Manuskrip Alqur'an peninggalan kuno yang masih terawat baik.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Jejak dakwah Islam masa lampau masih tersimpan di wilayah Pekayon, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Enam manuskrip kuno, termasuk satu Al-Qur’an yang diduga terbuat dari kulit hewan dan berusia ratusan tahun, kini dirawat oleh Muhammad Ilyasin, cicit Kiai Soleh.
Ilyasin menuturkan, Kiai Soleh diyakini sebagai tokoh yang menyebarkan agama Islam di kawasan tersebut sekitar abad ke-9 Masehi, atau sekira tahun 800-an. Meski tahun pasti keberadaan Al-Qur’an kuno itu belum dapat dipastikan, sejumlah penelitian akademik memperkirakan usianya mencapai 200 hingga 300 tahun.
“Dari penelitian mahasiswa dan akademisi beberapa kampus, dilihat dari bahan yang digunakan, diperkirakan berusia sekitar dua sampai tiga abad. Namun angka pastinya kami belum bisa memastikan,” ujar Ilyasin.
Sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam disebut pernah melakukan kajian terhadap manuskrip tersebut, di antaranya UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan UIN Syekh Wasil Kediri.
Awalnya, keluarga menyimpan banyak kitab kuno peninggalan leluhur dalam sebuah lemari tua. Namun musibah banjir besar yang melanda Kota Mojokerto pada 2004 menjadi titik krusial.
“Waktu itu tinggi banjir sekitar satu setengah meter. Lemari tempat penyimpanan kitab terendam. Banyak yang rusak, hanya enam manuskrip yang berhasil kami selamatkan,” ungkapnya.
Untuk menghindari kerusakan lanjutan, manuskrip-manuskrip tersebut kemudian dipindahkan dan dititipkan di masjid. Saat itu, Ilyasin menjabat sebagai ketua takmir. Pada 2019, naskah-naskah tersebut kembali dibawa pulang untuk dipelajari sekaligus dirawat secara mandiri.
Dari enam manuskrip yang tersisa, salah satunya merupakan Al-Qur’an. Sisanya berisi teks tahlil dan berbagai kajian keilmuan Islam yang ditulis tangan.
Menurut Ilyasin, keunikan Al-Qur’an tersebut terletak pada bahan yang digunakan. Ia meyakini manuskrip itu ditulis di atas kulit hewan, terlihat dari teksturnya yang berbeda dan cenderung tembus pandang.
“Kalau dipegang terasa berbeda. Tulisannya masih jelas, tidak luntur. Justru yang rapuh itu medianya, karena sudah tua dan ada yang dimakan rayap,” katanya.
Ia menilai metode pembelajaran Islam melalui tulisan tangan seperti pada masa lampau menyimpan nilai historis dan spiritual yang tinggi.
“Metode pengajaran zaman dahulu melalui tulisan tangan itu sangat baik. Tidak semua bisa digantikan teknologi. Ada nilai keberkahan dan kesungguhan di dalamnya,” tuturnya.
Sebagai ahli waris, Ilyasin berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak lain untuk membantu upaya pelestarian manuskrip kuno tersebut, terutama dalam hal perawatan agar tidak rusak akibat kelembapan dan serangan rayap.
“Ini warisan Al-Qur’an. Mari kita jaga bersama. Kami berusaha merawat semampunya, tapi tentu akan sangat terbantu jika ada dukungan untuk perawatan yang lebih baik,” ujarnya.
Keberadaan manuskrip kuno di Kranggan ini bukan sekadar peninggalan keluarga, melainkan bagian dari mozaik sejarah penyebaran Islam di Mojokerto yang patut dijaga sebagai warisan intelektual dan spiritual lintas generasi.(Dsy)
