Kepala BNN kota Mojokerto AKBP Damar Bastiar Amarapit, S.T., menyerahkan piala kepada pemenang Duta Anti Narkoba kota Mojokerto 2026.(Suaraharianpagi.id/Desy)
Mojokerto Kota – suaraharianpagi.id
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Mojokerto memperkuat upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dengan melibatkan pelajar sebagai agen Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Melalui program Duta Anti Narkoba Kota Mojokerto 2026, para pelajar diharapkan mampu menjadi penggerak edukasi antinarkoba di lingkungan sekolah dan pergaulan sebaya.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Grand Final Duta Anti Narkoba Kota Mojokerto 2026 yang digelar di Sabha Mandala Tama Kota Mojokerto, Senin malam (26/10).
Ajang perdana yang diinisiasi BNN Kota Mojokerto bersama Pemerintah Kota Mojokerto melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) ini menjadi salah satu upaya memperluas jangkauan edukasi bahaya narkoba di kalangan generasi muda.
Dalam ajang tersebut, Evan Ong, siswa SMA Katolik Santo Thomas Aquino, dan Silvia Nadhifa, siswi kelas XI SMKN 2 Kota Mojokerto, terpilih sebagai Duta Anti Narkoba Kota Mojokerto 2026. Sementara itu, Rovalia Fitri Riandini, siswi kelas X SMKN 2 Kota Mojokerto, meraih gelar Duta Anti Narkoba Persahabatan 2026.
Kepala BNN Kota Mojokerto AKBP Damar Bastiar Amarapit, S.T., mengatakan, keterlibatan pelajar merupakan langkah strategis untuk membangun kesadaran antinarkoba melalui pendekatan teman sebaya. Para duta diharapkan tidak sekadar menjalankan tugas seremonial, tetapi juga aktif menyampaikan edukasi dan mengajak generasi muda menjauhi penyalahgunaan narkotika.
“Harapannya, mereka ini akan menjadi agen-agen P4GN untuk mencegah dan menolak peredaran narkoba di wilayah Kota Mojokerto, terutama di kalangan teman sebaya di SMA,” ungkap Damar.
Menurutnya, pelibatan pelajar juga menjadi salah satu terobosan untuk memperluas jangkauan penyuluhan. Dengan jumlah personel yang terbatas, BNN membutuhkan dukungan berbagai pihak agar edukasi mengenai bahaya narkoba dapat menjangkau lebih banyak lingkungan pendidikan.
Selama ini, BNN Kota Mojokerto telah melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, termasuk melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan penerimaan peserta didik baru. Kehadiran para duta diharapkan dapat melanjutkan edukasi tersebut secara berkesinambungan melalui komunikasi antarpelajar.
“Dengan melibatkan adik-adik SMA ini, saya rasa menjadi salah satu terobosan penting agar mereka bisa memberikan penyuluhan kepada adik-adik kelasnya nanti,” jelasnya.
Damar menambahkan, persiapan program Duta Anti Narkoba Kota Mojokerto 2026 dilakukan bersama Pemerintah Kota Mojokerto dan Disporapar selama kurang lebih tiga bulan. Proses pendaftaran dimulai pada 10 Oktober 2026 hingga pelaksanaan grand final pada 26 Oktober 2026.
Ia berharap program tersebut dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sehingga semakin banyak generasi muda yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan keberanian untuk menolak penyalahgunaan narkoba.
Pencegahan Dimulai dari Generasi Muda
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menegaskan, pemilihan Duta Anti Narkoba bukan sekadar ajang mencari pelajar berprestasi, melainkan bagian dari upaya melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman penyalahgunaan narkotika.
Menurutnya, persoalan narkoba membutuhkan perhatian serius dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Peran BNN, kepolisian, dan pemerintah daerah perlu diperkuat dengan partisipasi aktif generasi muda, terutama dalam menyebarkan informasi dan membangun kesadaran di lingkungan pergaulan.

“Pemilihan Duta Anti Narkoba ini bukanlah sebuah ajang semata untuk mencari pemuda-pemuda yang punya talenta atau bakat tertentu. Lebih dari itu, ada hal yang sangat mendasar, yakni kegelisahan melihat betapa narkoba sudah menginvasi secara masif ke bangsa ini, tidak terkecuali di Kota Mojokerto,” ujar Ika dalam sambutannya.
Ia menilai, pencegahan harus menjadi prioritas agar masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, tidak sampai terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
Karena itu, para duta mendapatkan pembekalan yang mencakup pengetahuan tentang bahaya narkoba, psikologi, kesehatan mental, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, hingga keterampilan berbicara di depan umum.
Ika berharap, para duta mampu menjadi komunikator yang efektif di kalangan teman sebaya. Kedekatan usia dan kesamaan lingkungan pergaulan dinilai dapat membantu pesan pencegahan narkoba lebih mudah dipahami dan diterima.
“Para pemuda yang sebaya tentu bisa berkomunikasi dengan frekuensi yang sama. Harapan besar kita, generasi penerus bangsa ini bisa diselamatkan dari paparan narkoba melalui teman-teman sebaya mereka dengan komunikasi yang efektif,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa upaya pencegahan perlu dimulai sejak usia anak-anak. Menurutnya, perlindungan generasi muda tidak cukup hanya dilakukan ketika mereka memasuki usia remaja, tetapi harus dibangun lebih awal melalui edukasi dan pendampingan yang tepat.
