Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon bersama organisasi kepemudaan Pergerakan Indonesia Raya saat meninjau Museum Majapahit di Trowulan (suaraharianpagi.id/ds)
Mojokerto – suaraharianpagi.id
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, meresmikan perubahan nama Pusat Informasi Majapahit (PIM) menjadi Museum Majapahit di Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (10/6).
Museum ini akan dikembangkan sebagai pusat pembelajaran sejarah dan refleksi kejayaan Kerajaan Majapahit.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita oleh Fadli Zon. Usai seremoni, ia meninjau lebih dari 8.000 koleksi yang dimiliki museum, meliputi arca, prasasti batu andesit, keris, gerabah terakota, ornamen bangunan kuno, batu nisan, relief candi, hingga miniatur rumah khas Majapahit.
“Kalau PIM kesannya hanya pusat informasi biasa. Kini, dengan nama Museum Majapahit, kami ingin penataan artefak dilakukan lebih serius dan profesional, dengan alur cerita sejarah yang utuh,” ujar Fadli kepada wartawan.
Kehadiran Fadli Zon di Mojokerto disambut antusias oleh berbagai kalangan, termasuk organisasi kepemudaan Pergerakan Indonesia Raya (Tidar) Mojokerto.
Ketua Bidang Seni Budaya Pengurus Cabang Tidar Mojokerto, Puguh Senja, menyebut kehadiran Menteri Kebudayaan sebagai kebanggaan sekaligus tantangan bagi generasi muda.
“Ini tantangan bagi kami, generasi muda, untuk meneruskan semangat para pejuang dan merawat kebudayaan bangsa,” ujarnya.
Puguh menambahkan, Mojokerto memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa dan layak diangkat ke permukaan. Saat ini, PC Tidar tengah menyusun sebuah buku yang merangkum literasi kuno, kearifan lokal, dan kebiasaan masyarakat di masa Majapahit.
“Spirit dari masa lalu bisa menjadi semangat masa kini. Kita bangsa besar, dan harus percaya diri dengan sejarah dan budaya kita sendiri,” tegasnya.
Ketua Tidar Kabupaten Mojokerto, Defy Firman Al Hakim, turut menyoroti pentingnya momen ini sebagai strategi penguatan karakter generasi muda. Menurutnya, peresmian Galeri Soekarno Kecil dan Museum Majapahit memiliki nilai edukatif dan simbolis.
“Galeri Soekarno Kecil memberi pelajaran bahwa sosok besar lahir dari proses panjang. Sementara Museum Majapahit adalah simbol kebangkitan nilai-nilai Nusantara yang berakar dari sejarah,” kata Defy.
Ia juga mengungkapkan bahwa Tidar Mojokerto sedang membentuk tim riset geopolitik Majapahit yang bertugas menghimpun dan mengkaji data sejarah secara ilmiah.
Hasil kajian tersebut akan dibukukan dan difokuskan pada dinamika geopolitik Majapahit serta relevansinya dengan situasi kekinian.
“Kami senang bisa berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan dan pihak-pihak lain yang peduli terhadap sejarah. Museum Majapahit diharapkan menjadi pusat kajian peradaban dan mercusuar budaya, bukan hanya untuk Mojokerto, tapi juga dunia,” pungkasnya. *ds
