Audiensi DPRD kabupaten Jombang dengan TACB kabupaten Jombang, titik nol Soekarno dan penelusur sejarah.(Foto: Istimewa)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Polemik mengenai lokasi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali mencuat. DPRD Kabupaten Jombang menerima audiensi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang bersama sejumlah penelusur sejarah yang mengajukan temuan baru terkait dugaan kelahiran Bung Karno di Kecamatan Ploso.
Pertemuan tersebut berlangsung di ruang khusus DPRD Kabupaten Jombang, Kamis (23/4/2026), dan dihadiri oleh berbagai pihak. Dari TACB hadir Ketua Nasrul Ilah dan anggota Arif Yulianto. Turut hadir pula inisiator Titik Nol Soekarno Binhad Nurrohmat, penelusur sejarah Moch. Faisol, serta Pembina Situs Persada Soekarno Kediri R.M. Kuswartono.
Sementara dari unsur legislatif, audiensi diikuti Wakil Ketua DPRD Jombang Octadella Billytha Permatasari, Ketua Komisi D Mochamad Agung Natsir, Wakil Ketua Komisi D Erna Kuswati, serta sejumlah anggota dewan lainnya.
Dalam forum tersebut, TACB Jombang menyerahkan hasil kajian mengenai dugaan situs kelahiran Bung Karno di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso. Selain itu, Binhad Nurrohmat dan Moch. Faisol juga menyerahkan buku hasil riset mereka yang menguatkan narasi tersebut.
Wakil Ketua DPRD Jombang, Octadella Billytha Permatasari, menyatakan bahwa audiensi ini membuka ruang diskusi baru terkait sejarah yang selama ini diyakini publik.
“Kami mendapatkan perspektif bahwa ada kemungkinan Bung Karno lahir di Ploso, khususnya Desa Rejoagung. Ini tentu perlu ditelaah lebih dalam,” ujarnya.
Menurutnya, adanya perbedaan versi sejarah antara Surabaya sebagai lokasi yang selama ini diakui dan temuan baru dari Jombang harus disikapi secara bijak melalui kajian akademis yang komprehensif.
DPRD Jombang, lanjut dia, akan mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat untuk memfasilitasi pertemuan antara pihak Jombang dan Pemerintah Kota Surabaya guna membahas perbedaan tersebut secara terbuka.
“Kita perlu tabayyun terhadap fakta-fakta sejarah ini. Semua harus dibahas secara ilmiah agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan,” katanya.
Selain itu, DPRD juga meminta Disdikbud Jombang mengawal proses koordinasi dengan Kementerian Kebudayaan serta Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI terkait kajian tersebut.
Sebagai tindak lanjut, DPRD Jombang berencana melakukan kunjungan langsung ke lokasi yang disebut sebagai titik kelahiran Bung Karno di Gang Buntu, Desa Rejoagung.
“Kami ingin melihat langsung temuan-temuan di lapangan agar bisa memahami lebih utuh,” tambah Octadella.
Ketua TACB Jombang, Nasrul Ilah, menyebut audiensi ini sebagai langkah awal yang penting dalam upaya mengungkap sejarah secara lebih akurat.
“Ada kemajuan, meskipun masih awal. Kita berharap ini menjadi katalisator untuk mempercepat penyelesaian polemik ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kunci utama penyelesaian persoalan ini adalah mempertemukan kedua pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Sementara itu, R.M. Kuswartono dari Persada Soekarno Kediri mengklaim pihaknya telah mengumpulkan berbagai bukti, mulai dari artefak hingga dokumen pendukung yang memperkuat dugaan kelahiran Bung Karno di Jombang.
“Selama ini hanya berupa cerita tutur keluarga, kini sudah dilengkapi dengan data dan dokumen yang lebih kuat,” ungkapnya.
Kuswartono berharap Pemerintah Kabupaten Jombang segera mengambil langkah konkret untuk menetapkan situs tersebut sebagai lokasi resmi kelahiran Bung Karno.
Menurutnya, kejelasan sejarah tokoh sebesar Bung Karno sangat penting, tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi citra bangsa Indonesia di mata dunia.
“Jangan sampai tokoh besar bangsa justru menyisakan tanda tanya soal tempat kelahirannya,” pungkasnya.(Dsy)
