kembali ditorehkan talenta muda Indonesia. Di usianya yang baru 14 tahun, Aphrodita Raisha Putri Riandra atau Raisha Riandra berhasil meraih Gold Medal
Surabaya – suaraharianpagi.id
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan talenta muda Indonesia. Di usianya yang baru 14 tahun, Aphrodita Raisha Putri Riandra atau Raisha Riandra berhasil meraih Gold Medal bersama Team Phoenix dalam ajang Indonesia International Invention Expo (IYSA) 2026 kategori Life Science.
Medali emas tersebut diraih melalui karya inovasi bertajuk “PHOENIX: Pemanfaatan Paederia Foetida dan Syzygium Myrtifolium sebagai Salep Phyto-Herbal Antiinflamasi dan Antijamur untuk Eksim.”
Penelitian itu memanfaatkan dua tanaman yang relatif mudah ditemukan, yakni simbukan (Paederia foetida) dan pucuk merah (Syzygium myrtifolium). Keduanya kemudian dikembangkan menjadi salep berbasis herbal yang ditujukan sebagai antiinflamasi dan antijamur untuk membantu penanganan eksim.
Kompetisi tersebut berlangsung di Semarang pada 24 Agustus hingga 3 September 2026. Keberhasilan Team Phoenix meraih medali emas menjadi pencapaian tersendiri bagi Raisha, mengingat dunia penelitian bukan satu-satunya bidang yang ia tekuni.
Sebelum terjun ke dunia ilmiah, siswi SMP Negeri 30 Surabaya itu lebih dahulu dikenal melalui aktivitasnya di bidang seni lukis. Sejak usia dini, Raisha telah aktif mengikuti berbagai pameran dan kompetisi melukis, termasuk event berskala nasional hingga internasional.
Pembina Sanggar Lukis Daun, Arik Wartono, mengatakan dunia seni telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Raisha sejak kecil.
“Sejak kecil Raisha memang aktif di dunia seni. Dia sering ikut pameran, lomba melukis, dan beberapa kali dapat penghargaan di event internasional,” ujar Arik.
Rasa ingin tahu yang tinggi kemudian membuat Raisha berani keluar dari zona yang selama ini digelutinya. Ia mulai menekuni penelitian ilmiah dan bergabung bersama Team Phoenix untuk mengembangkan inovasi berbasis tanaman herbal.
Tak hanya seni dan penelitian, Raisha juga aktif mengembangkan kemampuannya melalui olahraga basket. Baginya, setiap bidang memberikan pelajaran yang berbeda sekaligus saling melengkapi.
Seni, kata Raisha, membantunya mengasah kreativitas sekaligus kepekaan terhadap detail. Sementara basket mengajarkan pentingnya kekompakan dan kerja sama tim. Adapun penelitian melatih dirinya untuk tekun, sabar, serta terbiasa mencari solusi dari sebuah permasalahan.
“Dari kanvas aku belajar melihat detail. Dari basket aku belajar kompak. Dari lab aku belajar bermanfaat untuk orang lain,” kata Raisha.
Perjalanan Raisha menjadi bukti bahwa potensi generasi muda tidak harus dibatasi pada satu bidang. Kreativitas yang tumbuh melalui seni, kemampuan bekerja sama dari olahraga, serta pola berpikir kritis melalui penelitian justru dapat menjadi kombinasi yang saling menguatkan.
Di usia yang masih belia, Raisha telah berani mencoba sesuatu yang baru. Dari kanvas ia melangkah ke laboratorium, bekerja bersama tim, hingga akhirnya membawa pulang medali emas dari kompetisi internasional.
Profil Raisha Riandra
Nama: Aphrodita Raisha Putri Riandra
Usia: 14 tahun
Domisili: Surabaya
Sekolah: SMP Negeri 30 Surabaya
Pembina Karya Ilmiah Remaja: Saldhyna Di Amora
Pembina Sanggar Lukis Daun: Arik Wartono
Pembina Sabertooth Basketball: Bhiantoro Darmawan
Orang tua: I D G Indra KS dan Mariawati
