Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di sela kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Politama Mojokerto.(Suaraharianpagi.id/Desy)
Mojokerto Kota – Suaraharianpagi.id
Politeknik Internasional Tamansiswa (Politama) Mojokerto terus memperkuat fondasi akademik dan kelembagaannya untuk menghadapi kebutuhan sumber daya manusia di tengah momentum bonus demografi Indonesia.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni memperkuat kerja sama dengan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Penandatanganan tersebut berlangsung di sela kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Politama Mojokerto di Jalan Taman Siswa No. 30, Mergelo, Purwotengah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Senin (28/9/2026).
Rektor Politama Mojokerto, Prof. Dr. Martani Huseini, mengatakan pengembangan perguruan tinggi di lingkungan Tamansiswa menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia agar bonus demografi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Intinya, bahwa bonus demografi yang akan berakhir tahun 2030, Indonesia Emas 2045 ini Tamansiswa harus ikut berkontribusi,” kata Martani.
Menurutnya, Tamansiswa sebelumnya telah memiliki basis pendidikan tingkat SMK yang cukup besar. Namun, keberadaan pendidikan lanjutan di tingkat perguruan tinggi dinilai penting agar lulusan SMK memiliki jalur untuk meningkatkan pendidikan dan kompetensinya.
“Salah satunya kan kita sudah punya pendidikan SMK, terusannya ke atas itu belum banyak yang memikirkan,” ujarnya.
Martani menjelaskan, gagasan pendirian Politama sebelumnya telah dibicarakan oleh jajaran pimpinan Tamansiswa. Almarhum Darwanto disebut menjadi salah satu pihak yang mendorong lahirnya perguruan tinggi vokasi tersebut.
“Almarhum Pak Darwanto itu sebagai pimpinan menyepakati harus didirikan Politeknik yang jurusannya ada tiga itu. Nah, itu idealismenya seperti itu,” jelasnya.
Kini, Politama telah berjalan lebih dari empat tahun dan telah menghasilkan lulusan. Ke depan, pengembangan institusi diarahkan agar cakupan pendidikan yang tersedia semakin luas.
“Ini sudah berlangsung dan menghasilkan sarjana, berarti sudah empat tahun lebih,” ungkap Martani.
Ia mengatakan, Politama tidak ingin berhenti hanya sebagai institusi pendidikan vokasi. Pengembangan menuju institusi pendidikan tinggi dengan pilihan program yang lebih beragam tengah disiapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja di masa mendatang.
“Untuk membesarkan agar supaya ini menjadi institusi yang bukan hanya vokasi saja, kita juga membangun universitas supaya variannya lebih banyak karena kebutuhan ke depannya,” katanya.
Dalam proses pengembangan tersebut, Politama memperkuat hubungan kelembagaan dengan UST Yogyakarta. Bagi Martani, UST memiliki posisi penting karena sama-sama berada dalam lingkungan Tamansiswa.
Kerja sama tersebut kemudian diformalkan melalui MoU yang mencakup berbagai bidang dalam Tridarma Perguruan Tinggi.
Rektor UST Yogyakarta, Prof. H. Pardimin Hadiatmojo, mengatakan kerja sama antara kedua perguruan tinggi sebenarnya telah berjalan sebelum MoU ditandatangani.
“Ini hanya memformalkan. Karena antara Politama dan UST itu sebenarnya sudah sama-sama Tamansiswa. Kemudian secara riil juga sudah ada kerja sama antardosen dan lain sebagainya,” kata Prof. Pardimin.
Ia mencontohkan, kerja sama sebelumnya telah dilakukan dalam kegiatan akademik, salah satunya terkait Beban Kerja Dosen (BKD).
“Misalnya tentang BKD, kemarin asesornya juga mengambil dari dosen UST. Jadi sebenarnya kerja sama sudah dilakukan,” ujarnya.
Namun, menurut Prof. Pardimin, kerja sama tersebut perlu memiliki landasan hukum yang lebih kuat. Hal itu juga berkaitan dengan kebutuhan administrasi dan akreditasi perguruan tinggi.
“Tapi untuk memformalkan perlu adanya MoU. Karena ini nanti juga diperlukan terkait misalnya akreditasi. Itu ditanyakan dasar hukumnya, ada MoU-nya sudah ada apa belum,” jelasnya.
Ia menegaskan, meskipun berbagai bentuk kerja sama telah berlangsung, keberadaan MoU akan memperkuat legal formal hubungan antara Politama dan UST.
“Memperkuat legal formalnya. Kerja sama ini nanti bentuknya pendidikan, penelitian, pengabdian. Di perguruan tinggi dikenal dengan Tridarma Perguruan Tinggi,” katanya.
Prof. Pardimin menyebut ruang lingkup kerja sama yang dapat dikembangkan kedua perguruan tinggi cukup luas. Di bidang pendidikan, misalnya, mahasiswa Politama berpeluang melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana yang tersedia di UST.
Selain itu, kerja sama juga dapat mencakup pembimbingan kenaikan jabatan akademik dosen serta keterlibatan akademisi dalam kegiatan asesor BKD.
“Kalau bentuknya banyak banget. Misalnya kalau pendidikan, itu misalnya kalau ingin melanjutkan studi, di UST kan sudah ada pascasarjana. Terus pembimbingan kenaikan jabatan akademik, kemudian menjadi asesor BKD. Selama ini sudah dilakukan,” paparnya.
Di bidang penelitian, kedua perguruan tinggi juga berpeluang melakukan riset bersama. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kegiatan akademik sekaligus menghasilkan penelitian yang dapat memberikan manfaat lebih luas.
“Kemudian tentang penelitian, kerja sama riset antara dua perguruan tinggi ini sangat penting,” tutur Prof. Pardimin.
Sementara dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, bentuk kerja sama dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Termasuk di antaranya pertukaran mahasiswa serta berbagai kegiatan akademik lainnya.
“Yang ketiga ini lebih luas, pengabdian masyarakat, pertukaran mahasiswa bisa, macam-macam,” imbuhnya.
Martani menambahkan, pengembangan Politama juga tidak terlepas dari potensi industri dan sumber daya manusia di Jawa Timur, khususnya Mojokerto.
Menurutnya, banyaknya sekolah menengah dan keberadaan industri di kawasan Mojokerto menjadi peluang yang perlu dihubungkan melalui pendidikan tinggi yang mampu menghasilkan lulusan sesuai kebutuhan.
“Kita memiliki SDM SMK yang banyak sekali, 2.500 SMK, SMA di wilayah Jawa Timur. Mojokerto ini banyak industri,” ujarnya.
Karena itu, Politama diharapkan menjadi salah satu jalur untuk meningkatkan kapasitas generasi muda melalui pendidikan tinggi.
“Jadi untuk mendorong supaya warga yang tadi bonus demografi tadi bisa kita tingkatkan lagi, maka kita bangun namanya Politama,” kata Martani.
Ia menegaskan, pengembangan Politama akan terus diarahkan agar pendidikan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan saat ini, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan sumber daya manusia pada masa mendatang.
Dengan penguatan kerja sama bersama UST Yogyakarta dan berbagai pihak lainnya, Politama diharapkan semakin memiliki kapasitas untuk mengembangkan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dalam melanjutkan pendidikan dan mengembangkan kompetensinya.(Dsy)




