Direksi BSN saat bertemu dengan Sekertaris Yayasan disela kegiatan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
PT Bank Syariah Nasional (BSN) memperluas penetrasi layanan keuangan syariah ke lingkungan pesantren. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi salah satu mitra strategis perseroan dalam mendorong penguatan ekosistem ekonomi syariah berbasis pesantren.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan kunjungan jajaran manajemen Bank BSN ke Kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kamis (27/8/2026). Pertemuan ini menjadi momentum untuk membangun sinergi dalam pengelolaan keuangan pesantren sekaligus memperluas pemanfaatan layanan perbankan syariah.
Direktur Utama Bank BSN Alex Sofjan Noor hadir bersama Kepala Divisi Network & Digital Sales Kurnia Muhamadi, Kepala Cabang Surabaya Munawar Sholihin, dan Kepala Cabang Malang Ata Nasrullah.
Rombongan manajemen BSN disambut Sekretaris Umum Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Khumaidi Abdillah Chisnulloh.
Alex mengatakan, pesantren memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi syariah karena memiliki ekosistem yang luas dan relatif kuat. Selain santri, ekosistem tersebut mencakup alumni, wali santri, tenaga pendidik, pengelola lembaga pendidikan, serta pelaku UMKM di sekitar pesantren.
“Pertemuan hari ini kami maknai bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan silaturahmi sekaligus awal dari ikhtiar bersama. Bank syariah harus hadir membawa keberkahan dan kebermanfaatan,” ujar Alex.
Ia menegaskan, Bank BSN ingin menempatkan pesantren bukan hanya sebagai pengguna produk perbankan, tetapi sebagai mitra dalam mengembangkan ekonomi umat.
“Kami melihat pesantren bukan hanya sebagai pengguna layanan keuangan syariah, tetapi juga pusat literasi dan penggerak ekonomi. Jika potensi ini tumbuh bersama ekosistem yang sehat, manfaatnya akan makin luas,” katanya.
Dalam kolaborasi tersebut, BSN menyiapkan berbagai layanan perbankan yang dapat menunjang kebutuhan operasional Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Layanan tersebut mencakup penempatan dana, fasilitas pembiayaan, hingga pengelolaan gaji karyawan melalui payroll.
BSN juga mendorong digitalisasi transaksi keuangan melalui penyediaan virtual account, Cash Management System (CMS), dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Digitalisasi tersebut diharapkan dapat membuat pengelolaan keuangan pesantren semakin efektif dan efisien. Di sisi lain, sistem transaksi digital juga dapat mendukung pencatatan serta transparansi pengelolaan keuangan.
Tidak hanya transaksi, kerja sama juga diarahkan pada peningkatan literasi keuangan syariah bagi komunitas pesantren. Edukasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman santri dan masyarakat mengenai pengelolaan keuangan yang sesuai prinsip syariah.
Perluasan ekosistem pesantren dilakukan di tengah pertumbuhan bisnis Bank BSN.
Hingga akhir Juli 2026, total aset perseroan tercatat mencapai Rp81,1 triliun. Sementara pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp62 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSN tercatat sebesar Rp64,1 triliun.
Kinerja tersebut turut menghasilkan laba bersih sebesar Rp643,6 miliar hingga akhir Juli 2026.
Angka tersebut menjadi modal bagi BSN untuk terus memperluas layanan dan memperkuat kemitraan dengan berbagai sektor strategis, termasuk lingkungan pesantren.
Untuk mendukung kebutuhan transaksi masyarakat, BSN juga mengembangkan platform digital Bale Syariah.
Alex menyebut aplikasi tersebut kini telah digunakan lebih dari 225 ribu pengguna aktif.
“Saat ini platform digital Bale Syariah telah digunakan oleh lebih dari 225 ribu pengguna aktif untuk berbagai kebutuhan, mulai dari transfer, pembayaran tagihan, layanan QRIS, zakat, infak, sedekah, hingga top-up Kartu Multi Trip KAI Commuter,” jelasnya.
Menurut Alex, transformasi digital menjadi bagian penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
Dengan menggandeng Pondok Pesantren Bahrul Ulum, BSN berharap terbentuk ekosistem yang menghubungkan kebutuhan lembaga pesantren, santri, alumni, wali santri, hingga pelaku usaha di sekitar pesantren.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemanfaatan produk perbankan, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang mampu mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan memperkuat pertumbuhan ekonomi syariah di Jawa Timur.(Dsy)




