Menteri Imipas Agus Andrianto bersama Kakanwil Dirjenpas Jawa Timur Kadiyono saat menggunting pita peresmian SAE Paswangi.(Suaraharianpagi.id/red)
Banyuwangi – Suaraharianpagi.id
Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto, Rudi Kristiawan, menghadiri rangkaian kegiatan Panen Raya Serentak Pemasyarakatan yang digelar secara nasional dan terpusat di Lapas Kelas I Cirebon, Kamis (15/1/2026). Kegiatan ini diikuti secara daring melalui Zoom Meeting oleh seluruh jajaran pemasyarakatan di Indonesia.
Panen Raya Serentak diawali dengan pelaksanaan Zoom nasional yang diikuti oleh seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan. Melalui sambungan virtual tersebut, jajaran pemasyarakatan menyaksikan secara langsung pelaksanaan panen raya terpusat di Lapas Kelas I Cirebon yang dihadiri Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI Agus Andrianto serta Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, disampaikan pula pemaparan terkait program ketahanan pangan pemasyarakatan yang terus dikembangkan di berbagai UPT sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan.
Usai mengikuti Panen Raya Serentak secara daring, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono, melanjutkan agenda dengan meresmikan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi milik Lapas Kelas IIA Banyuwangi. Peresmian tersebut turut dihadiri Kalapas Mojokerto, Rudi Kristiawan, bersama para kepala UPT Pemasyarakatan se-Jawa Timur.
Peresmian SAE Paswangi ini menjadi momentum penting karena dilaksanakan bertepatan dengan agenda Panen Raya Serentak nasional. Fasilitas tersebut diproyeksikan sebagai pusat pembinaan kemandirian sekaligus lumbung pangan produktif di wilayah ujung timur Pulau Jawa.
Kadiyono menegaskan, kehadiran SAE Paswangi merupakan langkah konkret implementasi program ketahanan pangan pemerintah. Dengan luas lahan mencapai 2,2 hektare, kawasan ini dikelola secara produktif dengan berbagai komoditas pangan.
“Ini membuktikan bahwa pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan warga binaan, tetapi juga mampu berkontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya di Kabupaten Banyuwangi,” ujar Kadiyono.
Saat ini, lahan SAE Paswangi telah ditanami beragam komoditas, mulai dari padi, semangka, jagung, hingga aneka sayuran. Selain sektor pertanian, kawasan tersebut juga dilengkapi dengan kolam budidaya ikan lele untuk memperkuat sektor perikanan.
Seluruh aktivitas di SAE Paswangi melibatkan warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif dan substantif sebagai bagian dari program asimilasi. Program ini bertujuan membekali mereka dengan keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan saat kembali ke masyarakat.
“Program ini bukan hanya soal bekerja, tetapi juga membangun mental, disiplin, dan tanggung jawab warga binaan melalui praktik langsung,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menambahkan bahwa SAE Paswangi dirancang sebagai sarana strategis pembinaan berkelanjutan. Ke depan, fasilitas ini tidak hanya diperuntukkan bagi warga binaan, tetapi juga direncanakan menjadi pusat edukasi bagi masyarakat.
“Kami berharap SAE Paswangi bisa menjadi ruang belajar bagi pelajar dan masyarakat umum tentang pertanian dan perikanan. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” tutup Wayan.
Melalui kehadiran Kalapas Mojokerto dalam rangkaian kegiatan ini, diharapkan sinergi antar-UPT Pemasyarakatan di Jawa Timur semakin kuat dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta pelaksanaan pembinaan kemandirian warga binaan yang berkelanjutan.*red
