Kepala dinas kesehatan kabupaten Kediri saat memberikan sambutan.(Suaraharianpagi.id/red)
Kediri – Suaraharianpagi.id
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mendorong penguatan peran masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC). Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui peningkatan kapasitas Tim Penggerak (TP) PKK dan kader posyandu.
Kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri tersebut berlangsung di Gedung Bagawanta Bhari, Selasa (9/12), dan diikuti ratusan peserta. Mereka terdiri dari Ketua TP PKK kecamatan, TP PKK desa, kader posyandu, serta petugas promosi kesehatan puskesmas se-Kabupaten Kediri.
Bupati yang akrab disapa Mas Dhito menegaskan, keberhasilan program pencegahan dan penanggulangan TBC tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Menurutnya, pelibatan mitra potensial pemerintah, termasuk partisipasi aktif masyarakat, menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
Pelibatan TP PKK dan kader posyandu sebagai ujung tombak gerakan pencegahan dan penanggulangan TBC diharapkan mampu menjangkau hingga tingkat desa, sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
“Arahan Mas Bupati jelas, TP PKK dan kader posyandu harus bergerak sampai ke akar rumput agar program pencegahan dan penanggulangan TBC berjalan efektif,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Ahmad Khotib.
Atas dorongan tersebut, lanjut Ahmad Khotib, para kader diharapkan mampu melakukan deteksi dini terhadap warga yang bergejala TBC, sekaligus memberikan edukasi serta pendampingan pengobatan ke puskesmas.
Langkah ini dinilai efektif untuk menekan angka penularan di lingkungan keluarga. Di Kabupaten Kediri, terdapat sekitar 2.500 penderita TBC yang saat ini masih menjalani masa pengobatan.
“Berkat kebijakan Mas Dhito, seluruh pengobatan TBC diberikan secara gratis. Pemerintah daerah juga menjalankan program jemput bola untuk menjangkau penderita maupun keluarga dengan kontak erat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Khotib juga menyampaikan pesan Mas Dhito agar masyarakat tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC. Ia menegaskan, TBC bukan penyakit kutukan, melainkan penyakit menular yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan tuntas.*red
