Siti Munawaroh, pengelola Warung Abang “Kesukaan Gus Dur” saat melayani pelanggan, Senin (24/8) malam. (Foto: Istimewa)
Jombang – suaraharianpagi.id
Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tak hanya menghadirkan aktivitas keagamaan dan organisasi, tetapi juga menghidupkan geliat kuliner di sejumlah kawasan di Kabupaten Jombang.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Warung Abang “Kesukaan Gus Dur” di kawasan Balongbesuk, Kecamatan Diwek. Lokasinya berada di jalur menuju Kompleks Pesantren Tebuireng dan makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Warung tersebut menjadi salah satu tempat yang kerap disambangi warga Nahdliyin dan peziarah. Bahkan, kawasan Balongbesuk dikenal warga dengan sebutan “Gang Kolesterol” karena banyaknya warung yang menyajikan nasi lodeh dengan kikil sapi.
Di tengah deretan warung kuliner, Warung Abang “Kesukaan Gus Dur” memiliki daya tarik tersendiri. Sajian kikil goreng dan kuah lodeh santan menjadi menu yang dikenal sebagai hidangan favorit Gus Dur.
Pengelola Warung Abang, Siti Munawaroh, mengatakan nama “Kesukaan Gus Dur” memiliki cerita tersendiri. Menurutnya, Gus Dur sudah menjadi pelanggan warung tersebut sejak usaha keluarga itu masih dikelola generasi sebelumnya.
Usaha kuliner tersebut awalnya dirintis pasangan Haji Latif dan Hajah Sampurni. Pengelolaan kemudian diteruskan orang tua Munawaroh, Haji Erman atau Cak Man bersama Hajah Siti Qoirumlah.
Kini, warung tersebut dikelola Munawaroh bersama dua saudaranya, Siti Munazilah dan Muhammad Idris.
Munawaroh menceritakan, ketika berkunjung ke Warung Abang, Gus Dur memiliki menu favorit yang hampir selalu dipesan, yakni kikil goreng dan lidah sapi yang disajikan bersama kuah lodeh santan dengan cita rasa gurih dan pedas.
Uniknya, Gus Dur disebut kerap menikmati menu tersebut tanpa nasi atau dimakan langsung sebagai lauk.
Kebiasaan itu dilakukan Gus Dur baik ketika belum menjadi presiden maupun setelah menjabat sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Setiap kali berkunjung, Gus Dur juga sering datang bersama rombongan santri ndalem atau orang-orang yang mendampinginya.
Setelah Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, para santri ndalem kemudian mengusulkan agar nama “Kesukaan Gus Dur” ditambahkan pada nama Warung Abang.
Usulan tersebut mendapat persetujuan dari keluarga Tebuireng. Sejak saat itu, nama tersebut melekat dan menjadi bagian dari identitas warung.
Nama “Kesukaan Gus Dur” kemudian semakin dikenal masyarakat, terutama para peziarah yang datang ke Tebuireng dan warga Nahdliyin yang ingin menikmati kuliner yang pernah menjadi kegemaran Gus Dur.
Momentum Muktamar ke-35 NU di Jombang turut memberikan dampak terhadap aktivitas Warung Abang. Kedatangan muktamirin dan peninjau dari berbagai daerah membuat jumlah pelanggan meningkat.
Untuk melayani pengunjung, jam operasional warung disesuaikan. Warung mulai buka lebih awal pada pukul 15.00 WIB dan melayani pelanggan hingga sekitar pukul 24.00 WIB, atau lebih cepat apabila persediaan makanan telah habis.
Munawaroh mengatakan kesibukan keluarga pengelola semakin meningkat menjelang pelaksanaan berbagai agenda Muktamar NU.
Bahkan, pada 29 Agustus 2026, Warung Abang akan menutup pelayanan untuk umum karena harus memenuhi pesanan khusus sebanyak 1.000 porsi kikil untuk kebutuhan acara Muktamar NU.
“Insya Allah kita buka jam 3 sore. Tutupnya menyesuaikan, bisa sampai jam 12 malam. Tapi nanti tanggal 29 kita tutup karena ada pesanan untuk acara Muktamar,” ujar Munawaroh, Senin (24/8) malam.
Bagi muktamirin maupun peziarah yang berkunjung ke kawasan Tebuireng, Warung Abang “Kesukaan Gus Dur” menjadi salah satu pilihan wisata kuliner yang menawarkan lebih dari sekadar cita rasa.
Semangkuk lodeh kikil di warung tersebut juga menghadirkan cerita tentang Gus Dur, keluarga, tradisi kuliner masyarakat Jombang, serta jejak perjalanan warga Nahdliyin yang datang ke Kota Santri. *ds
#muktamar #warungabang #peziarah #wisatakuliner #gusdur
