Karya: Wandi G. Naipon
10 April 2026
Halmahera Tengah – Suaraharianpagi.id
Pedang di Tanah Rempah
Di abad ketika layar-layar putih
membelah dada Laut Halmahera,
Diego Alvarez turun dari kapal
dengan mata penuh peta
lelaki dari Portugal
yang diajari bahwa dunia bisa dimiliki
selama pedang cukup tajam
dan meriam cukup lantang.
Pelabuhan Ternate berbau cengkih dan keringat,
di bawah bayang Gunung Gamalama
yang berdiri seperti penjaga langit timur.
Di sanalah ia melihat Siti Aisyah,
putri tanah Maluku Utara,
yang langkahnya setenang doa subuh
dan seteguh batu karang.
Namun tanah ini bukan halaman kosong.
Ia pernah bergetar oleh sumpah para sultan,
oleh takbir dan denting perang
pada masa Ternate dan Tidore
dua saudara yang menjaga harga diri
lebih mahal dari emas Eropa.
Aisyah tumbuh dari kisah-kisah luka:
tentang benteng yang ditegakkan dengan paksa,
tentang perjanjian yang ditulis dengan tipu,
tentang laut yang memerah oleh ambisi.
Ia tahu, mencintai lelaki asing
bisa berarti mengkhianati air mata leluhur.
Namun malam kadang lebih jujur dari siang.
Di antara aroma pala dan desir ombak,
Diego berbisik,
“Aku datang untuk menguasai,
namun negerimu membuatku merasa kecil.”
Pedangnya terasa berat,
seolah baja itu malu
pada ketulusan matanya sendiri.
Pada senja yang merah seperti sejarah,
ia menancapkan pedang ke tanah rempah
bukan sebagai tanda penjajahan,
melainkan pengakuan:
bahwa cinta tak bisa ditaklukkan.
Dan bumi Maluku Utara berbisik lirih:
bahkan baja pun dapat luluh
jika belajar menghormati
tanah yang dicintainya.(Fik)
