Sepanjang sejarahnya sejak berdiri hingga saat ini NU telah dipimpin oleh 11 Rais Aam. (Foto: Istimewa)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Jika ada pertanyaan mengenai siapa pemimpin tertinggi atau supreme leader dalam tubuh jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), maka jawabannya adalah Rais Aam. Posisi ini memiliki peran strategis karena menjadi salah satu pusat otoritas keagamaan dalam menentukan arah kebijakan dan perjalanan organisasi.
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, menarik untuk menengok kembali perjalanan para Rais Aam yang pernah memimpin organisasi Islam tersebut dari masa ke masa.
Dalam perjalanan sejarahnya, kepemimpinan Rais Aam NU dapat dilihat dalam beberapa periode. Mulai dari era pendirian dan konsolidasi awal, era pembaruan serta penguatan Khittah 1926, hingga periode pengembangan fikih sosial dan tata kelola organisasi modern.
Era Pendiri dan Konsolidasi Awal
Pada masa awal berdirinya NU, kepemimpinan organisasi bertumpu pada ulama-ulama kharismatik yang tidak hanya memiliki otoritas keagamaan, tetapi juga berperan dalam perjuangan kebangsaan dan konsolidasi umat.
1. KH Hasyim Asy’ari
KH Hasyim Asy’ari memimpin NU sejak 1926 hingga 1947. Pendiri Pesantren Tebuireng, Jombang, ini merupakan peletak dasar jam’iyah NU sekaligus satu-satunya tokoh yang menyandang gelar Rais Akbar.
KH Hasyim Asy’ari memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namanya juga erat dengan lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang menjadi salah satu tonggak penting dalam menggerakkan umat Islam mempertahankan kemerdekaan.
2. KH Abdul Wahab Chasbullah
Setelah KH Hasyim Asy’ari wafat, kepemimpinan dilanjutkan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Rais Aam pada 1947 hingga 1971.
KH Abdul Wahab dikenal sebagai salah satu penggagas berdirinya NU sekaligus motor penggerak organisasi. Kepemimpinannya berlangsung dalam periode penuh perubahan, mulai dari masa revolusi kemerdekaan, Orde Lama, hingga memasuki awal Orde Baru.
3. KH Bisri Syansuri
KH Bisri Syansuri menjabat Rais Aam pada 1971 hingga 1980. Ia dikenal sebagai ulama ahli fikih yang memiliki perhatian kuat terhadap penerapan hukum Islam dalam kehidupan masyarakat.
Di tengah dinamika politik Orde Baru, KH Bisri Syansuri turut memberikan warna dalam sikap dan kebijakan NU. Salah satunya melalui sikap kritis terhadap Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang saat itu dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Era Pembaruan dan Penguatan Khittah 1926
Periode berikutnya merupakan masa penting dalam sejarah NU. Organisasi mulai meninggalkan hiruk-pikuk politik praktis dan kembali menegaskan jati dirinya sebagai jam’iyah sosial-keagamaan melalui penguatan Khittah 1926.
1. KH Ali Maksum
KH Ali Maksum menjabat Rais Aam pada 1981 hingga 1984. Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, tersebut dikenal memiliki corak kepemimpinan kultural dan intelektual.
Di tengah dinamika internal NU, KH Ali Maksum berperan dalam menjaga soliditas organisasi sekaligus mengantarkan NU menuju momentum bersejarah, yakni kembali kepada Khittah 1926.
2. KH Ahmad Shiddiq
KH Ahmad Shiddiq memimpin NU sebagai Rais Aam pada 1984 hingga 1991. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam perumusan pemikiran keagamaan NU pada era tersebut.
Salah satu kontribusi pentingnya adalah memberikan landasan teologis bagi penerimaan Pancasila sebagai asas organisasi. Pemikiran tersebut memperkuat pandangan bahwa keislaman dan kebangsaan dapat berjalan beriringan.
3. Prof KH Ali Yafie
Setelah KH Ahmad Shiddiq wafat pada 1991, Prof KH Ali Yafie dipercaya menjadi Penjabat (Pjs) Rais Aam PBNU pada 1991 hingga 1992.
Selain dikenal sebagai ulama dan akademisi, KH Ali Yafie juga pernah dipercaya memimpin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ). Ia dikenal memiliki perhatian besar terhadap persoalan sosial dan lingkungan, termasuk melalui pengembangan gagasan fikih lingkungan atau fiqhul bi’ah.
4. KH Ilyas Ruhiat
KH Ilyas Ruhiat menjabat Rais Aam pada 1992 hingga 1999. Ulama kharismatik asal Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, itu memimpin NU melewati periode yang penuh gejolak, termasuk menjelang dan sesudah Reformasi 1998.
Kepemimpinannya dikenal mengedepankan kehati-hatian, kebijaksanaan, dan upaya menjaga stabilitas organisasi di tengah perubahan politik nasional.
Era Fikih Sosial dan Organisasi Modern
Memasuki periode berikutnya, orientasi kepemimpinan NU semakin berkembang. Selain mempertahankan tradisi keilmuan pesantren, NU mulai memperkuat tata kelola organisasi, kemandirian ekonomi, serta penerapan nilai-nilai keagamaan untuk menjawab persoalan sosial kontemporer.
1. KH Sahal Mahfudh
KH Sahal Mahfudh menjabat Rais Aam pada 1999 hingga 2014. Ulama asal Kajen, Pati, Jawa Tengah, ini dikenal sebagai salah satu penggagas paradigma fikih sosial.
Melalui fikih sosial, ajaran dan khazanah keislaman tidak hanya ditempatkan sebagai rujukan hukum, tetapi juga diupayakan mampu memberikan solusi terhadap persoalan nyata masyarakat, seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.
2. KH Musthofa Bisri
Setelah KH Sahal Mahfudh wafat pada 2014, KH Musthofa Bisri atau Gus Mus dipercaya menjalankan tugas sebagai Pejabat Rais Aam hingga Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015.
Selain dikenal sebagai ulama, Gus Mus juga merupakan budayawan dan sastrawan. Karya-karya puisinya banyak mengangkat tema keagamaan, kemanusiaan, kebangsaan, dan kehidupan sosial masyarakat.
3. KH Ma’ruf Amin
Dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015, KH Ma’ruf Amin dipercaya menjadi Rais Aam PBNU. Ia menjabat hingga 2018.
KH Ma’ruf Amin dikenal memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi syariah dan pemberdayaan ekonomi umat. Setelah itu, ia mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019–2024.
4. KH Miftachul Akhyar
KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais Aam PBNU pada 2018 dan kembali dipercaya dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021.
Dalam kepemimpinannya, penguatan konsolidasi dan kedisiplinan organisasi menjadi salah satu perhatian utama. Sinergi antara struktur PBNU hingga tingkat wilayah, cabang, dan ranting juga terus didorong agar organisasi semakin solid.
Kini, menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, posisi Rais Aam kembali menjadi salah satu perhatian utama warga Nahdliyin. Sosok yang nantinya dipercaya memimpin otoritas keagamaan NU akan menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Sejarah panjang para Rais Aam menunjukkan bahwa setiap periode memiliki tantangan dan karakter kepemimpinan yang berbeda. Namun, benang merahnya tetap sama, yakni menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam, memperkuat jam’iyah, serta memastikan NU tetap mampu memberikan jawaban atas persoalan keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
Muktamar ke-35 NU di Jombang pun menjadi momentum penting untuk melihat kembali perjalanan tersebut sekaligus menentukan arah baru organisasi di masa mendatang.(Dsy)
