Para pekerja nampak membersihkan sisa tebu terakhir dalam musim giling tahun 2026.(Suaraharianpagi.id/Desy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Pabrik Gula (PG) Gempolkrep di Desa Gempolkerep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, resmi mengakhiri musim giling tebu tahun 2026 pada Minggu (1/11/2026). Selama kurang lebih 156 hari beroperasi, pabrik gula yang dikelola PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) tersebut mencatat produksi gula sekitar 67.000 ton.
Jumlah produksi itu mengalami penurunan sekitar 16.000 ton dibandingkan musim giling tahun 2025 yang mencapai 83.000 ton. Selain produksi gula, jumlah tebu yang digiling tahun ini juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Divisi Humas PT SGN PG Gempolkrep, Taufan Pamungkas, mengatakan seluruh proses penggilingan tebu tahun 2026 telah selesai. Tebu terakhir digiling pada Minggu (1/11/2026).
“Sudah kemarin tebu terakhir, total produksi gula kurang lebih 67 ribu ton,” ujar Taufan, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan data perusahaan, selama musim giling 2026, PG Gempolkrep mengolah sebanyak 876.042 ton tebu. Sementara pada musim giling 2025, jumlah tebu yang berhasil digiling mencapai sekitar 1.004.063 ton.
Perbedaan juga terlihat dari lamanya masa operasional pabrik. Pada tahun 2026, musim giling berlangsung selama 156 hari, lebih singkat dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 195 hari.
Penurunan produksi tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor, salah satunya tingginya harga bahan baku tebu. Adapun tingkat rendemen tebu selama musim giling tahun ini tercatat sebesar 7,76 persen.
Taufan menjelaskan, tingginya harga bahan baku menjadi salah satu faktor yang memengaruhi capaian produksi gula PG Gempolkrep pada musim giling tahun ini.
“Faktor yang memengaruhi penurunan produksi salah satunya bahan baku tebu yang tinggi, untuk rendemennya tahun ini 7,76 persen,” tuturnya.
Di sisi lain, PG Gempolkrep memiliki wilayah binaan perkebunan tebu rakyat yang cukup luas di Kabupaten Mojokerto dan daerah sekitarnya. Total luas lahan tebu yang menjadi wilayah binaan atau pemasok bahan baku pabrik tersebut tercatat sekitar 12.331,8 hektare.
Pasokan bahan baku tebu sebagian besar berasal dari petani yang tergabung dalam pola kemitraan melalui Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR). Selain itu, pengelolaan kontrak pasokan tebu juga dilakukan melalui Koperasi Unit Desa (KUD) setempat.
Berakhirnya musim giling 2026 menjadi catatan tersendiri bagi PG Gempolkrep, terutama terkait penurunan jumlah tebu tergiling dan produksi gula dibandingkan tahun sebelumnya.
Ke depan, ketersediaan bahan baku, produktivitas lahan tebu rakyat, serta peningkatan rendemen menjadi sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan untuk mendukung peningkatan produksi pada musim giling berikutnya.(Dsy)




