideologi dan ketahanan masyarakat.
“Kekuatan terbesar sebuah negara terletak pada ketahanan nasional berbasis ideologi masyarakat. Menuju Indonesia Emas, peran civil society sangat penting, tidak hanya untuk memperluas partisipasi demokrasi, tetapi juga dalam membangun kedaulatan informasi, solidaritas sosial, dan ketahanan nasional,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, LIRA dinilai memegang peran strategis sebagai katalisator dalam mendorong partisipasi civil society guna mewujudkan ketahanan dan kemandirian bangsa.
Di sisi lain, pasca Rakernas II LIRA, Bupati LIRA Kabupaten Gresik, Wiwit A. Ridlo, mengajak seluruh kader untuk tetap solid setelah bersama-sama merumuskan rekomendasi Rakernas II sebagai pedoman program kerja selama satu tahun ke depan.
“Dalam setiap Rakernas tentu ada suka dan duka. Itu hal biasa bagi relawan LIRA. Yang terpenting, mari kita tetap merapatkan barisan dan istiqamah membantu serta mengawal pemerintahan dalam membangun bangsa Indonesia, khususnya di daerah,” pungkasnya. *ful
