Driver online saat menunjukkan cara pemasangan gas LPG pada kendaraannya.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Seorang pengemudi ojek online di Kota Mojokerto, Sutaryoko (49), memilih cara untuk menekan biaya operasional harian. Warga Panggerman Gang 3 yang akrab disapa Pak Yoko ini memodifikasi mobilnya agar dapat menggunakan bahan bakar gas (BBG) jenis LPG sebagai alternatif pengganti BBM.
Langkah tersebut diambil bukan tanpa alasan. Pak Yoko mengaku terdorong untuk mencari solusi agar pengeluaran bahan bakar lebih hemat di tengah tingginya biaya operasional sebagai driver online.
“Kalau pakai pertalite biasanya habis Rp100 ribu sampai Rp150 ribu per hari. Tapi kalau pakai elpiji, cukup sekitar Rp40 ribu untuk dua tabung,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan LPG mampu menghemat biaya hingga hampir tiga kali lipat dibandingkan BBM. Dalam satu hari, dua tabung LPG dapat digunakan untuk menempuh jarak sekitar 120 kilometer, bahkan bisa mencapai 150 kilometer untuk perjalanan luar kota.
Tak hanya soal efisiensi, Pak Yoko juga menilai performa mesin kendaraan tetap terjaga. Ia menyebut, penggunaan BBG justru membuat tarikan mesin terasa lebih ringan.
“Secara oktan, LPG itu lebih tinggi, sekitar 110 sampai 112. Jadi pembakaran lebih bersih. Itu terlihat juga dari oli yang tidak cepat hitam seperti saat pakai pertalite,” jelasnya.
Selama kurang lebih enam bulan menggunakan LPG, ia mengaku belum pernah mengalami kerusakan mesin yang berarti. Bahkan, kondisi mesin dinilai lebih bersih dan stabil.
Meski demikian, aspek keamanan tetap menjadi perhatian utama. Ia rutin mengganti seal tabung setiap kali pengisian dan memastikan tidak ada kebocoran sebelum digunakan.
“Setiap ganti tabung pasti saya cek dulu, sealnya juga diganti baru. Jadi aman,” katanya.
Untuk mengantisipasi kondisi darurat, kendaraan miliknya juga tetap dilengkapi sistem bahan bakar ganda. Jika LPG habis di tengah perjalanan, ia dapat langsung beralih ke BBM tanpa perlu mematikan mesin.
“Kalau gas habis, tinggal pindah ke BBM lewat saklar, bahkan saat jalan juga bisa,” tambahnya.
Inspirasi penggunaan LPG ini didapat Pak Yoko dari berbagai sumber di internet, seperti YouTube dan media sosial. Ia kemudian mempelajari pemasangan perangkat hingga akhirnya memutuskan untuk mencoba sendiri.
Pengalaman paling jauh yang pernah ditempuh menggunakan LPG adalah perjalanan ke Semarang. Untuk sekali jalan, ia hanya menghabiskan sekitar Rp80 ribu atau empat tabung gas. Jika dibandingkan dengan BBM, biaya tersebut jauh lebih hemat.
“Kalau pakai pertalite, sekali jalan bisa sampai Rp200 ribu. Kalau pulang pergi bisa Rp400 ribu sampai Rp500 ribu,” ungkapnya.
Kini, inovasi sederhana yang dilakukan Pak Yoko menjadi bukti bahwa efisiensi biaya operasional dapat dicapai dengan cara kreatif, sekaligus membuka peluang alternatif penggunaan energi yang lebih ekonomis bagi para pengemudi di sektor transportasi online.(Dsy)
