Muhammad Ibnu Al-Farabi atau akrab disapa Cak Obi, salah satu warga Jombang yang menyewakan rumahnya.(Foto: istimewa)
Jombang – suaraharianpagi
Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tak hanya menghadirkan kesibukan di arena utama. Bagi warga sekitar, kedatangan ribuan muktamirin dari berbagai daerah juga membuka peluang ekonomi sekaligus menjadi momentum untuk turut berkhidmat menyambut para tamu.
Sejumlah warga memanfaatkan tingginya kebutuhan tempat tinggal dengan menyewakan rumah mereka. Ada pula yang membuka lapak dagangan dan menyediakan berbagai kebutuhan bagi para peserta maupun pengunjung Muktamar.
Salah satunya dilakukan Muhammad Ibnu Al-Farabi atau Cak Obi. Warga Jombang tersebut memilih menyewakan rumah miliknya di Perumahan Bahrul Ulum Menara Asri, Kecamatan Jombang, kepada rombongan muktamirin dari Surabaya.
Rumah tersebut disewa dengan harga Rp10 juta dan akan digunakan sebagai basecamp sekitar 10 hingga 15 orang selama rangkaian Muktamar.
“Rumah saya disewa oleh penyewa dari Surabaya. Rencananya digunakan sebagai basecamp untuk sekitar 10 sampai 15 orang,” ujar Cak Obi, Senin (24/8).
Bagi Cak Obi, keputusan menyewakan rumah bukan semata-mata untuk memperoleh penghasilan tambahan. Ia melihat kedatangan para muktamirin sebagai kesempatan bagi warga lokal untuk ikut mengambil bagian dalam menyukseskan hajatan besar NU sekaligus mencari keberkahan.
Dari hasil sewa tersebut, Cak Obi bersama sejumlah warga lain yang juga menyewakan rumah telah bersepakat menyisihkan Rp500 ribu untuk kepentingan lingkungan.
Dana tersebut diperuntukkan mendukung keamanan, kenyamanan, serta menciptakan suasana lingkungan yang kondusif selama kedatangan para tamu Muktamar.
Padahal, rumah yang disewakan tersebut selama ini menjadi tempat tinggal Cak Obi bersama keluarganya. Mulai 24 Agustus 2026, ia dan keluarga sementara meninggalkan rumah setelah seluruh ruangan dibersihkan dan dipersiapkan untuk ditempati penyewa.
Rombongan dari Surabaya dijadwalkan mulai menempati rumah tersebut pada 26 Agustus 2026. Selama rumah disewakan, Cak Obi bersama keluarganya akan tinggal sementara di rumah kedua miliknya di Peterongan, Jombang.
Rumah Warga Jadi Tempat Singgah Muktamirin
Cak Obi tak ingin rumah yang disewakan sekadar menjadi tempat tidur bagi para tamu. Sejumlah fasilitas disiapkan agar penghuni tetap merasa nyaman meski memiliki aktivitas Muktamar yang padat.
Mulai dari pendingin ruangan, televisi LED, kasur, bantal hingga guling tersedia di dalam rumah. Ruang keluarga juga disiapkan sebagai tempat berkumpul, bersantai hingga sekadar ngopi bersama.
“Karena kegiatan muktamar itu padat, saya berusaha membuat rumah senyaman dan se-homey mungkin. Bisa untuk istirahat, nongkrong, ngopi, sekaligus menjadi basecamp,” katanya.
Menurut Cak Obi, penyewaan rumah warga menjadi salah satu bentuk sederhana keterlibatan masyarakat dalam menyambut peserta Muktamar.
Warga tidak harus terlibat langsung dalam kepanitiaan untuk ikut menyukseskan acara. Dengan menyediakan tempat tinggal yang nyaman, masyarakat juga dapat memberikan pelayanan kepada para tamu yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.
Hotel Penuh, Rumah Warga Jadi Alternatif
Geliat ekonomi warga mulai terasa sejak awal Agustus 2026. Tingginya kedatangan peserta dan tamu Muktamar membuat sejumlah hotel dan penginapan di Jombang telah dipesan untuk periode 24–31 Agustus 2026.
Kondisi tersebut kemudian mendorong warga di sekitar Tambakberas memanfaatkan rumah mereka sebagai tempat singgah alternatif.
Cara menawarkan rumah pun beragam. Sebagian warga menyampaikan informasi melalui petugas perumahan, sementara lainnya memanfaatkan media sosial.
Cak Obi sendiri mendapatkan penyewa setelah mengunggah konten mengenai fasilitas rumahnya di media sosial. Setelah itu, sejumlah calon penyewa dari Jakarta dan Jawa Tengah sempat menghubunginya karena hendak datang ke Jombang untuk mengikuti maupun memeriahkan Muktamar.
“Mereka ingin berkhidmat dan memeriahkan Muktamar di Tambakberas. Yang akhirnya cocok dan langsung jadi menyewa adalah dari Surabaya,” tuturnya.
Bagi Cak Obi, momentum Muktamar ke-35 NU memiliki makna lebih dari sekadar peluang ekonomi. Rumah yang selama ini menjadi ruang pribadi keluarganya untuk sementara dibuka bagi tamu yang datang untuk mengikuti agenda besar organisasi keagamaan tersebut.
“Selama beberapa hari, rumah ini akan menjadi saksi kecil dari hiruk-pikuk Muktamar. Dari ruang keluarga, tempat ngopi hingga kamar untuk beristirahat, rumah warga ikut mengambil peran dalam menyambut ribuan orang yang datang ke Jombang,” ujarnya.
Kisah Cak Obi menjadi gambaran bahwa kemeriahan Muktamar ke-35 NU tidak hanya terjadi di dalam kompleks Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Di luar arena utama, rumah-rumah warga, lapak dagangan dan berbagai usaha masyarakat turut bergerak menjadi bagian dari denyut perhelatan besar NU di Jombang.
Bagi warga, menjadi tuan rumah Muktamar bukan sekadar menyambut tamu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berbagi ruang, memberikan pelayanan, sekaligus mengambil bagian dalam sebuah momentum besar dengan cara masing-masing. *ds
#muktamar #nu #
