Tumpukan 35 ribu ton gula hasil giling periode keempat di gudang PG. Gempolkerep.(suaraharianpagi.id/dsy)
Mojokerto – suaraharianpagi.id
Pabrik Gula (PG) Gempolkrep PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menghadapi kendala serius dalam distribusi hasil produksinya. Saat ini, sekitar 35 ribu ton gula hasil giling periode keempat masih menumpuk di gudang dan belum terserap pasar.
Hal itu terungkap dalam kegiatan plant tour yang digelar PG Gempolkrep bersama puluhan wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mojokerto Raya, Rabu (18/9).
Para awak media diajak menelusuri proses produksi gula mulai dari penggilingan tebu hingga penyimpanan.
General Manager PG Gempolkrep PT SGN, Edy Purnomo, S.T.P., menyebutkan bahwa kapasitas produksi harian pabrik mencapai 450–500 ton. Dari empat periode giling, produksi sudah mencapai 7.500–8.000 ton gula. Namun sebagian besar belum terjual karena serapan pasar yang rendah.
“Kalau gula tidak segera terjual, stok akan terus menumpuk. Kondisi ini berpengaruh pada kelancaran operasional, mulai dari biaya pengangkutan, pembayaran sopir truk, hingga kebutuhan pendanaan lainnya,” jelas Edy.
Ia menambahkan, harga lelang gula saat ini dipatok Rp14.500 per kilogram sebagai batas minimal. Namun, lesunya pasar membuat distribusi tersendat. Untuk mencari jalan keluar, pihak pabrik bersama kementerian terkait sudah melakukan pertemuan dengan pembeli dan distributor.
Edy berharap pemerintah lebih serius mendukung kelancaran distribusi gula. “Produksi gula nasional nilainya bisa triliunan rupiah. Keberhasilan serapan sangat penting, bukan hanya untuk petani, tapi juga bagi perekonomian nasional,” tegasnya.
Ketua PWI Mojokerto Raya, Aminuddin Ilham, mengapresiasi keterbukaan PG Gempolkrep kepada insan pers melalui kegiatan plant tour ini.
“Kami senang bisa melihat langsung proses produksi gula. Semoga hubungan baik ini berlanjut, sehingga informasi terkait PG Gempolkrep bisa tersampaikan ke masyarakat,” ujarnya. *dsy
