Siswa SMPN 1 Kabuh, Jombang saat mendapat perawatan medis di puskesmas Kabuh.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Hasil uji laboratorium akhirnya menjawab teka-teki penyebab keracunan massal yang melumpuhkan aktivitas belajar di SMPN 1 Kabuh. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang memastikan bahwa menu Udang Saus Padang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) dengan tingkat kontaminasi tinggi, yakni 120 CFU per gram.
Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menegaskan bahwa temuan ini merupakan pelanggaran serius terhadap standar keamanan pangan.
“Kalau makanan, E. coli itu harusnya negatif. Artinya, tidak boleh ada sama sekali. Tapi di sampel udang saus padang, angkanya mencapai 120 CFU per gram,” ungkap dr. Hexawan, Jumat (11/9/2026).
Investigasi Dinkes yang mengirimkan sampel ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya tidak hanya berhenti pada lauk pauk. Pemeriksaan menyeluruh terhadap komponen makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangunan, Kecamatan Kabuh, menemukan kejanggalan lain:
1. Nasi Putih: Positif mengandung bakteri Bacillus cereus, jenis bakteri yang sering ditemukan pada nasi yang disimpan terlalu lama atau pada suhu yang tidak tepat.
2. Air Minum: Sampel air yang digunakan untuk memasak dan minum, termasuk air galon isi ulang, juga terdeteksi positif E. coli.
Meski demikian, dr. Hexawan menekankan bahwa beban bakteri tertinggi tetap berada pada udang saus padang, sehingga menjadi tersangka utama penyebab gejala akut yang dialami ratusan siswa.
Temuan laboratorium ini semakin menguatkan dugaan awal berdasarkan waktu munculnya gejala. Para siswa mulai menyantap menu MBG sekitar pukul 11.30 WIB. Sekitar lima hingga enam jam kemudian, atau tepatnya pukul 17.00 WIB, puluhan siswa mulai mengeluhkan mual, sakit perut, dan diare.
“E. coli kan butuh waktu tiga sampai empat jam [masa inkubasi] untuk menimbulkan gejala. Ini sangat konsisten dengan laporan waktu kejadian,” jelas dr. Hexawan.
Hingga saat ini, data Dinkes Jombang mencatat sebanyak 259 orang terdiri dari siswa, guru, dan tenaga kebersihan telah mengalami keluhan kesehatan pasca mengonsumsi menu tersebut. Sebagian besar telah pulih setelah mendapat perawatan medis, namun insiden ini meninggalkan trauma dan pertanyaan besar mengenai standar higiene di dapur SPPG.
Dr. Hexawan mengingatkan bahwa keberadaan E. coli dalam makanan adalah indikator kuat adanya kontaminasi tinja atau sanitasi yang buruk selama proses pengolahan.
“Ini adalah peringatan keras. Pengelola SPPG harus segera mengevaluasi seluruh rantai pasok, mulai dari kebersihan bahan baku, proses pencucian, hingga penyimpanan air bersih. Keamanan pangan anak sekolah adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar,” pungkasnya.
Pemkab Jombang diperkirakan akan menjatuhkan sanksi administratif serta melakukan pembinaan intensif terhadap pengelola SPPG Mangunan untuk mencegah terulangnya tragedi keracunan makanan di lingkungan pendidikan.(Dsy)