“Harapan saya tidak hanya sesama pemuda, tetapi anak-anak juga perlu mendapat perhatian. Kita cegah sebelum mereka berbuat lebih jauh, kita jaga calon-calon pemimpin bangsa yang akan melanjutkan pembangunan di Kota Mojokerto tercinta,” katanya.
Penilaian Duta Tak Hanya Berorientasi Penampilan
Kepala Disporapar Kota Mojokerto Ani Wijaya, S.E., menjelaskan bahwa pemilihan Duta Anti Narkoba memiliki karakter berbeda dibandingkan ajang pemilihan duta lainnya. Penilaian tidak hanya berorientasi pada penampilan, tetapi juga mempertimbangkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, serta kesiapan peserta menjalankan tugas edukasi.
“Duta Anti Narkoba ini berbeda dengan duta-duta yang lainnya. Mereka tidak dipilih untuk kepentingan penampilan, tetapi bagaimana kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosionalnya. Hal itu sangat diperlukan ketika mereka menjalankan tugas,” kata Ani.
Ia menjelaskan, materi pembekalan dirancang untuk mendukung kemampuan para duta dalam menyampaikan pesan pencegahan narkoba secara tepat. Selain keterampilan berbicara di depan umum, peserta memperoleh wawasan kebangsaan, psikologi, kesehatan mental, dan kepemimpinan.
Dengan bekal tersebut, para duta diharapkan mampu memahami persoalan yang dihadapi teman sebaya, membangun komunikasi yang positif, serta mengajak generasi muda menjauhi narkoba tanpa pendekatan yang menghakimi.
Pemenang Siapkan Program Edukasi
Duta Anti Narkoba Kota Mojokerto 2026, Evan Ong, mengaku merasakan ketegangan, kebahagiaan, sekaligus haru ketika namanya diumumkan sebagai pemenang. Ia menyebut proses seleksi memiliki tantangan tersendiri, tetapi dukungan teman-teman sebaya membantunya melewati setiap tahapan.
“Perjuangan dari pendaftaran sampai akhirnya meraih juara pasti ada susah dan mudahnya. Berkat bantuan teman-teman sebaya, saya akhirnya bisa lolos,” ungkap Evan.
Setelah terpilih, Evan berkomitmen menjalankan program yang telah direncanakan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan generasi muda mengenai bahaya narkoba.
“Saya akan menjalankan program saya agar bisa terlaksana dan membantu anak-anak serta generasi muda untuk terus mencegah narkoba,” ujarnya.

Sementara itu, Silvia Nadhifa mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraihnya. Dukungan orang tua, teman-teman, serta usaha selama mengikuti proses seleksi menjadi bagian penting dalam keberhasilannya.
Silvia berencana menjalankan program bertajuk Rumah Pulang, yakni ruang bagi anak muda untuk bercerita dan menyampaikan persoalan yang dihadapi tanpa takut dihakimi.
“Saya berharap generasi muda di Kota Mojokerto memiliki kesadaran diri untuk menolak penggunaan narkoba. Ke depannya, saya akan menjalankan program kerja Rumah Pulang, yaitu ruang tempat mereka bisa bercerita tanpa dihakimi,” tutur Silvia.
Program tersebut diharapkan menjadi sarana komunikasi yang positif bagi generasi muda untuk mencari dukungan ketika menghadapi persoalan pribadi maupun sosial.
Selain pemenang utama, Rovalia Fitri Riandini meraih gelar Duta Anti Narkoba Persahabatan 2026. Ia berencana melanjutkan misi edukasi melalui podcast yang membahas bahaya narkoba dan akan diunggah melalui platform Spotify.
“Saya akan melanjutkan misi saya melalui podcast tentang bahaya narkoba. Ke depannya, podcast tersebut akan saya unggah di Spotify,” ungkap Rovalia.
Orang tua Rovalia, Bagus Prasojo, yang hadir bersama Ririn Eris, turut menyoroti pentingnya peran keluarga dalam mencegah anak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
Menurut Bagus, kedekatan emosional dan komunikasi terbuka antara orang tua dengan anak menjadi fondasi penting untuk membangun perlindungan di lingkungan keluarga.
“Dalam mendidik anak harus dengan pendekatan dan jangan sampai anak sakit hati,” ujarnya.
Ia mengaku selalu mengingatkan putrinya agar menjaga diri sekaligus peduli terhadap teman-temannya supaya terhindar dari narkoba. Baginya, anak perlu merasa nyaman saat berkomunikasi dengan orang tua sehingga tidak ragu menceritakan persoalan yang sedang dihadapi.
“Selama ini saya tekankan untuk menjaga diri dan menjaga teman supaya menghindari narkoba. Kami mendidik putri dengan pendekatan khusus antara orang tua dan anak di rumah. Jangan sampai putri saya terjebak dalam lingkaran narkoba,” tambahnya.
Melalui program Duta Anti Narkoba Kota Mojokerto 2026, BNN bersama pemerintah daerah berharap pesan pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat menjangkau lebih banyak pelajar dan masyarakat.
Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh pemilihan para duta, tetapi juga oleh keberlanjutan kegiatan edukasi yang mereka jalankan di sekolah maupun lingkungan masyarakat. Sinergi BNN, pemerintah daerah, kepolisian, sekolah, keluarga, dan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara sehat dan aman.
Dengan menjadikan pelajar sebagai mitra edukasi, upaya pencegahan diharapkan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda. Para duta pun diharapkan mampu menerjemahkan gelar yang diraih menjadi aksi nyata untuk meningkatkan kesadaran dan memperkuat penolakan terhadap penyalahgunaan narkoba di Kota Mojokerto. *ds




