Kolam pemandian keluarga di Pacet minipark.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Mojokerto – Suaraharianpagi.id
Di lereng Gunung Welirang, sekitar 700 meter di atas permukaan laut, hamparan hijau dan kabut tipis menyambut setiap tamu yang datang ke Pacet, Kecamatan wisata andalan di Kabupaten Mojokerto.
Udara sejuk, aroma tanah basah, dan gemericik air sungai menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di kota.
Bagi banyak orang, Pacet bukan sekadar tempat liburan. Ia adalah ruang untuk bernafas lebih pelan, melepaskan penat, dan menemukan kembali ketenangan yang kerap hilang di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.
Wisata Alam yang Tak Pernah Pudar
Salah satu daya tarik utama Pacet adalah Pemandian Air Panas Padusan, berlokasi di Dusun Padusan, Desa Padusan, Kecamatan Pacet.
Air panas alami yang berasal dari perut bumi Gunung Welirang ini mengandung belerang dan dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit dan pegal otot.
Selain itu, ada pula Air Terjun Grenjengan di kawasan hutan Pacet. Air yang jatuh dari ketinggian menciptakan kabut lembut dan suara gemericik yang menenangkan.
Banyak pengunjung datang hanya untuk menikmati momen sederhana: duduk di tepi batu, mendengar air jatuh, dan membiarkan waktu berjalan perlahan.
“Datang ke sini rasanya seperti menyembuhkan diri sendiri. Tak perlu terapi mahal, cukup hirup udara Pacet,” ujar Lina (32), wisatawan asal Surabaya yang rutin berkunjung setiap akhir pekan.
Petualangan dan Rekreasi Keluarga
Pacet juga menjadi favorit wisata keluarga. Pacet Mini Park, yang terletak di Jalan Raya Pacet KM 55, menawarkan beragam wahana permainan anak, kolam renang, dan area outbound yang aman.
Bagi pencinta petualangan, Claket Adventure Park menyediakan pengalaman berkemah dan offroad di tengah alam terbuka. Jalur tanah dan sungai yang menantang menjadikannya surga bagi pecinta adrenalin.
Kuliner Hangat di Udara Dingin
Setelah puas menikmati alam, saatnya menjelajah rasa. Pacet dikenal dengan kuliner khas pegunungan yang sederhana namun menggugah selera. Di sepanjang jalan menuju Padusan, berjajar warung yang menyajikan sate kelinci, jagung bakar, dan susu murni hangat.
Warung Sate Kelinci Bu Siti di Jalan Raya Pacet No. 12 menjadi favorit wisatawan. Daging kelincinya empuk, berpadu dengan bumbu kacang khas Pacet yang gurih dan sedikit pedas. Sementara jagung bakar Pacet jadi teman setia menikmati kabut sore di bawah lampu-lampu kecil warung.
“Panasnya sate dan jagung di tengah udara dingin Pacet, itu kombinasi sempurna,” kata Arif (40), pengunjung asal Gresik.
Ekowisata yang Perlu Dijaga
Keindahan Pacet bukan hanya soal lanskap, tapi juga harmoni antara alam dan manusia. Pemerintah Kabupaten Mojokerto terus memperkuat konsep ekowisata berkelanjutan dengan memperbaiki akses jalan, menambah fasilitas publik, dan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama wisata.
Namun, tantangan baru muncul: sampah wisatawan dan pembangunan berlebih mulai mengancam keseimbangan alam. Kesadaran untuk menjaga kebersihan dan membatasi eksploitasi lahan menjadi penting agar pesona Pacet tidak pudar.
Refleksi: Menemukan Damai di Antara Kabut
Pacet adalah ruang terapi alami. Di antara kabut dan udara dingin, setiap pengunjung diajak untuk berhenti sejenak dan meresapi makna sederhana dari kebahagiaan.
“Pacet bukan sekadar destinasi, tapi tempat untuk menemukan diri,” tulis seorang wisatawan di buku tamu Padusan.
Dan memang benar, ketika langit jingga perlahan tertutup kabut, Pacet seakan memeluk siapa pun yang datang dengan tenang, lembut, dan menenangkan.*dsy
Oleh Redaksi Suaraharianpagi.id
