Jelang perhelatan Muktamar ke-35 NU, KH Wahab Chasbullah mendapat anugerah Bapak Ishari NU.(Foto: Istimewa)
Jombang – suaraharianpagi.id
Nama KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU), perjuangan kebangsaan, serta upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sosok yang dikenal sebagai salah satu pendiri NU itu memiliki jejak perjuangan yang luas, mulai dari diplomasi keagamaan, kemandirian ekonomi, pendidikan, hingga perlawanan terhadap penjajahan.
Peran tersebut salah satunya terlihat ketika kekuasaan di Semenanjung Arab beralih ke Abdul Aziz bin Saud pada 1924. Di bawah pemerintahan baru tersebut, praktik keagamaan diarahkan mengikuti paham Wahabi. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan ulama, termasuk para kiai pesantren di Indonesia.
Kekhawatiran semakin besar karena muncul rencana pembongkaran sejumlah situs bersejarah Islam, termasuk makam ulama dan sahabat Nabi hingga makam Rasulullah SAW. Para ulama Indonesia kemudian berupaya menyampaikan keberatan kepada Raja Abdul Aziz.
Awalnya, KH Wahab Chasbullah diusulkan sebagai salah satu delegasi dalam Muktamar Khilafah di Arab Saudi. Namun, nama Kiai Wahab disebut dicoret karena kalangan kiai pesantren saat itu belum memiliki organisasi resmi yang dapat menaungi perjuangan mereka.
Situasi tersebut justru mendorong para ulama untuk membentuk wadah perjuangan bersama. Dari proses itulah lahir Komite Hijaz yang kemudian menjadi salah satu rangkaian penting menuju berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.
Setelah NU berdiri, KH Wahab Chasbullah bersama Syekh Ghonaim Al-Misri dipercaya menjadi utusan untuk menemui Raja Abdul Aziz bin Saud.
Upaya diplomasi tersebut membuahkan hasil. Salah satunya, rencana pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW tidak dilanjutkan. Selain itu, mazhab empat tetap diperbolehkan hidup di wilayah Haramain meskipun terdapat pembatasan dalam aktivitas mengajar dan memimpin.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pengalaman Kiai Wahab selama berada di Arab. Ia mengenal berbagai tokoh, ulama, pangeran hingga jaringan masyarakat di wilayah tersebut. Jejaring itu menjadi modal penting dalam membangun komunikasi dan membuka jalan diplomasi dengan pihak kerajaan.
Diplomasi sebagai Senjata Perjuangan
Kemampuan diplomasi Kiai Wahab tidak hanya digunakan dalam persoalan keagamaan di Arab Saudi. Di Indonesia, ia juga dikenal sebagai tokoh yang kerap menyelesaikan persoalan melalui pendekatan dialog.
Ketika pemerintah kolonial Belanda membatasi kegiatan pertemuan terbuka umat Islam di masjid, Kiai Wahab disebut berusaha menemui Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van der Plaas di Batavia.
Dalam catatan Abdul Mun’im DZ (2015), Kiai Wahab mampu menghadapi situasi yang tidak mudah tersebut dengan sikap tenang dan keramahan. Pertemuan itu kemudian membuka jalan bagi dicabutnya pembatasan kegiatan keagamaan umat Islam di masjid.
Hal serupa terjadi pada masa pendudukan Jepang. Ketika Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bersama sejumlah ulama NU ditahan Jepang, Kiai Wahab melakukan berbagai upaya diplomasi.
Ia disebut berulang kali melakukan perjalanan dari Surabaya, Solo, Jakarta hingga Purwokerto untuk mengupayakan pembebasan para ulama. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. KH Hasyim Asy’ari dibebaskan dan kemudian dipercaya Jepang menjadi pemimpin Shumubu atau kantor urusan agama.
Kisah tersebut menunjukkan karakter perjuangan Kiai Wahab yang mengedepankan strategi, komunikasi dan keberanian menghadapi kekuasaan.
Membangun Kemandirian Ekonomi
Sepulang dari Mekkah pada 1914, Kiai Wahab tidak hanya mengasuh pesantren di Tambakberas. Ia juga aktif dalam pergerakan kebangsaan.
Melihat kondisi masyarakat yang berada dalam kemiskinan, keterbelakangan dan minim akses pendidikan akibat kolonialisme, Kiai Wahab bersama sejumlah tokoh muda mendirikan Nahdlatul Wathan pada 1916.
Dua tahun kemudian, bersama Dr. Soetomo, ia mendirikan Tasywirul Afkar sebagai ruang untuk membahas berbagai persoalan pemikiran dan kebangsaan.
Karena organisasi pergerakan tersebut tidak mendapat dukungan pemerintah kolonial, persoalan pendanaan menjadi tantangan tersendiri. Kiai Wahab kemudian ikut menggagas Nahdlatut Tujjar pada 1918 sebagai wadah penguatan ekonomi dan penggalangan dana perjuangan.
Organisasi tersebut dipimpin langsung KH Hasyim Asy’ari, sementara Kiai Wahab berperan sebagai sekretaris sekaligus bendahara. KH Bisri Syansuri juga tercatat menjadi salah satu anggotanya.
