Rumah kelahiran presiden pertama RI Ir. Soekarno di Rejoagung, Ploso.(Foto: Istimewa)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Dukungan terhadap Maklumat Rakyat Kabupaten Jombang yang menyatakan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno, lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang pada 6 Juni 1902 terus mengalir. Salah satunya datang dari Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional, Prof. Dr. Drs. Adv. Ganjar Razuni, S.H., M.Si.
Dalam pernyataan tertulisnya, Ganjar Razuni menyatakan mendukung maklumat yang dideklarasikan masyarakat Ploso. Menurutnya, keyakinan tersebut didasarkan pada sejumlah arsip yang disebutnya otentik serta berbagai sumber sejarah primer.
“Saya mendukung Maklumat Rakyat Kabupaten Jombang, khususnya rakyat Ploso, bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Karesidenan Soerabaia, pada 6 Juni 1902. Itu semua berdasarkan arsip-arsip otentik, antara lain stambuk mahasiswa THS/ITB 1915–1925, surat mutasi dinas ayahanda Bung Karno dari Pemerintah Hindia Belanda dari Singaraja ke Ploso, keterangan ayahanda Bung Karno, serta sumber-sumber primer dan bukti makam tokoh-tokoh yang berkaitan dengan masa kecil Bung Karno,” ujar Ganjar.
Ia berpandangan bahwa kajian sejarah tidak boleh berhenti pada satu versi semata. Menurutnya, perkembangan penelitian dapat menghadirkan temuan-temuan baru yang layak dikaji secara ilmiah.
“Sejarah bisa menuliskan dirinya sendiri seiring berjalannya waktu. Fakta-fakta baru dapat diketahui kemudian. Upaya menunggalkan fakta sejarah merupakan tindakan yang anti sejarah dan tidak ilmiah,” katanya.
Ganjar juga mengaku pernah mendengar langsung pernyataan seorang tokoh di Jombang yang menyebut tempat kelahiran Bung Karno tidak dapat diubah karena disebut telah menjadi ketetapan MPR RI.
“Saya sebagai seorang guru besar merasa heran mendengar pernyataan tersebut. Saya tidak langsung membantahnya karena disampaikan di depan banyak tokoh. Menurut saya, pasti ada kekeliruan informasi yang diterima sehingga menyesatkan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sejarah harus dibangun berdasarkan penelitian, bukti, dan kajian akademik yang terbuka, bukan dengan menutup kemungkinan munculnya data baru.
“Upaya menunggalkan sejarah sama artinya dengan sikap anti sejarah, sebab sejarah tidak akan bisa dibungkam. Hanya soal waktu saja sampai fakta-fakta baru terungkap,” tegasnya.
Karena itu, Ganjar mengajak masyarakat Jombang untuk terus menyuarakan Maklumat Rakyat sebagai bagian dari upaya mendorong kajian sejarah yang lebih luas.
“Saya mendukung sekaligus menghimbau kepada seluruh rakyat Jombang untuk tidak ragu-ragu menggulirkan terus Maklumat Rakyat Jombang bahwa Bung Karno lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang pada 6 Juni 1902. Mari terus kita gulirkan dan membuka ruang dukungan secara terbuka,” pungkasnya.
Maklumat Rakyat Jombang sendiri sebelumnya dideklarasikan dan ditandatangani sejumlah warga serta pemerhati sejarah di Sekretariat Titik Nol Soekarno, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Minggu (28/6/2026). Deklarasi tersebut berisi penegasan keyakinan masyarakat setempat mengenai tempat dan tanggal kelahiran Bung Karno berdasarkan versi sejarah yang mereka yakini.
Hingga kini, pembahasan mengenai lokasi kelahiran Bung Karno masih menjadi bagian dari diskursus sejarah dan akademik. Berbagai pandangan serta interpretasi terhadap sumber-sumber sejarah masih terus menjadi bahan kajian para peneliti dan sejarawan.(Irw)
