Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan di acara pembukaan Muktamar NU ke-35.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – suaraharianpagi.id
Presiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak melupakan jasa para ulama, kiai, dan pesantren dalam sejarah perjuangan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri sekaligus membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Lapangan Untung Surapati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Di hadapan ribuan muktamirin dan keluarga besar NU, Prabowo menyampaikan penghormatan kepada para ulama yang dinilai memiliki peran besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Presiden mengingatkan bahwa meskipun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jakarta, perjuangan mempertahankan kemerdekaan kemudian menghadapi ujian besar dalam Pertempuran Surabaya pada Oktober-November 1945.
Dalam perjuangan tersebut, kata Prabowo, ulama, kiai dan pesantren memiliki peran yang sangat besar.
“Saya ingin menyampaikan penghormatan saya kepada para Kiai dan Ulama. Karena kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta. Tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dan dalam pertempuran Surabaya, Oktober, November 1945, peran dari Ulama, peran dari Kiai-Kiai, peran daripada pesantren sangat besar,” ujar Prabowo.
Berangkat dari catatan sejarah tersebut, Prabowo kemudian memperkenalkan istilah “Jas Hijau”.
Istilah tersebut merujuk pada ungkapan “Jas Merah” yang selama ini dikenal sebagai pesan Bung Karno agar bangsa Indonesia tidak melupakan sejarah.
Namun, Prabowo memberikan penekanan khusus agar masyarakat tidak melupakan kontribusi para ulama dalam perjalanan bangsa.
“Karena itu, saya ingin kalau pernah, kalau tidak salah Bung Karno ya, mengatakan jas merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Saya ingin menyampaikan jas hijau. Jangan sekali-sekali melupakan jasa ulama,” tegasnya.
Prabowo mengatakan penghormatan terhadap ulama tidak hanya diberikan kepada tokoh-tokoh yang dikenal luas oleh masyarakat.
Ia secara khusus mengapresiasi para kiai di pelosok daerah yang terus mengabdikan diri kepada masyarakat meskipun kiprahnya tidak selalu mendapat sorotan publik.
Menurut Prabowo, para kiai kampung memiliki peran penting dalam menjaga akhlak generasi muda serta merawat kerukunan di tengah masyarakat.
“Terima kasih kepada semua ulama. Yang terkenal maupun Kiai-Kiai kampung, yang mungkin namanya tidak pernah masuk televisi. Tapi setiap hari menjaga akhlak anak-anak kita,” ucapnya.
Prabowo juga menilai para ulama memiliki kontribusi besar dalam menjaga kerukunan umat maupun antarumat beragama.
Mereka, kata Prabowo, turut menjaga kedamaian di tingkat desa serta terus mendoakan bangsa tanpa mengharapkan imbalan dari negara.
“Menjaga kerukunan umat dan kerukunan antarumat. Menjaga kedamaian di desa. Dan mendoakan bangsa tanpa meminta apapun kepada negara. Terima kasih. Hormat saya kepada para Ulama semuanya,” lanjut Presiden.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar NU, mulai dari para kiai, nyai hingga santri dan santriwati.
Ia menilai kekuatan NU memiliki keterkaitan erat dengan kekuatan bangsa Indonesia. Karena itu, Prabowo berharap NU terus menjaga kerukunan dan persatuan.
“Terima kasih Nahdlatul Ulama, terima kasih para kiai, terima kasih para ibu-ibu nyai, terima kasih para santri-santriwati. NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berhikmat, Indonesia bermartabat,” tutur Prabowo.
Pesan tersebut disampaikan Prabowo dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU yang menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi.
Muktamar di Jombang menjadi momentum bagi keluarga besar NU untuk membahas berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan sekaligus menentukan arah organisasi untuk periode kepemimpinan berikutnya.
Melalui pesan “Jas Hijau”, Prabowo menekankan pentingnya bangsa Indonesia terus menghargai dan mengingat kontribusi ulama, kiai, serta pesantren dalam perjalanan sejarah Indonesia, baik dalam perjuangan kemerdekaan maupun dalam menjaga kehidupan sosial dan kerukunan masyarakat hingga saat ini.(Dsy)
