Para pegiat sejarah Jombang saat bersama cucu angkat Mbok Suwi (pengasuh Soekarno kecil) di Ploso, Jombang.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Perdebatan mengenai tempat kelahiran Ir. Soekarno kembali mengemuka menjelang Hari Pahlawan 10 November. Sejumlah pegiat sejarah di Kabupaten Jombang meyakini, Sang Proklamator Republik Indonesia itu pertama kali menghirup napas di tanah Ploso, bukan di Surabaya seperti yang selama ini banyak diyakini.
Untuk meneguhkan keyakinan itu, mereka menggelar napak tilas dan doa bersama, Minggu (9/11), menyusuri sejumlah titik bersejarah di Jombang yang diyakini berkaitan erat dengan masa kecil Bung Karno.
Kegiatan dimulai dari makam Ki Ageng Alimin atau Mbah Ngalimin di Kecamatan Kabuh, Jombang. Tokoh ini dikenal sebagai kakek dari Mas Kiai Suro Sentono atau Kek Suro, penasihat spiritual Bung Karno saat menjabat Presiden dan tinggal di Istana Yogyakarta pada 1946–1949.
Dari Kabuh, rombongan kemudian menuju Ploso, tempat yang disebut-sebut sebagai lokasi Bung Karno kecil pernah bersekolah di Sekolah Desa. Sekolah itu kini telah berubah fungsi menjadi Terminal Ploso, namun para pegiat sejarah tetap berdoa di area tersebut untuk mengenang masa pendidikan awal sang Proklamator.
Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan ke rumah yang diyakini sebagai tempat kelahiran Bung Karno di Gang Buntu, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso. Di lokasi itu, mereka berdialog dengan Mbah Masfi’in, juru kunci atau “Kuncen Titik Nol Soekarno”, serta beberapa sesepuh desa.
Di sela kegiatan doa bersama, para pegiat sejarah menyerukan agar pemerintah segera menetapkan rumah tersebut sebagai situs resmi kelahiran Bung Karno di Jombang.
“Semoga penetapan Situs Kelahiran Bung Karno bisa segera diwujudkan. Ini bukan sekadar klaim, tetapi bentuk penghormatan terhadap sejarah bangsa,” ujar salah satu pegiat sejarah, Umar Fauzi, Senin (10/11).
Usai berdoa di titik nol, rombongan melanjutkan ziarah ke makam Mbok Suwi, perempuan yang diyakini mengasuh bayi Soekarno sejak lahir. Di sana, mereka juga bersilaturahmi dengan Abdul Hamid, cucu angkat Mbok Suwi, yang menuturkan kembali kisah pengasuhan sang Proklamator oleh neneknya.
“Bung Karno adalah pahlawan besar bangsa ini. Sudah sepatutnya kita berdoa untuk beliau dan para pahlawan lainnya agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” tambah Umar.
Sementara itu, pemerhati sejarah Jombang Arif Yulianto, atau akrab disapa Cak Arif, memaparkan sejumlah bukti tertulis dan lisan yang memperkuat keyakinan bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902.
“Berdasarkan besluit pemerintah Hindia Belanda, ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, dipindahkan mengajar ke Ploso pada Desember 1901. Di catatan tulisan tangannya juga disebutkan, Soekarno lahir pada 6 Juni 1902,” terang Cak Arif.
Ia menambahkan, kesaksian tentang kelahiran Bung Karno juga datang dari Kek Suro, tokoh spiritual asal Jombang, yang menjadi saksi langsung peristiwa tersebut.
“Selain itu, di Ploso juga terdapat makam Mbok Suwi, pengasuh Bung Karno, dan Mbah Joyo Dipo, teman masa kecil beliau. Semua bukti ini menguatkan bahwa Bung Karno memang lahir di sebuah rumah menghadap ke timur di Gang Buntu, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso,” jelasnya.
Cak Arif berharap pemerintah daerah dan pusat bisa memberikan perhatian lebih pada situs sejarah di Jombang tersebut.
“Jombang tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri, tetapi juga bisa dikenang sebagai tempat lahirnya Proklamator Republik Indonesia,” pungkasnya.*dsy
