Anggota Paguyuban Abdi Dalem Keraton Surakarta (Pakasa) Malang Raya menghadiri prosesi Mangayubagya Jumeneng Dalem SISKS Pakubuwono XIV di Keraton Surakarta Hadiningrat.(suaraharianpagi.id/red
Solo – suaraharianpagi.id
Puluhan anggota Paguyuban Abdi Dalem Keraton Surakarta (Pakasa) Malang Raya menghadiri prosesi Mangayubagya Jumeneng Dalem SISKS Pakubuwono XIV di Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Sabtu (5/9/2026).
Rombongan dipimpin Ketua Pakasa Malang Raya, K.R.A. Dwi Indro Tito Cahyono Adiningrat, S.H., M.M. Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan selamat atas jumeneng Dalem SISKS Pakubuwono XIV sebagai penguasa Keraton Surakarta Hadiningrat.
Prosesi berlangsung sakral dan khidmat. Sejak pagi, kawasan keraton dipadati abdi dalem, anggota Pakasa dari berbagai daerah, tamu undangan, serta pemerhati budaya Jawa. Rangkaian acara dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga siang hari.
Nuansa adat dan tradisi Jawa begitu kuat terasa sepanjang prosesi. Para peserta mengikuti setiap tahapan dengan penuh penghormatan sebagai bagian dari upaya mempertahankan warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Bagi Pakasa Malang Raya, keikutsertaan dalam momentum tersebut bukan sekadar menghadiri kegiatan seremonial. Kehadiran itu sekaligus menjadi upaya mempererat hubungan antara masyarakat pemerhati budaya di Malang Raya dengan Keraton Surakarta Hadiningrat serta keluarga besar Pakasa dari berbagai daerah.
Ketua Pakasa Malang Raya, K.R.A. Dwi Indro Tito Cahyono Adiningrat atau Sam Tito, mengatakan momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat silaturahmi sekaligus menyatukan semangat dalam pelestarian budaya Jawa.
“Keikutsertaan Pakasa Malang Raya dalam prosesi Mangayubagya ini selain sebagai bentuk penghormatan, juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi dengan keluarga besar Pakasa dari berbagai daerah. Kami ingin terus ikut menjaga dan melestarikan budaya Jawa,” ujar Sam Tito.
Menurutnya, kecintaan terhadap budaya Jawa perlu terus ditumbuhkan di tengah perkembangan zaman. Pelestarian tidak hanya menyangkut kesenian, tetapi juga bahasa, unggah-ungguh, adat istiadat, serta berbagai nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Ia menilai keberadaan Pakasa dapat menjadi wadah bagi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap budaya Jawa untuk terus berkomunikasi, berkegiatan, sekaligus menjaga hubungan dengan Keraton Surakarta Hadiningrat.
“Keberadaan Pakasa menjadi salah satu wadah bagi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan Jawa untuk terus berkomunikasi, berkegiatan, dan menjaga hubungan dengan Keraton Surakarta Hadiningrat,” imbuhnya.
Sam Tito menjelaskan, dalam tradisi Jawa, Mangayubagya Jumeneng Dalem merupakan bentuk ucapan selamat, doa, dan penghormatan atas jumeneng Dalem atau naik takhtanya seorang raja. Dalam momentum tersebut, penghormatan ditujukan kepada SISKS Pakubuwono XIV.
Ia berharap hubungan budaya antara Keraton Surakarta dengan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Malang Raya, dapat terus terjaga dan berkembang melalui berbagai kegiatan kebudayaan.
Sementara itu, salah seorang peserta, K.R.A. Muhammad Nuh, mengatakan kehadiran dalam prosesi tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi anggota Pakasa Malang Raya. Selain menyaksikan langsung rangkaian adat keraton, para peserta juga dapat lebih memahami tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini.
“Rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib hingga selesai. Para anggota Pakasa Malang Raya kemudian berbaur dengan anggota Pakasa dari daerah lain dalam suasana penuh kekeluargaan,” katanya.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penampilan tarian kebesaran dan sakral khas Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tarian tersebut merupakan bagian dari tradisi yang dipentaskan pada momentum tertentu, khususnya saat penobatan maupun peringatan kenaikan takhta raja.
Kehadiran Pakasa Malang Raya dalam Mangayubagya Jumeneng Dalem SISKS Pakubuwono XIV diharapkan semakin memperkuat silaturahmi sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi dan budaya Jawa.
Di tengah perubahan zaman, semangat tersebut menjadi penting agar generasi muda tetap mengenal akar budaya, memahami nilai-nilai luhur, dan turut mengambil bagian dalam menjaga warisan budaya Jawa. *ic
