Siswa SMPN 1 Mojoanyar yang dirawat di Puskesmas Gayaman, Mojoanyar, Mojokerto.(Suaraharianpagi.id/Desy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Dugaan keracunan makanan kembali terjadi di lingkungan sekolah. Sebanyak 42 siswa SMPN 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, mengalami gejala mual, muntah hingga diare pada Rabu (7/10/2026).
Puluhan siswa tersebut diduga mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan sehari sebelumnya. Salah satu menu yang kini menjadi perhatian adalah sate ayam.
Kepala Dapur SPPG Mojoanyar, Yanse Young Pribadi, mengatakan sejumlah siswa mengaku sate ayam yang mereka konsumsi sehari sebelumnya memiliki bau dan rasa yang tidak normal.
“Pengakuan dari para siswa, ayamnya berbau dan merasakan asam. Ada yang mengaku makan ayamnya saja sudah terasa asam,” kata Yanse.
Namun, ia menegaskan dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa makanan MBG menjadi penyebab munculnya gejala pada para siswa. Sampel makanan telah dibawa untuk diperiksa di laboratorium.
“Masih belum tahu betul apakah ini dari kesalahan kita atau bagaimana. Masih dicek di laboratorium,” ujarnya.
Menu MBG yang dibagikan sehari sebelum kejadian terdiri dari sate ayam, nasi, acar timun dan wortel, serta buah anggur. Pada hari tersebut, SPPG Mojoanyar mendistribusikan sekitar 2.919 porsi makanan untuk 15 lembaga pendidikan.
Khusus SMPN 1 Mojoanyar, jumlah penerima MBG mencapai sekitar 702 orang, termasuk siswa, guru, dan karyawan.
Menurut Yanse, makanan untuk siswa SMP dimasak mulai sekitar pukul 05.00 WIB dan dibagikan sekitar pukul 11.00 WIB. SPPG Mojoanyar juga melayani SMPN 2 Mojoanyar, sehingga total penerima dari dua sekolah tersebut sekitar 1.500 siswa.
Yanse menduga kondisi cuaca panas juga menjadi salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa. Kondisi tersebut, menurutnya, bisa menyebabkan makanan menjadi lembap dan berpotensi memengaruhi kualitas makanan.
“Perkiraan asam dan berbau penyebabnya mungkin di bumbunya. Mungkin karena cuaca panas sehingga lembab di dalam membuat makanan seperti itu,” jelasnya.
Meski demikian, Yanse menegaskan pihak SPPG belum menerima laporan dari sekolah mengenai adanya keluhan bau maupun rasa asam pada sate ayam saat makanan tersebut dibagikan.
Padahal, pihak SPPG telah meminta sekolah segera melaporkan apabila menemukan makanan yang dianggap tidak layak atau memiliki rasa dan aroma yang tidak normal.
“Kami sudah bilang berkali-kali ke pihak sekolah, kalau ada apa-apa, misalnya tidak enak atau bagaimana, bilang berapa porsinya nanti kami ganti dengan yang baru. Kami selalu terima kalau ada seperti itu dan berani menanggungnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini, mengatakan total terdapat 42 siswa yang mengalami gejala mual, muntah, dan diare.

Sebanyak 27 siswa telah membaik dan diperbolehkan pulang. Sedangkan 15 siswa sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.
“Dari 15 yang dibawa ke puskesmas, enam sudah membaik dan tinggal sembilan ini masih dirawat. Jadi total ada 42 siswa yang diduga mengalami gejala keracunan,” kata Dyan.
Dyan menegaskan, pihaknya masih menggunakan istilah dugaan keracunan lantaran belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan penyebabnya.
“Sekali lagi ini masih diduga, jadi masih perlu pembuktian. Karena mungkin ada yang alergi makanan atau apa,” ujarnya.
Menurutnya, jumlah siswa yang mengalami gejala juga relatif kecil dibandingkan dengan jumlah makanan yang didistribusikan.
“Dari 1.500 porsi yang mengalami gejala mual, muntah, diare hanya 42 siswa,” jelasnya.
Kepala SMPN 1 Mojoanyar, Elly Rosidah, juga menegaskan pihak sekolah belum dapat memastikan bahwa gejala yang dialami siswa disebabkan makanan MBG.
Menurut Elly, gejala mulai diketahui sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, MBG untuk Rabu (7/10/2026) belum dibagikan kepada siswa.
“Belum jelas keracunan apa, masih diperiksa di sana. Yang jelas pihak puskesmas sudah fix aman,” kata Elly.
Ia mengungkapkan, dari 15 siswa yang dibawa ke puskesmas, empat di antaranya telah dijemput orang tua. Pihak sekolah pun memilih menunggu hasil pemeriksaan sebelum menyimpulkan penyebab kejadian.
“Saya tidak berani memberikan statement bahwa ini keracunan karena MBG. Kami tidak punya bukti penelitian bahwa ini keracunan dan karena MBG,” tegasnya.
Elly mengatakan, pihak sekolah juga tidak mengetahui secara pasti makanan yang dikonsumsi siswa sebelum mengalami gejala. Kemungkinan siswa mengonsumsi makanan lain di rumah juga masih terbuka.
“Kami tidak tahu apakah di rumah habis makan MBG atau makan apa. Saya tidak bisa memberikan statement apakah ini murni karena MBG atau tidak,” ujarnya.
Dengan demikian, dugaan keterkaitan antara gejala yang dialami siswa dengan makanan MBG masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan dari Dinas Kesehatan.
Hasil pemeriksaan tersebut nantinya menjadi dasar untuk memastikan apakah sate ayam atau menu MBG lainnya memang menjadi sumber munculnya gejala pada puluhan siswa SMPN 1 Mojoanyar, atau terdapat faktor lain yang menyebabkan mereka mengalami mual, muntah dan diare.(Dsy)




