Salah satu siswa SMPN 1 Mojoanyar, Mojokerto saat sedang mendapatkan perawatan di Puskesmas Gayaman.(Suaraharianpagi.id/Desy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Dugaan siswa SMPN 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa sate ayam mendapat sorotan dari orang tua. Pasalnya, makanan disebut baru dibagikan sekitar pukul 13.45 WIB, sementara pada wadah makanan tercantum batas maksimal penyajian pukul 12.00 WIB.
Sejumlah siswa SMPN 1 Mojoanyar mengalami keluhan mual, muntah, pusing hingga diare pada Rabu (7/10/2026). Para siswa kemudian dibawa ke UPTD Puskesmas Gayaman untuk mendapatkan pemeriksaan.
Salah seorang orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, anaknya mengonsumsi menu sate ayam yang dibagikan sekolah sehari sebelumnya.
Ia mengaku rasa makanan tersebut sudah terasa asam ketika disantap. Namun, karena lapar, makanan tetap dimakan.
“Berarti reaksinya makanan kemarin sate ayam. Kemarin makan rasanya asam, karena lapar tetap dimakan,” ujarnya.
Yang menjadi sorotan, menurut orang tua tersebut, makanan baru dibagikan kepada siswa sekitar pukul 13.45 WIB. Padahal, pada wadah makanan terdapat keterangan batas maksimal penyajian hingga pukul 12.00 WIB.
“Makan jam 13.45 WIB. Kan di atas nampan ada tulisan sebelum jam 12.00 WIB. Sama sekolah dibagikan jam segitu, tetap dimakan,” katanya.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi bagi sekolah maupun pihak penyedia MBG. Menurutnya, makanan yang datang ke sekolah harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada siswa, termasuk memastikan makanan masih layak dikonsumsi dan tidak melewati batas waktu penyajian.
“Harapannya untuk ke depannya supaya pihak sekolah lebih hati-hati dan dikoreksi lagi. Makanan datang ada yang mengecek, harus dibagikan sebelum jam expired,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Mojoanyar, Yanse Young Pribadi, membenarkan bahwa menu MBG untuk SMPN 1 dan SMPN 2 Mojoanyar memiliki batas maksimal penyajian hingga pukul 12.00 WIB.
Menurut Yanse, makanan tersebut dimasak sejak sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah selesai disiapkan, makanan kemudian didistribusikan ke sekolah sekitar pukul 11.00 WIB.
“Di tempat makanan itu sudah dikasih stiker batas maksimal penyajian hingga pukul 12.00 WIB,” jelas Yanse.
Ia mengatakan pihak SPPG juga telah berulang kali mengingatkan sekolah agar segera menyampaikan apabila terdapat makanan yang dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.
“Jadi sekolah juga sering saya peringatkan, kalau ada menu makanan yang tidak layak supaya info ke kita, kita siap mengganti menu makanan yang baru,” ujarnya.
Dengan adanya keterangan tersebut, persoalan waktu penyajian menjadi salah satu hal yang perlu diperjelas dalam penelusuran kejadian. Terlebih, orang tua siswa menyebut makanan baru dikonsumsi sekitar pukul 13.45 WIB, atau lebih dari satu jam setelah batas maksimal penyajian yang tercantum pada wadah.
Di sisi lain, Kepala SMPN 1 Mojoanyar, Elly Rosidah, meminta agar penyebab keluhan kesehatan siswa tidak langsung dikaitkan dengan menu MBG.
Menurutnya, siswa yang mengalami mual, muntah, dan diare juga mengonsumsi makanan lain ketika berada di rumah. Karena itu, pihak sekolah belum dapat memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan menu MBG yang disantap sehari sebelumnya.
“Tidak bisa menduga apakah akibat dari menu MBG kemarin atau menu makanan lain saat di rumah,” kata Elly.
Ia juga memastikan bahwa siswa belum mengonsumsi menu MBG pada Rabu (7/10/2026) ketika keluhan kesehatan mulai muncul.
“Menu MBG untuk hari ini belum dikirim, jadi siswa belum makan menu MBG saat ada kejadian tadi,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa, Sholikatun, warga Gayaman, mengatakan anaknya mengalami pusing dan muntah-muntah. Anak tersebut kemudian diminta pihak sekolah untuk menjalani pemeriksaan di Puskesmas Gayaman.
“Itu tadi dari sekolahan diminta ke puskesmas, katanya kena dampaknya MBG, tapi tidak tahu lagi. Untuk hari ini belum makan, yang kemarin itu makan menu sate ayam,” kata Sholikatun.
“Keluhannya pusing dan muntah-muntah,” imbuhnya.
Hingga kini, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa belum dapat dipastikan. Namun, adanya perbedaan antara waktu batas maksimal penyajian yang tercantum pada kemasan dengan waktu makanan disebut dibagikan kepada siswa menjadi catatan penting yang perlu dievaluasi.
Pemeriksaan terhadap kondisi makanan, proses distribusi, waktu pembagian, serta kondisi kesehatan siswa diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.(Dsy)




