Jombang – suaraharianpagi.id
Penentuan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU memasuki tahapan krusial. Sembilan anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) mulai menjalani musyawarah tertutup untuk menentukan Rais ‘Aam PBNU periode mendatang.
Musyawarah tersebut digelar di Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, setelah sembilan anggota AHWA ditetapkan melalui Rapat Pleno V Muktamar ke-35 NU.
Forum ini menjadi perhatian karena AHWA memiliki peran penting dalam menentukan sosok yang akan menduduki posisi Rais ‘Aam PBNU. Proses tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian penentuan kepemimpinan PBNU periode 2026–2031.
Menjelang dimulainya musyawarah, sejumlah tokoh NU terlihat mendatangi kawasan Ndalem Kasepuhan. Dua kandidat Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, terpantau berada di lokasi.
Selain keduanya, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar serta KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq juga terlihat hadir di kawasan tersebut.
Belum diketahui secara pasti agenda pertemuan para tokoh tersebut. Hingga forum AHWA dimulai, tidak ada keterangan resmi yang menjelaskan materi pembicaraan maupun tujuan pertemuan yang berlangsung secara tertutup itu.
Sekitar pukul 21.00 WIB, satu per satu anggota AHWA mulai tiba di Ndalem Kasepuhan. Sejumlah ulama sepuh yang terpantau hadir di antaranya KH Said Aqil Siradj, KH Nurul Huda Djazuli, dan KH Anwar Iskandar.
Kehadiran para anggota AHWA menandai dimulainya forum musyawarah tertutup untuk membahas sosok yang akan menduduki posisi Rais ‘Aam PBNU.
Berbeda dengan sidang pleno Muktamar yang berlangsung di Aula Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum dan dapat dipantau lebih luas, forum AHWA digelar di lokasi dengan akses terbatas.
Dalam mekanismenya, penentuan anggota AHWA sebelumnya dilakukan berdasarkan aspirasi yang dihimpun dari struktur NU, mulai dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara.
Aspirasi tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses musyawarah AHWA untuk menentukan Rais ‘Aam. Forum ini juga memiliki keterkaitan dengan tahapan penentuan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Karena berlangsung tertutup, materi pembahasan serta nama-nama yang muncul dalam musyawarah belum dapat dipastikan. Informasi resmi mengenai hasil forum baru dapat diketahui setelah disampaikan oleh pihak penyelenggara atau pihak yang memiliki kewenangan.
Pantauan di lokasi menunjukkan pengamanan di sekitar Ndalem Kasepuhan diperketat dengan akses yang terbatas. Kondisi tersebut membuat aktivitas di sekitar lokasi menjadi perhatian, mengingat forum AHWA memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Gus Yahya, Gus Kikin, anggota AHWA maupun panitia Muktamar mengenai isi pertemuan para tokoh dan pembahasan dalam forum tersebut.
Informasi mengenai kehadiran sejumlah tokoh di Ndalem Kasepuhan dalam berita ini berdasarkan pantauan di lokasi dan mekanisme resmi Muktamar, bukan berdasarkan pernyataan langsung mengenai isi pertemuan.
Sementara itu, rapat tertutup AHWA untuk menentukan Rais ‘Aam PBNU di Ndalem Kasepuhan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas masih berlangsung. *ds
