Tumpukan tabung LPG kosong di salah satu pengecer.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Kelangkaan LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram masih dirasakan warga di berbagai wilayah Kabupaten Jombang sejak awal April 2026. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas pelaku usaha kecil.
Sejumlah warga mengaku harus berkeliling hingga ke luar kecamatan demi mendapatkan gas elpiji. Bahkan, ketika stok tersedia, masyarakat langsung menyerbu sehingga dalam waktu singkat kembali habis.
Akmal, salah satu agen LPG di Kecamatan Peterongan, menyebut keterlambatan distribusi sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun, dalam dua bulan terakhir kondisinya semakin parah.
“Pengiriman sering terlambat sejak sekitar satu tahun lalu, tapi dua bulan terakhir makin sering. Puncaknya minggu ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterbatasan pasokan membuat warga panik dan membeli dalam jumlah lebih banyak saat stok datang. Akibatnya, elpiji cepat habis dan kembali langka.
“Kemarin sempat ada kiriman, tapi tidak sampai satu jam sudah habis. Sekarang kosong lagi,” tambahnya.
Kelangkaan ini turut dirasakan pelaku UMKM, khususnya pedagang makanan. Nasihin (43), pedagang nasi pecel, mengaku kesulitan mendapatkan LPG untuk memasak.
Ia bahkan harus berkeliling ke sejumlah wilayah seperti Peterongan dan Sumobito, sebelum akhirnya menemukan stok di Mojoagung.
“Sudah muter ke mana-mana, banyak yang kosong. Akhirnya dapat di Mojoagung,” ungkapnya.
Nasihin khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, usahanya terpaksa berhenti sementara karena tidak memiliki bahan bakar untuk memasak.
“Kalau terus begini, ya bisa libur jualan. Tidak mungkin masak tanpa gas,” ujarnya.
Kelangkaan LPG 3 kilogram juga terjadi di wilayah utara Brantas, tepatnya di Desa Tapen, Kecamatan Kudu. Warga setempat mengaku sudah dua pekan mengalami kesulitan mendapatkan elpiji.
Yunan, salah satu warga, mengatakan selain langka, harga LPG juga mengalami kenaikan di tingkat pengecer.
“Sekarang harganya Rp20 ribu sampai Rp22 ribu. Meski mahal, tetap dibeli karena kebutuhan. Tapi banyak toko sudah kosong,” katanya.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab kelangkaan LPG 3 kilogram di Jombang.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menormalkan distribusi agar aktivitas masyarakat dan pelaku usaha tidak semakin terganggu.(Dsy)
