Rapat Koordinasi Antisipasi Dampak Perang Timur Tengah di Ruang SBK Pemkab Mojokerto. (suaraharianpagi.id/ds)
Kabupaten Mojokerto – suaraharianpagi.id
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto bergerak cepat merespons dinamika global dengan menggelar Rapat Koordinasi Antisipasi Dampak Perang Timur Tengah, Jumat (27/3) siang, di Ruang Rapat Satya Bina Karya (SBK), Pemkab Mojokerto.
Rapat tersebut menjadi langkah strategis untuk memetakan potensi dampak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terhadap stabilitas ekonomi, baik di tingkat nasional maupun daerah, sekaligus merumuskan langkah mitigasi yang konkret dan terukur.
Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), konflik global yang dipicu serangan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026 berpotensi mengganggu jalur strategis Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Kondisi ini berimbas pada lonjakan harga energi, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, hingga tekanan terhadap perekonomian global.
Dampak tersebut dinilai dapat mempengaruhi Indonesia, mulai dari meningkatnya inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga menurunnya investasi dan aktivitas ekspor.
Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra, menegaskan bahwa pemerintah daerah harus sigap dan adaptif dalam menghadapi situasi global yang dinamis. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga, khususnya bahan kebutuhan pokok, agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Dinamika global akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi, baik nasional maupun daerah. Karena itu, kita harus memperkuat langkah antisipatif secara bersama,” tegas Bupati yang akrab disapa Gus Barra.
Selain itu, ia juga mendorong penguatan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin dan rentan melalui penyaluran bantuan yang tepat sasaran, termasuk optimalisasi bantuan langsung tunai berbasis data yang akurat.
Bupati juga menekankan pentingnya efisiensi dan penataan ulang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dengan memprioritaskan program yang berdampak langsung bagi masyarakat serta mengurangi kegiatan yang kurang produktif.
Dari sisi sektoral, konflik global diperkirakan berdampak pada industri pengolahan dan pelaku UMKM akibat kenaikan biaya energi dan bahan baku. Hal ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, meningkatkan angka pengangguran, serta memperbesar risiko kemiskinan.
Tekanan juga diprediksi terjadi pada belanja pemerintah daerah, termasuk kemungkinan penurunan transfer ke daerah dan pergeseran prioritas kebijakan menuju stabilisasi harga serta bantuan sosial.
Untuk itu, Pemkab Mojokerto menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan melalui pemantauan harga secara berkala dan penguatan rantai pasok, serta menjaga ketahanan energi melalui upaya efisiensi di berbagai sektor.
“Kewaspadaan fiskal menjadi kunci agar kebijakan daerah tetap responsif tanpa membebani keuangan daerah secara berlebihan,” terang Gus Barra.
Mengakhiri arahannya, Bupati mengajak seluruh perangkat daerah untuk terus memperkuat sinergi dan bekerja secara cepat, tepat, serta terukur dalam menghadapi tantangan global.
“Saya mengajak seluruh jajaran untuk meningkatkan kolaborasi agar pembangunan tetap berjalan optimal dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika global,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh perangkat daerah, camat, serta berbagai pemangku kepentingan terkait di Kabupaten Mojokerto. *ds
Tag :
#bupatimojokerto #wabubmojokerto #sekdamojokerto #humasmojokerto #kominfomojokerto
