Para santri yang keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).(Suaraharianpagi.id/dsy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Dugaan keracunan massal kembali menghebohkan dunia pendidikan di Kabupaten Mojokerto. Sebanyak 152 siswa dari berbagai jenjang sekolah di Kecamatan Kutorejo dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (9/1/2026).
Para siswa diduga mengalami keracunan usai menyantap menu soto ayam yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang yang berlokasi di Desa Wonodadi, Kutorejo.
Sejumlah korban sempat dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas terdekat. Sementara itu, posko penanganan utama dipusatkan di Pondok Pesantren Ma’had Annur untuk memudahkan proses koordinasi dan pendataan.
Menu MBG tersebut didistribusikan ke sekolah-sekolah sekitar pukul 08.30 WIB. Namun, pada keesokan harinya, Sabtu (10/1/2026), para siswa mulai menunjukkan gejala yang mengarah pada keracunan, seperti mual, muntah, demam, dan diare.
SPPG Yayasan Bina Bangsa sendiri melayani puluhan lembaga pendidikan, mulai dari kelompok bermain, TK, SD, hingga SMA dan SMK. Di antaranya KB Wiyata Sabilillah, KB Pelita Bangsa, KB Bina Balita, KB Al-Hidayah Plus, TK Al-Hidayah Plus, TK Dharma Wanita Singowangi, RA Nurul Hidayah, SDIT Firdaus Al-Hidayah, SDN Wonodadi 1 dan 2, MI Nurul Hidayah, SMPN 2 Kutorejo, MTs Ma’had Annur, SMP TI Al-Hidayah, hingga SMK Unggulan Al-Irfan.
Komandan Kodim 0815/Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, menyebut total sementara ada 152 anak yang menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari.
“Data ini masih bersifat awal. Kami akan mendalami lebih lanjut bersama pihak kepolisian dan instansi terkait untuk memastikan penyebab pastinya,” kata Abi Swanjoyo.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dra. Dyan Anggrahini Sulistyowati, menjelaskan bahwa penanganan sengaja dipusatkan di Pondok Pesantren Ma’had Annur agar koordinasi lebih mudah, meskipun sebagian korban juga dirawat di Puskesmas Pacet, Kutorejo, dan Gondang.
“Ada juga beberapa anak yang kami rujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan,” ujarnya.
Dyan menyebut, secara umum keluhan yang dialami para siswa berupa mual, muntah, demam, dan diare. Ia mengimbau masyarakat yang merasakan gejala serupa setelah mengonsumsi MBG agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tanpa khawatir soal biaya.
“Silakan langsung ke puskesmas atau rumah sakit, tidak perlu khawatir biaya,” katanya.
Untuk memastikan penyebab kejadian ini, tim kesehatan telah mengambil sampel makanan dari bank sampel untuk diuji di laboratorium. Namun, hasilnya masih menunggu proses.
“Pengambilan sampel baru dilakukan pagi tadi. Hasil paling cepat kemungkinan keluar hari Rabu,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak berwenang memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa hingga proses investigasi selesai.
“Untuk sementara operasional SPPG kami hentikan guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut,” tegas Letkol Abi Swanjoyo.*dsy
