Malang – suaraharianpagi.id
Persaingan pencapaian produksi getah di lingkungan Perum Perhutani KPH Malang semakin ketat. Memasuki momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah wilayah kerja terus menggenjot produksi untuk memenuhi bahkan melampaui target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2026.
Salah satunya ditunjukkan BKPH Tumpang melalui RPH Tumpang. Hingga periode Agustus 2026, produksi getah di RPH Tumpang telah mencapai 28,194 ton atau sekitar 104,59 persen dari target RKAP sebesar 26,957 ton.
Capaian tersebut menjadi modal optimistis bagi jajaran RPH Tumpang untuk terus meningkatkan produksi hingga akhir tahun.
KRPH Tumpang, Agung, saat ditemui awak media di lokasi penyadapan, Selasa (18/8), mengatakan masih terdapat sembilan periode penyadapan yang dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak produksi.
“Sekarang masih sisa sembilan lap. Rata-rata produksi RPH Tumpang sekitar dua ton per periode. Kalau dikalikan sembilan periode hingga akhir tahun, kami optimistis bisa mencapai 170 persen atau setara sekitar 45 ton,” ujarnya.
Menurut Agung, pencapaian tersebut tidak lepas dari strategi pemenuhan tenaga penyadap. Salah satunya dengan mendatangkan tenaga penyadap dari luar daerah untuk memperkuat tenaga kerja lokal.
“Strategi BKPH Tumpang, RPH Tumpang agar target getah terpenuhi salah satunya dengan mendatangkan penyadap dari Cilacap dan Wonosobo sebanyak empat orang, dibantu sekitar 25 penyadap lokal,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas penyadapan, mengingat ketersediaan tenaga penyadap menjadi salah satu faktor penting dalam pencapaian target produksi getah.
Sementara itu, secara keseluruhan produksi BKPH Tumpang hingga pertengahan Agustus 2026 masih berada pada angka sekitar 81 persen dari target RKAP sebesar 131,469 ton.
Asper Tumpang, Hadi, saat dikonfirmasi, Selasa (19/8/2026), mengatakan pencapaian tersebut didukung tenaga penyadap dari luar daerah yang ditempatkan di sejumlah RPH.
“Sekarang kami mencapai 81 persen dari RKAP 131,469 ton, tentu dengan didukung penyadap dari luar sebanyak 12 orang dari Cilacap yang terbagi di lima RPH, yakni RPH Slampar Rejo, Sukapura, Tumpang, Ngadas, dan Poncokusumo,” terang Hadi.
Di sisi lain, persoalan regenerasi tenaga penyadap menjadi tantangan tersendiri. Saat ini terdapat sekitar 77 tenaga penyadap lokal di wilayah BKPH Tumpang. Namun, sebagian besar berada pada usia yang relatif kurang produktif.
“Untuk tenaga penyadap lokal sendiri ada sekitar 77 orang. Usianya bisa dibilang kurang produktif. Mungkin profesi ini kurang menarik bagi warga sekitar yang masih muda, sehingga sampai saat ini tenaga penyadap lokal di BKPH Tumpang lebih banyak yang berusia lebih tua,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat keberadaan tenaga penyadap dari luar daerah menjadi salah satu solusi untuk menjaga keberlangsungan produksi. Kehadiran mereka sekaligus membantu mengisi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah wilayah penyadapan.
Meski menghadapi tantangan regenerasi, Hadi optimistis kinerja produksi BKPH Tumpang dapat terus meningkat. Ia menyebut capaian tahun sebelumnya menjadi salah satu pemacu semangat jajaran untuk kembali menunjukkan prestasi.
“Kalau melihat tahun kemarin, 2025 kita mendapat juara dua kelas Moto 3 tingkat Divre Jawa Timur,” pungkasnya.
Dengan capaian RPH Tumpang yang telah melampaui target RKAP serta dukungan tenaga penyadap lokal dan luar daerah, produksi getah di BKPH Tumpang diharapkan terus meningkat hingga akhir 2026. Tantangan regenerasi penyadap pun menjadi pekerjaan penting agar produktivitas tetap terjaga sekaligus memastikan potensi produksi getah dapat dioptimalkan. *ich
