Sastrawan dan penyair Taufiq Ismail.(Foto: Dokumen kementerian kebudayaan RI)
Jakarta – Suaraharianpagi.id
Upaya mengusung penyair Taufiq Ismail sebagai kandidat penerima Nobel Sastra 2027 mulai diperkuat melalui jejaring kebudayaan dan sastra di tingkat internasional.
Kementerian Kebudayaan RI bersama Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) menggelar Sosialisasi dan Konsolidasi Pengusulan Taufiq Ismail sebagai Kandidat Penerima Nobel Sastra 2027 secara daring, Kamis (26/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah konsolidasi untuk memperluas dukungan sekaligus memperkenalkan karya dan kiprah Taufiq Ismail kepada komunitas sastra, akademisi, serta jejaring kebudayaan di berbagai negara.
Forum diikuti Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Taufiq Ismail, jajaran HISKI, perwakilan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di berbagai negara, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, serta sejumlah sastrawan dan praktisi sastra Indonesia.
Staf Khusus Menteri Kebudayaan Annisa Rengganis yang juga menjadi Ketua Tim Kerja Pengusulan Nobel Sastra 2027 mengatakan, tim kerja telah dibentuk sejak Juni 2026 dengan melibatkan berbagai unsur.
Di antaranya HISKI, Minang Diaspora, komunitas sastra, Kementerian Kebudayaan, dan Kementerian Luar Negeri.
“Sudah sejak bulan Juni 2026, kami membentuk tim kerja yang tergabung dari berbagai pihak untuk sama-sama menyiapkan pengusulan sastrawan Taufiq Ismail sebagai nominator Nobel Sastra 2027,” ujar Annisa.
Menurutnya, salah satu langkah yang telah dilakukan adalah membangun situs resmi Taufiq Ismail melalui taufiqismail.id. Situs tersebut disiapkan sebagai salah satu sarana untuk memperkenalkan sosok dan karya Taufiq Ismail kepada publik secara lebih luas.
Kontennya antara lain memuat biografi, daftar karya multibahasa, e-book kajian akademik, serta rekam jejak digital Taufiq Ismail.
Annisa menegaskan, forum konsolidasi tersebut juga dimaksudkan untuk menyamakan pemahaman, menghimpun masukan dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, serta menyusun langkah strategis untuk memperkuat promosi karya Taufiq Ismail di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retno Astuti mengatakan, penguatan jejaring internasional menjadi salah satu bagian penting dalam upaya tersebut.
Kementerian Kebudayaan, kata dia, terus membangun komunikasi dengan Atdikbud di berbagai negara, komunitas sastra global, serta akademisi di luar negeri.
“Kami dari Kementerian Kebudayaan memandang pengusulan Taufiq Ismail sebagai nominator Nobel Sastra sudah sangat layak. Ini didasarkan pada rekam jejak kepenyairannya yang dinilai memiliki bobot estetis, dampak sosial, dan signifikansi kultural yang setara dengan para pemenang Hadiah Nobel Sastra tingkat dunia,” kata Endah.
Pembahasan mengenai rekam jejak Taufiq Ismail kemudian diperdalam melalui forum diskusi bertajuk “Dari Indonesia untuk Dunia: Menguatkan Dukungan bagi Taufiq Ismail Menuju Nobel Sastra.”
Forum menghadirkan sastrawan dan kritikus sastra Maman S. Mahayana serta akademisi sastra dan Ketua Umum HISKI Prof. Dr. Novi Anoegrajekti. Diskusi dipandu Dr. Sastri Sunarti Sweeney dari Bidang Kerja Sama HISKI.
Maman S. Mahayana menyampaikan bahwa perjalanan kepenyairan Taufiq Ismail telah berlangsung panjang. Menurutnya, Taufiq juga konsisten menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan melalui puisi dan berbagai aktivitas kesastraan.
Kiprah tersebut antara lain terlihat dari keterlibatannya dalam majalah sastra Horison serta program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya.
“Puisi-puisinya kritis dan satiris dalam menyoroti berbagai aspek kehidupan berbangsa: mewakili suara masyarakat, populer dan hidup di berbagai kalangan masyarakat,” ujar Maman.
Prof. Novi Anoegrajekti mengatakan, salah satu alasan HISKI mengusung Taufiq Ismail adalah karena karya-karyanya telah berkembang dalam berbagai bentuk apresiasi dan kajian.
Puisi-puisinya, kata dia, telah dialihwahanakan melalui musikalisasi puisi dan pembacaan puisi, menjadi objek penelitian sastra, serta diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa.
Beberapa di antaranya adalah bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Mandarin, dan Arab.
HISKI juga tengah menyiapkan buku antologi kajian bersama yang membahas karya dan kiprah Taufiq Ismail. Buku tersebut direncanakan melibatkan 50 profesor, 25 doktor, dan lima magister.
Selain penerbitan buku, HISKI sejak Juni 2026 telah menghimpun poster dukungan dari berbagai lembaga dan komunitas sastra serta menyelenggarakan sejumlah webinar yang membahas karya-karya Taufiq Ismail.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas diseminasi karya Taufiq Ismail sekaligus memperkuat pengenalan sastra Indonesia di tingkat internasional.
Dalam sesi diskusi, sejumlah perwakilan Atdikbud turut menyampaikan pandangan mengenai karya Taufiq Ismail.
Perwakilan Atdikbud Kairo, Abdul Mutaali, salah satunya menyampaikan bahwa puisi-puisi Taufiq Ismail menjadi salah satu materi yang dipelajari dalam program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Mesir.
Sejumlah perwakilan Atdikbud lainnya serta para praktisi sastra yang hadir juga memberikan masukan mengenai strategi yang dapat dilakukan untuk memperkuat promosi karya Taufiq Ismail di luar negeri.
Konsolidasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian upaya Kementerian Kebudayaan dan HISKI dalam menyiapkan pengusulan Taufiq Ismail sebagai kandidat penerima Nobel Sastra 2027 sekaligus memperluas pengenalan karya sastra Indonesia kepada masyarakat internasional.(Dsy)
