Teks: Putri KH Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, mengapresiasi terpilihnya 9 anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Jombang – suaraharianpagi.id
Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid, mengapresiasi terpilihnya sembilan anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Menurut Yenny, sembilan ulama yang mendapat amanah sebagai anggota AHWA merupakan figur yang memiliki kapasitas keilmuan dan kecerdasan untuk ikut menentukan arah perjalanan organisasi NU selama lima tahun mendatang.
“Bagi saya seluruh tim AHWA yang sudah ditunjuk dan diberi amanah adalah para ulama yang memiliki kealiman dan kecerdasan tidak hanya aqli saja,” ujar Yenny saat ditemui di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8) malam.
Sembilan ulama tersebut dipilih para muktamirin melalui sidang pleno penjaringan dan penetapan anggota AHWA. Mereka berasal dari sejumlah daerah dan memiliki latar belakang keulamaan yang beragam.
Berikut sembilan anggota AHWA yang terpilih:
KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) – 485 suara atau 10,3 persen.
Tgk. KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) – 477 suara atau 10,1 persen.
Ag. Dr. KH Baharuddin HS, MA – 392 suara atau 8,3 persen.
KH Miftachul Akhyar – 350 suara atau 7,4 persen.
KH Afifuddin Muhajir – 339 suara atau 7,2 persen.
KH Anwar Iskandar – 326 suara atau 6,9 persen.
KH Anwar Manshur (Lirboyo) – 303 suara atau 6,4 persen.
Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj – 273 suara atau 5,8 persen.
Dr. KH Abun Bunyamin, MA – 268 suara atau 5,7 persen.
Setelah sembilan anggota AHWA ditetapkan, tahapan berikutnya adalah musyawarah internal untuk menentukan rekomendasi calon Rais Aam PBNU. Keputusan tersebut dinilai akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU periode 2026–2031.
Selain menentukan Rais Aam, mekanisme AHWA juga berkaitan dengan proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Bersama Rais Aam terpilih, anggota AHWA nantinya akan memilih satu dari lima kandidat Ketua Umum PBNU yang telah ditetapkan melalui proses penjaringan.
Lima kandidat tersebut diusulkan oleh para pemilik suara yang terdiri atas 557 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).
Selain memberikan apresiasi terhadap terpilihnya anggota AHWA, Yenny Wahid turut menyoroti kericuhan yang terjadi di sekitar arena Muktamar NU ke-35 pada Minggu siang.
Ia menyayangkan aksi demonstrasi kelompok yang mengatasnamakan Generasi Muda NU di halaman Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said berujung pada keributan. Menurut Yenny, ketidakpuasan terhadap keputusan forum seharusnya disampaikan melalui jalur musyawarah, bukan dengan tindakan yang berpotensi merugikan pihak lain.
“Harusnya sebagai warga NU mengedepankan musyawarah untuk segala hal apapun itu. Sehingga tidak melakukan tindak anarkis yang dapat merugikan banyak pihak,” tegasnya.
Yenny juga menyinggung keputusan mengenai masa iddah politik bagi calon Ketua Umum PBNU yang menjadi salah satu persoalan dalam dinamika Muktamar.
Menurut dia, ketentuan masa iddah selama satu tahun dapat menjadi instrumen untuk menjaga independensi NU dari kepentingan politik praktis. Aturan tersebut dinilai penting agar proses kepemimpinan organisasi tidak mudah dipengaruhi kepentingan dari luar.
“Masa i’dah satu tahun yang telah disepakati oleh peserta muktamar adalah cara untuk menjaga NU ini dari kepentingan-kepentingan yang bersifat politik dan menghindari dari susupan para politikus,” katanya.
Yenny berharap seluruh peserta Muktamar tetap mengedepankan tradisi musyawarah dan menjaga persaudaraan. Menurutnya, dinamika dalam forum organisasi merupakan hal yang wajar, tetapi perbedaan pendapat harus tetap diselesaikan dengan cara-cara yang mencerminkan nilai dan tradisi Nahdlatul Ulama. *ds
#muktamar #nu
