Penelusur sejarah, Arif Yulianto atau Cak Arif saat bersama cucu Bung Karno, Romy Soekarno di Ndalem Pojok, Wates, Kediri, tahun 2025 lalu. n istimewa.(Suaraharianpagi.id/dsy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Pemerhati sejarah asal Jombang, Arif Yulianto, mengaku telah menelusuri jejak sejarah kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang diyakini lahir di Ploso, wilayah Karesidenan Surabaya pada 6 Juni 1902. Kini, wilayah tersebut secara administratif masuk Kabupaten Jombang.
Penelusuran sejarah itu dilakukan Arif hampir selama satu dekade terakhir melalui berbagai riset, diskusi, hingga pencarian sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan masa kecil Sang Proklamator.
Arif mengisahkan, perjalanan penelitiannya bermula dari perkenalannya dengan peneliti mandiri sejarah Panji, Semar Suwito, yang kini telah wafat. Pertemuan keduanya terjadi dalam sebuah acara di Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 2015.
“Setelah berkenalan dengan Pak Semar, kami sering berkomunikasi lewat telepon. Sekitar tahun 2016, beliau mengajak saya ke Ndalem Pojok Wates Kediri untuk menghadiri sebuah acara budaya,” ujar Arif, Sabtu (7/3).
Menurut Arif, Semar Suwito pula yang pertama kali mengenalkannya dengan Ndalem Pojok Wates Kediri, sebuah situs yang berkaitan dengan perjalanan hidup Bung Karno.
Sejak saat itu, Arif mengaku semakin intens mengunjungi lokasi tersebut. Bahkan, dalam beberapa kesempatan dirinya diperbolehkan menginap di kawasan Situs Persada Soekarno di Kediri.
“Beberapa kali saya dipersilakan tidur di kamar yang dahulu digunakan Bung Karno saat remaja oleh keluarga Ndalem Pojok,” ungkapnya.
Pada 2019, Arif mulai menuliskan hasil penelusurannya mengenai sejarah Bung Karno dan Ploso melalui sejumlah artikel di surat kabar tempatnya bekerja sebagai wartawan. Namun pada masa awal itu, sumber informasi yang dapat memberikan keterangan masih sangat terbatas.
“Saat itu narasumbernya di antaranya Mas Kushartono dari keluarga Ndalem Pojok Wates Kediri dan Mas Dian Sukarno, penulis buku Candradimuka,” kenang Arif.
Tidak berhenti di situ, Arif bersama sejumlah koleganya kemudian mengangkat tema tersebut dalam forum diskusi yang digelar di musala Pondok Pesantren Jatiwates, Tembelang, Jombang pada tahun yang sama. Sejumlah tokoh turut hadir dalam diskusi tersebut.
Selanjutnya, sekitar Oktober 2019, Arif menyampaikan informasi mengenai sejarah Bung Karno dan Ploso kepada sastrawan Binhad Nurrohmat dalam acara peringatan Hari Santri di Universitas Hasyim Asy’ari (Unwaha) Tambakberas, Jombang.
Menurut Arif, penelusuran yang dilakukan Binhad Nurrohmat bersama keluarga Situs Persada Soekarno Kediri kemudian menemukan sejumlah jejak penting, di antaranya makam Mbok Suwi yang dikenal sebagai pengasuh Bung Karno semasa kecil beserta keluarganya.
“Mereka juga menemukan makam Mbah Joyodipo, yang disebut sebagai teman masa kecil Bung Karno di Ploso,” jelasnya.
Arif menambahkan, penelusuran sejarah yang dilakukannya semakin menemukan titik terang setelah dirinya menemukan foto seorang saksi kelahiran Bung Karno yang dikenal sebagai Kek Suro atau Mas Kiai Surosentono. Foto tersebut ditemukan di wilayah Kabuh, Jombang.
Penemuan itu menjadi penting karena sebelumnya nama Kek Suro masih menjadi misteri. Informasi mengenai sosok tersebut sebelumnya hanya diperoleh dari cerita keluarga Situs Persada Soekarno Kediri yang menyebutkan bahwa ia merupakan saksi kelahiran Bung Karno.
“Ketika foto Kek Suro ditemukan, seolah menjawab misteri yang selama ini kami cari,” kata Arif.
Perjalanan penelitian itu semakin berkembang setelah Arif lolos asesmen Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) di Jakarta pada 2022 dan resmi diangkat sebagai anggota TACB Kabupaten Jombang melalui Surat Keputusan Bupati Jombang pada 2023.
Sebagai anggota TACB, Arif kemudian menyarankan agar narasi sejarah mengenai kelahiran Bung Karno di Ploso didaftarkan secara resmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang agar dapat dikaji secara akademis.
Usulan tersebut akhirnya ditindaklanjuti. Pada akhir 2023, pihak Situs Persada Soekarno Kediri secara resmi mendaftarkan kajian sejarah tersebut kepada Disdikbud Kabupaten Jombang.
“Pada 2024, TACB Kabupaten Jombang melakukan kajian secara resmi. Kami juga melakukan penelusuran dengan menemui keluarga Bung Karno yang berada di Blitar, Kediri, Bali hingga Jakarta,” jelas Arif.
Hasil kajian tersebut akhirnya melahirkan rekomendasi penting. Sekitar September 2024, TACB Kabupaten Jombang mengeluarkan rekomendasi agar Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.
Selain itu, Arif menyebut narasi sejarah mengenai kelahiran Bung Karno di Ploso juga telah disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada 2025.
Kajian tersebut juga telah disampaikan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, bahkan secara langsung diserahkan kepada Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam sebuah kesempatan di Surabaya.
Arif berharap hasil penelusuran sejarah tersebut dapat memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah.
“Harapannya, Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang dapat ditetapkan sebagai cagar budaya. Sekaligus menjadi upaya pelurusan sejarah mengenai tempat dan waktu kelahiran Sang Proklamator secara terstruktur, sistematis, dan masif,” pungkasnya.(Dsy)
Tag:
#Jejaksejarahpresidenripertama #Jejaksejarahkelahiranbungkarno #Bungkarnolahirdiplosojombang #Situskelahiranbungkarno #Kelahiransangproklamator #Jejakproklamator