Prinsip kemandirian kemudian menjadi salah satu karakter penting dalam perjalanan NU. Organisasi tersebut berusaha membangun kekuatan sendiri agar tidak bergantung pada pemerintah kolonial.
Kiai Wahab bahkan memperkenalkan gagasan mengenai empat bidang siyasah, yakni siyasah tijariyah atau politik perdagangan, siyasah najjariyah, siyasah falahiyah atau politik pertanian, serta siyasah hukumiyah atau politik pemerintahan.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan dalam pengembangan pendidikan kejuruan di Pesantren Tebuireng pada 1938. KH Wahid Hasyim mengembangkan berbagai pendidikan khusus, antara lain bidang perdagangan, pertanian, pertukangan dan hukum pemerintahan.
Konsep tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan Kiai Wahab tidak hanya berorientasi pada aspek keagamaan, tetapi juga menyentuh pendidikan dan kemandirian ekonomi.
Berperan dalam Mempertahankan Kemerdekaan
Peran Kiai Wahab semakin terlihat setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Ketika pasukan Sekutu dan Belanda tiba di Surabaya pada Oktober 1945, Presiden Soekarno meminta pandangan KH Hasyim Asy’ari mengenai kewajiban membela tanah air.
Hadratussyaikh kemudian mengajak KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri dan sejumlah ulama lainnya untuk membahas persoalan tersebut.
Para ulama dari Jawa dan Madura kemudian dikumpulkan dalam pertemuan di Bubutan, Surabaya, pada 22–23 Oktober 1945. Pertemuan tersebut menghasilkan Resolusi Jihad.
Rapat tersebut disebut dipimpin Kiai Wahab setelah sebelumnya dibuka KH Hasyim Asy’ari. Dalam proses perumusannya, Kiai Wahab disebut ikut menyusun draf Resolusi Jihad dengan mempertimbangkan pandangan KH Hasyim Asy’ari dan para ulama yang hadir.
Resolusi tersebut kemudian dibacakan KH Hasyim Asy’ari pada 23 Oktober 1945. Seruan jihad fi sabilillah itu menjadi salah satu pemantik semangat perjuangan masyarakat dan santri dalam menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial.
Pesantren di Jawa dan Madura selanjutnya menjadi basis pergerakan laskar Hizbullah dan Sabilillah.
Semangat tersebut kemudian berkaitan erat dengan perjuangan rakyat Surabaya dalam Pertempuran 10 November 1945. Kiai Wahab juga disebut hadir dalam pertemuan para tokoh nasional sehari sebelum pertempuran sebagai bagian dari persiapan menghadapi ultimatum Inggris.
Selama masa revolusi, perjuangan Kiai Wahab tidak berhenti pada seruan. Ia turut terlibat dalam gerakan gerilya menghadapi Belanda, membantu pendanaan perlengkapan militer, berkomunikasi dengan unit-unit gerilya serta mendukung perekrutan dan pelatihan santri di Jawa Timur.
Peran tersebut juga diperkuat dalam sejumlah catatan sejarah, termasuk tulisan Greg Fealy yang merujuk pada keterangan KH Saifuddin Zuhri dan KH Hasyim Latif.
Membentuk Laskar Hizbullah di Jombang
Di daerah asal perjuangannya, Kiai Wahab juga berperan dalam pembentukan Laskar Hizbullah Jombang.
Pembentukan laskar tersebut bermula dari perintah KH Hasyim Asy’ari kepada Kiai Wahab untuk memobilisasi para pemuda di Kabupaten Jombang pada akhir Agustus 1945.
Pesan tersebut kemudian diteruskan kepada H Affandi, seorang dermawan yang pernah ditahan Jepang bersama KH Hasyim Asy’ari. H Affandi selanjutnya menghubungi A Wahib Wahab, putra Kiai Wahab yang merupakan mantan Syodanco PETA.
A Wahib Wahab kemudian diminta memimpin Laskar Hizbullah Jombang.
Ketika pertempuran di Surabaya meletus pada November 1945, Hizbullah Karesidenan Surabaya kemudian disatukan dalam satu kesatuan bernama Divisi Sunan Ampel. Kesatuan tersebut dipimpin A Wahib Wahab sebagai bagian dari upaya memperkuat perjuangan umat Islam mempertahankan kemerdekaan.
Rangkaian perjuangan tersebut menjadi bagian dari warisan besar KH Wahab Chasbullah. Ia bukan hanya dikenal sebagai ulama dan salah satu pendiri NU, tetapi juga sebagai tokoh yang menggabungkan pendidikan, ekonomi, diplomasi dan perjuangan kebangsaan.
Atas jasa dan kontribusinya dalam perjuangan bangsa, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Abdul Wahab Chasbullah pada 7 November 2014.
Jejak perjuangan Kiai Wahab memperlihatkan bahwa khidmah kepada agama dan bangsa dapat dilakukan melalui banyak jalan. Diplomasi, pendidikan, kemandirian ekonomi hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang ulama yang kemudian dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah NU dan Indonesia. *ds
#muktamar #nu #jombang
