Petugas DLH Bojonegoro sedang mengambil sampel air Bengawan Solo.(Suaraharianpagi.id/red)
Bojonegoro – Suaraharianpagi.id
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergerak cepat menelusuri penyebab perubahan warna air Sungai Bengawan Solo. DLH Bojonegoro telah mengambil sejumlah sampel air untuk diuji di laboratorium terakreditasi di Surabaya.
Sekretaris DLH Kabupaten Bojonegoro, Beny Subiakto, menjelaskan bahwa tim DLH telah diterjunkan ke lapangan untuk mendokumentasikan kondisi air, menentukan titik lokasi, serta mengambil sampel di beberapa titik aliran Bengawan Solo.
“Sampel air Bengawan Solo sudah kami kirim untuk diuji di laboratorium terakreditasi di Surabaya. Hal ini dilakukan karena laboratorium milik DLH Bojonegoro belum terakreditasi,” jelas Beny.
Ia menambahkan, hasil uji laboratorium diperkirakan akan keluar dalam waktu 10 hingga 14 hari kerja. “Saat ini kami belum bisa menyimpulkan penyebab perubahan warna air karena masih menunggu hasil uji laboratorium,” tegasnya.
Senada, Staf Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Bojonegoro, Tutik Prangmiatun, menyampaikan bahwa pihaknya juga melakukan pengambilan sampel air permukaan di titik Bendung Gerak Kalitidu dengan koordinat S 07°08’05.64″ dan E 111°49’55.57″.
“Pengambilan sampel ini dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VI tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terkait baku mutu air sungai dan sejenisnya,” ujar Tutik.
Selain pengambilan sampel, DLH Bojonegoro juga memantau status mutu air Bengawan Solo melalui sistem ONLIMO (Online Monitoring System) pada Stasiun KLHK59 Padangan. Pemantauan dilakukan berdasarkan grafik tren tujuh hari, yakni periode 16–22 September 2025.
“DLH Bojonegoro juga telah melakukan koordinasi dan pelaporan kepada DLH Provinsi Jawa Timur, dengan tembusan kepada BBWS Bengawan Solo serta Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup di Surabaya, sebagai upaya mengidentifikasi sumber pencemar dan langkah penanganannya,” ungkap Tutik.
DLH Bojonegoro menegaskan akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan sejumlah daerah lain yang terdampak fenomena serupa. Pihaknya juga memastikan bahwa sumber pencemaran air Bengawan Solo tidak berasal dari wilayah Kabupaten Bojonegoro.
“Koordinasi telah kami lakukan dengan wilayah hulu, yakni DLH Kabupaten Ngawi. Dari hasil koordinasi tersebut diperoleh informasi bahwa kondisi air yang masuk ke wilayah Ngawi sudah dalam keadaan tercemar,” pungkasnya.*red
