Ketua Umum Yakuza Maneges Gus Tuba Topo Broto Maneges saat menyerahkan bendera organisasi kepada ketua wilayah Jombang-Mojokerto H. Maulana Syahidduzzaman.(Suaraharianpagi.id/Desy)
Jombang – Suaraharianpagi.id
Organisasi sosial Yakuza Maneges wilayah Jombang-Mojokerto resmi mendeklarasikan diri di Ruang Bung Tomo, Kantor Pemerintah Kabupaten Jombang, Sabtu (26/9/2026) malam.
Tak sekadar membentuk kepengurusan, organisasi yang berada di bawah naungan Majelis Semaan Alquran dan Dzikrul Ghofilin tersebut langsung menyiapkan sejumlah agenda sosial dan kemanusiaan.
Pendampingan persoalan hukum, perhatian terhadap kekerasan seksual, hingga penyaluran bantuan air bersih menjadi sejumlah program yang akan dikembangkan.
Deklarasi yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB itu dihadiri perwakilan Bupati Jombang, Forkopimda, perwakilan anggota DPRD, media, perguruan silat, serta sejumlah LSM dan elemen masyarakat.
Ketua Yakuza Maneges Jombang-Mojokerto, H. Maulana Syahidduzzaman, S.E., M.M., mengatakan langkah pertama setelah deklarasi adalah menyusun program kerja melalui rapat kerja organisasi.
“Dalam waktu dekat salah satunya kita akan menggelar rapat kerja sebagai tanggung jawab keorganisasian. Setelahnya kita akan melaksanakan program-program kerja tersebut. Ada berbagai rencana program, baik itu di bidang sosial maupun di permasalahan-permasalahan hukum yang mutakhir di wilayah Jombang-Mojokerto,” ujar Maulana.
Menurutnya, keberadaan organisasi tidak mungkin berjalan sendiri. Karena itu, Yakuza Maneges akan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan penegakan keadilan.
“Yang pasti Yakuza Maneges tidak bisa sendirian. Yang diperlukan adalah sinergi dengan beberapa pihak. Kita berhubungan baik, kita kolega kuat dengan beberapa entitas di wilayah Jombang-Mojokerto dalam satu visi, dalam satu misi adalah tegaknya keadilan di wilayah Jombang-Mojokerto,” katanya.
Maulana menyebut salah satu persoalan yang menjadi perhatian Yakuza Maneges adalah kekerasan seksual, termasuk kasus yang melibatkan anak di bawah umur dan kekerasan seksual di lingkungan pesantren.
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi salah satu konsen organisasi karena membutuhkan perhatian, pendampingan, dan sinergi berbagai pihak.
“Jika ada kekerasan seksual di pesantren, beberapa kekerasan seksual di bawah umur, kemudian beberapa hal yang sifatnya kasuistis, itu akan menjadi konsen. Salah satunya adalah kekerasan seksual di pesantren,” jelasnya.
Selain pendampingan terhadap persoalan hukum, Yakuza Maneges juga akan menjalankan kegiatan sosial secara langsung. Salah satunya berupa penyaluran bantuan air bersih bagi warga yang terdampak kekeringan pada musim kemarau.
“Penyaluran bantuan air bersih di musim kemarau ini juga akan menjadi satu kegiatan sosial yang menduplikasi apa yang sudah kita lakukan di beberapa wilayah lain,” ungkap Maulana.
Yakuza Maneges memiliki filosofi yang cukup berbeda dari kesan yang muncul dari nama organisasinya. Yakuza merupakan akronim dari Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.
Sementara itu, Maneges merupakan nama akhir dari pimpinan organisasi, Gus Tuba, yang juga dimaknai sebagai istilah Jawa kuno tentang upaya memusatkan jiwa dan raga kepada Sang Pencipta.
Organisasi tersebut berdiri di bawah naungan Majelis Semaan Alquran dan Dzikrul Ghofilin yang dirintis oleh almarhum KH Kholil Jazuli atau Gus Miek.
Tujuan utama Yakuza Maneges adalah amar makruf nahi mungkar, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Organisasi ini membawa visi menjaga yang lemah, membela yang benar, serta membenahi yang salah.
