Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang XXX Kodim 0815 Mojokerto, Ny. Anjani Abi Swanjoyo pada kegiatan edukasi bertajuk “Peran Orang Tua dalam Menguatkan Karakter Remaja (Komunikasi Efektif) dan Tips Menjadi Remaja Berkarakter Hebat” yang digelar di Aula Kantor Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari. (suaraharianpagi.id/kodim0815)
Mojokerto – suaraharianpagi.id
Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang XXX Kodim 0815 Mojokerto, Ny. Anjani Abi Swanjoyo, kembali berbagi wawasan dalam kegiatan edukasi bertajuk “Peran Orang Tua dalam Menguatkan Karakter Remaja (Komunikasi Efektif) dan Tips Menjadi Remaja Berkarakter Hebat” yang digelar di Aula Kantor Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Minggu (21/6).
Kegiatan yang diselenggarakan Kelurahan Balongsari tersebut diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri dari kader motivator, anggota PKK, para remaja, serta tamu undangan.
Turut hadir Ketua TP PKK Kota Mojokerto Lina Desriana Arisandi, Camat Magersari Setiyo Budi Utomo, S.E., M.M., Lurah Balongsari Ageng Ardhyanto, S.STP., beserta istri, kader motivator, anak-anak PKK Kelurahan Balongsari, serta sejumlah undangan lainnya.
Dalam pemaparannya, Ny. Anjani yang juga berprofesi sebagai psikolog menekankan pentingnya sinergi antara orang tua dan remaja dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh, berakhlak, dan siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Menurutnya, proses pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan harus dibangun melalui hubungan yang harmonis dan komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
“Orang tua dan remaja harus berjalan bersama. Anak tidak bisa tumbuh sendiri tanpa pendampingan, dan orang tua juga perlu memahami perkembangan psikologis anak agar terjalin hubungan yang sehat dan saling mendukung,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang ditandai dengan perkembangan pola pikir yang semakin kritis, kondisi emosional yang dinamis, serta pengaruh lingkungan sosial yang semakin besar. Karena itu, kehadiran orang tua tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional sebagai tempat yang aman bagi anak untuk berbagi dan bertumbuh.
Ny. Anjani juga mengingatkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Keteladanan orang tua menjadi faktor utama dalam membentuk karakter dan perilaku sehari-hari.
“Cara paling mudah mendidik anak adalah dengan memberi contoh nyata. Anak akan meniru apa yang dilihat di rumah. Jika ingin anak memiliki sopan santun, menghargai orang lain, dan mampu mengendalikan emosi, maka orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku tersebut,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengulas tiga pola asuh yang umum diterapkan dalam keluarga, yakni permisif, otoriter, dan otoritatif. Menurutnya, pola asuh otoritatif merupakan pendekatan yang paling ideal karena mampu menyeimbangkan kasih sayang, aturan, dan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat.
Selain membahas pola asuh, materi juga difokuskan pada pentingnya pengelolaan emosi bagi orang tua maupun remaja. Peserta diperkenalkan dengan konsep zona emosi hijau, biru, kuning, dan merah sebagai cara mengenali kondisi psikologis diri. Mereka juga diajak mempraktikkan teknik pernapasan sederhana untuk membantu mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan maupun konflik.
Pada sesi komunikasi efektif, peserta mendapatkan pemahaman tentang pentingnya mendengarkan secara aktif, menjaga kontak mata, tidak memotong pembicaraan, serta menghindari sikap menghakimi saat berkomunikasi.
Menurut Ny. Anjani, komunikasi yang baik menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan keluarga yang harmonis dan penuh empati.
Sebagai bentuk praktik langsung, para peserta yang terdiri dari orang tua dan remaja diminta berdialog secara terbuka mengenai harapan, kekhawatiran, kelebihan, serta berbagai hal yang ingin diperbaiki dalam hubungan keluarga mereka.
Sesi tersebut berlangsung hangat dan penuh haru. Beberapa peserta mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai perasaan anak maupun orang tua yang selama ini belum pernah diungkapkan secara terbuka.
Salah satu peserta, Lida (48), mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut karena menjadi sarana untuk mempererat komunikasi dengan anak remajanya.
“Saya baru menyadari bahwa beberapa sikap yang selama ini saya anggap biasa ternyata meninggalkan luka emosional bagi anak. Melalui kegiatan ini kami bisa saling memahami, bahkan saling meminta maaf,” ungkapnya.
Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan para orang tua dan remaja mampu membangun komunikasi yang lebih sehat, meningkatkan empati dalam keluarga, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan berakhlak mulia. *ds
Tag :
#kodim0815/mojokerto #pendim0815/mojokerto
