Dialog budaya di punden buyut Gantiyah.(Suaraharianpagi.id/red)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Sejumlah pecinta sejarah dan budaya di Kecamatan Kesamben menggelar dialog budaya untuk menggali jejak peradaban masa lampau di wilayah Jombang.
Acara bertema “Ngerasani Jejak Papundhen, Kesamben Jejak Peradaban Penting Masa Lalu” ini berlangsung di Punden Buyut Gantiyah, Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jumat malam (17/10).
Kegiatan tersebut terselenggara atas inisiasi komunitas pecinta budaya Kesamben bekerja sama dengan Pemerintah Desa Watudakon.
Sejumlah narasumber hadir memberikan pandangan, di antaranya Budayawan Jombang sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang, Nasrul Illah atau akrab disapa Cak Nas, dan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Heru Cahyono. Diskusi dipandu oleh moderator Ari Hakim.
Selain itu, sejarah lokal turut dipaparkan secara khusus. Gus Qonik menyampaikan sejarah Desa Watudakon, sedangkan pemerhati sejarah dan anggota TACB Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif, mengulas perjalanan peradaban di Kecamatan Kesamben.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Jombang, Heru Cahyono, menyatakan pihaknya membuka ruang luas bagi komunitas budaya di daerah, termasuk di Kesamben, untuk melaporkan temuan-temuan yang berpotensi menjadi cagar budaya.
“Jika ada sesuatu terkait penetapan cagar budaya, masyarakat bisa langsung melaporkannya ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Insyaallah akan segera kami tindak lanjuti sesuai regulasi dengan melibatkan TACB,” ujar Heru.
Sementara itu, Cak Nas mengungkapkan bahwa aliran sungai di Desa Watudakon, yang kini dikenal sebagai Kali Watudakon, pada masa lalu disebut sebagai Kali Wewetih dan tercatat dalam kitab Negarakertagama.
“Di dalam Negarakertagama ditulis dengan nama Kali Wewetih,” jelasnya.
Ia juga berharap Punden Buyut Gantiyah tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi berkembang sebagai pusat kegiatan kebudayaan di Kecamatan Kesamben.
“Harapannya, tempat ini bisa menjadi magnet sekaligus pusat berbagai aktivitas budaya,” pungkas Cak Nas.*red