Misinya diarahkan pada bidang kemanusiaan dan keadilan sosial, termasuk merangkul masyarakat awam dan lintas agama serta membantu masyarakat yang menghadapi persoalan hukum, fisik, maupun mental.
Yakuza Maneges juga menyatakan diri sebagai organisasi nonpartisan dan siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan keadilan di tengah masyarakat maupun lingkungan pesantren.
Untuk menjaga integritas anggotanya, organisasi menetapkan sejumlah kode etik. Di antaranya menjaga nama baik Yakuza Maneges, menjunjung tinggi loyalitas dan solidaritas, serta tidak membawa nama organisasi untuk kepentingan pribadi, tindak kriminal, maupun kepentingan politik.
Anggota juga dilarang menggunakan atribut organisasi untuk kegiatan LSM lain, aksi demonstrasi, maupun kampanye. Larangan melakukan tindakan melanggar hukum dan asusila, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, juga menjadi bagian dari kode etik tersebut.
Sementara itu, Asisten III Setdakab Jombang Syaiful Anwar, S.T., M.E., yang mewakili Bupati Jombang Warsubi, menyampaikan apresiasi atas deklarasi Yakuza Maneges.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jombang, kami menyampaikan apresiasi atas terbentuknya organisasi masyarakat yang bersifat sosial, religius, Yakuza Maneges wilayah Jombang-Mojokerto. Semoga organisasi ini berjalan dengan baik, membawa manfaat serta menjadi wadah masyarakat untuk bersama-sama memperbaiki diri dan berbuat kebaikan,” ujar Syaiful.
Ia mengatakan, nama Yakuza Maneges memang sempat menarik perhatian karena istilah Yakuza selama ini identik dengan organisasi mafia Jepang. Namun, Yakuza Maneges memiliki makna berbeda.
Yakuza merupakan akronim dari Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi, sedangkan Maneges dimaknai sebagai jernih atau bening.
“Nama ini menggambarkan sebuah perjalanan dari kondisi yang mungkin penuh dengan persoalan, kemudian berusaha membersihkan diri dan menemukan kejernihan dalam sebuah kehidupan,” katanya.
Menurut Syaiful, semangat tersebut sejalan dengan upaya merangkul masyarakat marginal, termasuk mereka yang pernah terjerumus dalam persoalan sosial namun masih memiliki keinginan untuk memperbaiki diri.
“Orang yang pernah jatuh tetap mempunyai kesempatan untuk bangkit. Yang dibutuhkan adalah pendampingan,” ujarnya.
Namun, Syaiful mengingatkan agar deklarasi tersebut tidak berhenti sebagai seremoni. Setelah organisasi resmi berdiri, hal yang lebih penting adalah bagaimana keberadaannya dapat dijalankan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia berharap Yakuza Maneges ikut menjaga ketertiban, menghormati aturan, serta membangun komunikasi dengan pemerintah, aparat penegak hukum, dan seluruh elemen masyarakat.
“Organisasi kemasyarakatan tentunya mempunyai kebebasan untuk berkegiatan dan menyampaikan aspirasi serta menjalankan program-programnya. Namun semua itu harus berjalan sesuai dengan ketentuan hukum, serta menjaga ketenteraman dan kenyamanan masyarakat,” tegasnya.
Syaiful juga berharap nama Yakuza Maneges yang terdengar tegas justru mampu melahirkan gerakan sosial yang sejuk dan konstruktif.
“Saya berharap nama yang terdengar garang ini justru bisa melahirkan gerakan-gerakan yang adem, jernih, dan membawa manfaat,” katanya.
Pemkab Jombang, lanjut Syaiful, terbuka membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat. Ia berharap seluruh kekuatan masyarakat dapat bersinergi menjaga keamanan dan membangun Jombang.
“Semoga langkah yang dimulai malam hari ini bisa menjadi awal dari perjalanan yang baik, niat untuk memperbaiki diri, tumbuh kepedulian kepada sesama, dan kepedulian itu lahir dari gerakan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.(Dsy)
