Menko Polkam Djamari Chaniago dalam kunjungannya ke ponpes Amanatul Ummah, Desa Bendunganjati, Kecamatan Pacet.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Djamari Chaniago, mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan saat melakukan kunjungan kerja di Ponpes Amanatul Ummah, Desa Bendunganjati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (14/2/2026). Ia menegaskan, aktivitas yang berpotensi merusak alam, khususnya praktik galian C, tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan.
“Yang berkaitan dengan penggalian, galian C itu jangan didiamkan. Ingatkan dan laporkan,” tegas Djamari di hadapan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan para tokoh masyarakat Mojokerto.
Dalam arahannya, Djamari mencontohkan sejumlah wilayah di Indonesia yang mengalami bencana serius akibat kerusakan lingkungan. Ia menyebut beberapa daerah di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang terdampak banjir dan longsor.
“Lihat keadaan di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara. Kemarin di Jawa Barat, di Jawa Tengah juga begitu. Tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan manakala alam sudah marah kepada kita,” ujarnya.
Menurutnya, dampak bencana alam sangat besar dan menyengsarakan masyarakat. Ia menyinggung peristiwa di Aceh, di mana lumpur akibat bencana alam mampu menenggelamkan satu kampung.
“Di Aceh itu, kalau sudah lumpurnya datang, habis kampung itu. Sudah tidak ada, hilang semuanya. Sungai menjadi banyak,” katanya.
Selain itu, Djamari juga menyoroti peristiwa longsor di Jawa Barat yang menelan korban jiwa. Ia menyebut adanya anggota TNI yang menjadi korban dan hingga kini belum seluruhnya ditemukan.
“Di Jawa Barat, ada tentara yang menjadi korban, dua sampai tiga orang hilang, bahkan sampai sekarang belum ketemu lengkap. Digusur oleh longsoran tanah,” tambahnya.
Djamari menilai kondisi geografis Mojokerto yang didominasi perbukitan membutuhkan perhatian ekstra dalam menjaga keseimbangan alam. Keberadaan sumber mata air dan kestabilan tanah, menurutnya, sangat bergantung pada kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
“Karena di sini juga berbukit-bukit, pelihara itu. Kalau kita menyayangi alam, yakinlah alam akan menyayangi kita. Sumber mata air akan tetap ada dan tanah akan terjaga agar tidak longsor,” tuturnya.
Ia mengajak masyarakat untuk aktif mengawasi dan melaporkan setiap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan. “Kalau masyarakat melihat ada orang yang mengganggu alam, ingatkan dan laporkan kepada pimpinannya. Galian C itu jangan didiamkan,” tegasnya kembali.
Djamari menekankan, jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. “Pada saat alam marah, yang terkena adalah kita semua. Masyarakat yang akan sengsara,” ujarnya.
Selain pesan pelestarian lingkungan, Djamari juga mendorong masyarakat Mojokerto untuk terus membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan. Ia menilai Mojokerto memiliki potensi besar di berbagai sektor, mulai dari industri, pertanian, hingga pariwisata.
“Pesan saya, mari bersama-sama membangun kabupaten ini dan menyejahterakan masyarakat. Kalau sudah sejahtera, tingkatkan lagi. Tunjukkan kepada masyarakat Jawa Timur bahwa ini adalah kabupaten unggulan,” pungkasnya.(Dsy)
