Mohamad Akhiyak membuka studio lukisan pasir miliknya di Perumahan Griya Mojokrapak indah blok D no 6, Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Jombang, untuk menyambut gelaran Muktamar ke-35 NU.(Foto: Istimewa)
Jombang – suaraharianpagi.id
Kedatangan ribuan peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang tak hanya disambut dengan berbagai kegiatan keagamaan dan organisasi. Kreativitas seniman lokal turut mengambil bagian dengan menghadirkan karya-karya yang merepresentasikan potensi seni daerah.
Salah satunya dilakukan M. Akhiyak, seniman asal Jombang yang memilih pasir sebagai media untuk menciptakan lukisan. Bertepatan dengan momentum Muktamar ke-35 NU, ia membuka studio miliknya untuk masyarakat dan peserta muktamar yang ingin melihat lebih dekat proses di balik karya lukisan pasir.
Open studio tersebut berlangsung 23-31 Agustus 2026 di studio Akhiyak, Perumahan Griya Mojokrapak Indah Blok D Nomor 6, Dusun Plumbon, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Jombang.
Bagi Akhiyak, open studio bukan sekadar memamerkan hasil karya. Pengunjung justru diajak melihat langsung proses kreatif, mulai dari menentukan gagasan, memilih pasir, menyusun material, membentuk komposisi, hingga menyelesaikan detail lukisan.
Pasir yang selama ini identik dengan material alam maupun bahan bangunan diolah menjadi medium seni dengan karakter visual yang khas. Setiap butiran memiliki warna, ukuran, tekstur, dan tingkat kehalusan berbeda sehingga menghasilkan tampilan yang tidak bisa sepenuhnya diseragamkan.
“Lukisan pasir memiliki karakter yang berbeda dengan lukisan pada umumnya. Pasir bukan hanya menjadi media, tetapi juga memberikan tekstur, warna, dan kesan alami pada setiap karya,” terang Akhiyak, Senin (24/8).
Menaklukkan Karakter Pasir
Menggunakan pasir sebagai media lukis bukan pekerjaan sederhana. Ketelitian menjadi bagian penting dalam setiap tahapan karena material harus ditempatkan secara cermat untuk membentuk garis, bidang, bayangan hingga detail objek.
Perbedaan karakter pasir justru dimanfaatkan Akhiyak untuk menciptakan kedalaman visual. Butiran yang kasar maupun halus dapat memberikan efek permukaan berbeda. Sementara warna alami pasir digunakan untuk membangun kontras dan memperkuat karakter gambar.
Karena itu, proses pengerjaan membutuhkan kesabaran. Kesalahan menempatkan material pada satu bagian dapat memengaruhi komposisi karya secara keseluruhan.
“Setiap bagian harus diperhitungkan. Kita tidak hanya membuat gambar, tetapi juga harus memahami karakter material yang digunakan,” jelasnya.
Ketertarikannya terhadap pasir bermula dari keinginan mengeksplorasi material sederhana yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar. Dari benda yang dianggap biasa, Akhiyak menemukan kemungkinan artistik yang kemudian dikembangkan menjadi teknik berkarya.
“Bagi saya, pasir adalah media yang sangat kaya. Dari material yang sederhana, kita bisa menciptakan karya yang memiliki nilai seni, pesan, dan identitas budaya,” katanya.
Karya-karya Akhiyak pun tidak berhenti pada persoalan estetika. Sejumlah lukisan membawa gagasan tentang lingkungan, kehidupan sosial, budaya, hingga berbagai fenomena yang berkembang di tengah masyarakat.
Dengan demikian, pasir tidak hanya berfungsi sebagai bahan pembentuk gambar, tetapi menjadi medium untuk menyampaikan pesan sekaligus mengajak masyarakat melihat kembali potensi material yang ada di sekitarnya.
Karya lukisan pasir Akhiyak juga telah tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor pencatatan 00757133 dan perlindungan selama 50 tahun.
Seni yang Dibawa ke Ruang Pendidikan
Selain menjadi seniman, Akhiyak sehari-hari mengajar Seni Budaya di MAN 3 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Latar belakangnya sebagai pendidik turut membentuk cara pandangnya dalam berkesenian. Menurutnya, pendidikan seni tidak cukup hanya mengandalkan teori. Siswa perlu diberi ruang untuk mengamati, mencoba material, bereksperimen, menemukan kesalahan, hingga menghasilkan karya dengan karakter masing-masing.
Lukisan pasir menjadi salah satu media yang digunakan untuk mengenalkan komposisi, warna, tekstur, ketelitian, sekaligus kreativitas kepada peserta didik.
“Sebagai guru Seni Budaya, saya ingin siswa tidak hanya mengenal seni dari buku, tetapi juga mengalami langsung proses berkarya. Mereka perlu memahami bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi,” ujarnya.
Menurut Akhiyak, seni juga tidak selalu identik dengan material mahal. Bahan sederhana yang ada di sekitar dapat memiliki nilai artistik apabila diolah dengan kreativitas dan ketekunan.
Momentum Memperkenalkan Seni Jombang
Akhiyak berharap lukisan pasir dapat berkembang menjadi salah satu bagian dari kekayaan seni Jombang. Menurutnya, daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat tradisi pesantren tersebut memiliki potensi budaya yang lebih luas.
Tradisi pesantren, kesenian lokal, kerajinan, serta kreativitas masyarakat menjadi modal yang dapat terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada khalayak.
Momentum Muktamar ke-35 NU menjadi kesempatan tersendiri. Ribuan orang dari berbagai daerah yang datang ke Jombang dapat sekaligus mengenal karya seniman lokal.
“Jombang memiliki banyak potensi seni dan budaya. Muktamar ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahwa Jombang tidak hanya dikenal sebagai kota pesantren, tetapi juga memiliki seniman dan karya kreatif yang layak diapresiasi,” ungkapnya.
Melalui konsep open studio, pengunjung tidak hanya melihat lukisan yang sudah jadi. Mereka dapat menyaksikan bagaimana sebuah karya lahir melalui proses panjang, mulai dari menemukan ide, mengumpulkan dan memilih material, menentukan warna serta tekstur, menyusun komposisi, menempelkan pasir, hingga menyelesaikan detail terkecil.
Interaksi langsung tersebut sekaligus memberikan pengalaman berbeda dalam menikmati seni. Pasir yang sederhana ternyata dapat berubah menjadi karya bernilai estetika ketika berada di tangan seniman yang mampu mengolah material dengan gagasan dan kreativitas.
Bagi Akhiyak, proses itulah yang menjadi bagian penting dari sebuah karya: bukan sekadar apa yang terlihat pada hasil akhirnya, tetapi juga cerita, ketelitian, dan gagasan yang melekat pada setiap butiran pasir. *ds
#muktamar #nu #lukisan #pelukis #jombang
