Tujuh tokoh yang masuk bursa pencalonan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.(Foto: Istimewa)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.
Sejumlah nama mulai ramai diperbincangkan di tengah warga Nahdliyin. Posisi Ketua Umum PBNU menjadi salah satu perhatian karena figur yang terpilih akan menentukan arah kebijakan dan gerak organisasi untuk lima tahun mendatang.
Dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU juga tidak semata-mata berkaitan dengan persaingan antarfigur. Di balik nama-nama yang muncul, terdapat beragam gagasan mengenai masa depan NU, mulai dari keberlanjutan program, penguatan pesantren, kemandirian organisasi, hingga regenerasi kepemimpinan.
Di media sosial, sedikitnya 15 nama sempat beredar sebagai tokoh yang disebut-sebut berpotensi mengikuti kontestasi. Namun, sebagian besar nama tersebut belum mendapatkan konfirmasi yang jelas.
Sementara itu, Majalah Risalah NU edisi khusus Muktamar, edisi 180, Agustus 2026, merangkum bursa calon Ketua Umum PBNU yang mengerucut pada tujuh nama. Ketujuh tokoh tersebut memiliki latar belakang dan gagasan yang beragam.
Gus Yahya Tawarkan Keberlanjutan
Nama pertama adalah Ketua Umum PBNU petahana, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Lahir pada 16 Februari 1966, Gus Yahya secara resmi menyatakan niat untuk kembali memimpin PBNU pada 22 Juli 2026.
Sebagai petahana, Gus Yahya membawa narasi keberlanjutan. Salah satu gagasan yang dikedepankan adalah memperkuat kemandirian organisasi sekaligus melanjutkan visi “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”.
Selain konsolidasi internal, arah kepemimpinannya juga menitikberatkan pada penguatan peran NU dalam percaturan global, termasuk diplomasi dan upaya merespons konflik internasional.
Nasaruddin Umar Bawa Narasi Harmoni
Tokoh berikutnya adalah Prof. KH Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI yang juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.
Lahir pada 23 Juni 1959, Nasaruddin Umar memiliki latar belakang keulamaan sekaligus pengalaman panjang di pemerintahan.
Dalam bursa Ketua Umum PBNU, sosoknya dikaitkan dengan narasi harmoni keumatan dan kebangsaan. Dukungan dari sejumlah cabang NU di luar Pulau Jawa juga membuatnya dipandang sebagai figur yang dapat membawa perspektif lebih luas dari basis NU di berbagai daerah.
Gus Kikin dan Kekuatan Tebuireng
Dari poros pesantren tradisional, muncul nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut lahir pada 17 Agustus 1958. Kedekatannya dengan salah satu pesantren bersejarah dalam perjalanan NU membuat Gus Kikin dinilai merepresentasikan kekuatan tradisi pesantren.
Tebuireng sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah NU. Karena itu, kemunculan Gus Kikin dalam bursa Ketua Umum PBNU turut menjadi perhatian, khususnya karena Muktamar ke-35 digelar di Jombang.
Gus Yusuf Bawa Aspirasi Grassroots
Nama berikutnya adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo.
Gus Yusuf disebut telah menyatakan kesiapannya maju setelah memperoleh dukungan dari sejumlah PCNU di Jawa Tengah.
Ia dikenal dekat dengan kalangan akar rumput NU. Gagasan yang dibawanya antara lain mendorong PBNU agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam persoalan kesejahteraan ekonomi, isu populis, serta penguatan dakwah kultural.
Gus Rozin Fokus Pendidikan
Tokoh lain yang masuk bursa adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Ia menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam forum silaturahim ketua PCNU se-Jawa Tengah pada pertengahan Juli 2026.
Gus Rozin membawa perhatian pada sektor pendidikan. Ia mendorong adanya paradigma pendidikan yang lebih adaptif bagi warga NU, dengan upaya mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan tuntutan akademik dan profesionalitas modern.
KH Zulfa Mustofa dan Gagasan Regenerasi
Sementara itu, poros regenerasi diisi antara lain oleh KH Zulfa Mustofa.
Lahir pada 7 Agustus 1977, KH Zulfa Mustofa saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU. Ia dikenal memiliki kedalaman keilmuan fikih serta kemampuan menciptakan syair berbahasa Arab secara spontan.
Dalam bursa Ketua Umum PBNU, sosoknya dipandang menawarkan kombinasi antara kekuatan khazanah keilmuan klasik dan kebutuhan tata kelola organisasi yang lebih lincah menghadapi perkembangan zaman.
Gus Salam Dorong Check and Balances
Nama terakhir adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Gus Salam merupakan salah satu tokoh yang masuk dalam poros regenerasi. Ia kerap menyuarakan pentingnya mekanisme check and balances dalam organisasi agar NU tidak terjebak dalam pragmatisme politik.
Ia juga menekankan pentingnya prinsip keadilan dan maslahah ammah, terutama agar kebijakan organisasi tetap berpihak pada kepentingan warga NU.
Muktamar Menjadi Penentu
Kemunculan tujuh nama tersebut memperlihatkan beragam pilihan gagasan yang berkembang menjelang Muktamar ke-35 NU.
Ada figur yang menawarkan kesinambungan kepemimpinan, ada yang membawa kekuatan pesantren tradisional, ada pula yang menawarkan regenerasi dan pembaruan tata kelola organisasi.
Namun, bursa tersebut belum dapat dimaknai sebagai daftar final calon Ketua Umum PBNU. Mekanisme pencalonan dan pemilihan tetap akan mengikuti ketentuan serta tata tertib Muktamar ke-35 NU.
Pada akhirnya, peserta muktamar yang akan menentukan siapa yang dipercaya memimpin PBNU untuk periode mendatang.
Dengan berbagai nama, latar belakang, dan gagasan yang mengemuka, kontestasi Ketua Umum PBNU dipastikan menjadi salah satu dinamika yang menarik perhatian dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang.(Dsy)
